PDIP: Komunitas pegiat lingkungan harus terus merawat pertiwi
Daftar Isi
Komunitas Mangrove Malang Selatan Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Hijau
Menggalangkebaikan.com – PDIP – Upaya menjaga pesisir di Malang Selatan diarahkan bukan hanya pada penanaman mangrove, tetapi juga pada pembentukan kelompok warga yang mampu mengelola lingkungan secara mandiri sekaligus memperoleh manfaat ekonomi. Gagasan tersebut mengemuka dalam Workshop UMKM Gotong Royong dan Deklarasi Komunitas Pegiat Lingkungan Mangrove yang dihadiri Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto pada Jumat, 16 Oktober.
Kegiatan dimulai di wilayah Malang Selatan, lalu dilanjutkan ke Pantai Teluk Asmara. Ratusan warga, termasuk nelayan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, telah berkumpul untuk mengikuti rangkaian pelatihan yang dirancang sesuai kebutuhan kelompok masing-masing.
Hasto menekankan bahwa gerakan merawat pertiwi yang dijalankan PDI Perjuangan tidak berhenti setelah bibit pohon ditanam. Keberlanjutan gerakan ditentukan oleh komunitas lokal yang merawat kawasan, mengembangkan usaha, serta membangun kerja sama di lingkungannya sendiri.
“Bagi PDI Perjuangan, kami sudah setiap hampir setiap tahun itu kami mengadakan merawat pertiwi dengan menanam mangrove kemudian dengan penghijauan. Rata-rata per tahun itu ada 234.000 pohon yang ditanam oleh kader-kader PDI Perjuangan,” kata Hasto.
Pelatihan untuk Anak Muda, Ibu-Ibu, dan Nelayan
Workshop di Pantai Teluk Asmara dibagi ke dalam tiga kelompok. Peserta muda mendapat pembekalan mengenai persiapan perdagangan karbon, pengolahan sampah, dan pembuatan suvenir dari limbah kayu. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa sampah pesisir dapat memiliki nilai baru ketika diolah menjadi produk kreatif.
Kelompok ibu-ibu mengikuti pelatihan pengolahan makanan yang memanfaatkan hasil laut. Sementara itu, nelayan mempelajari silvofishery serta penggunaan keramba jaring apung. Silvofishery merupakan pola budidaya perikanan pesisir yang menyandingkan usaha tambak, seperti bandeng, udang, atau kepiting, dengan penanaman dan pelestarian mangrove dalam satu kawasan.
Skema tersebut membuka kemungkinan bagi masyarakat pesisir untuk tetap memperoleh penghasilan tanpa menjadikan pemulihan ekosistem sebagai beban terpisah. Perlindungan mangrove dapat berjalan seiring dengan perikanan, kegiatan wisata, pengolahan produk, dan jasa lingkungan.
“Tetapi yang paling penting dari cerita ini adalah ketika kita membangun suatu ide imajinasi bahwa kita bisa secara berdikari bergotong royong dengan komunitas yang ada di sekitar kita melakukan sesuatu yang berguna bagi lingkungan ternyata itu juga mendatangkan suatu rahmat bagi peningkatan taraf kehidupan itu,” ujar Hasto.
Ia melihat model berbasis warga tersebut dapat menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar tanpa menambah kerusakan alam. Di tengah target pemerintah menciptakan 19 juta pekerjaan baru dan optimisme Menteri Ketenagakerjaan bahwa sasaran itu dapat dicapai pada 2029, inisiatif pesisir seperti di Malang Selatan menawarkan jalur pekerjaan yang tumbuh dari perawatan lingkungan.
Peluang kerja itu dapat mencakup pemandu ekowisata, penyedia bibit mangrove, tenaga perawatan kawasan, pengolah sampah, pembuat cendera mata, hingga pelaku silvofishery. Dengan demikian, konservasi tidak hanya dipahami sebagai kegiatan penanaman, melainkan sebagai ekosistem ekonomi yang melibatkan banyak peran warga.
Menggabungkan Skala Kecil untuk Pasar Karbon
Ketua Bidang Koperasi dan UMKM DPP PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo menilai komunitas-komunitas kecil di Malang Selatan memiliki nilai ekonomi yang belum sepenuhnya dihitung. Salah satu potensinya berada pada jasa serapan karbon dari ekosistem mangrove.
Ia menyinggung pertemuan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di Washington pada April lalu. Dalam forum tersebut, pembeli karbon dari Nvidia dan Tencent mengajukan pertanyaan mengenai ketersediaan unit berbasis komunitas di Indonesia.
“Mereka kemudian menanyakan itu adalah dari Nvidia, Nvidia itu salah satu perusahaan AI terbesar, dan Tencent mengatakan, apakah di Indonesia itu tidak ada yang berbasis komunitas?” ujar Andreas.
Jawaban yang ditawarkan adalah menyatukan berbagai kelompok kecil agar memiliki skala yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar. Satu komunitas mungkin memiliki luasan terbatas, tetapi gabungan banyak komunitas dapat membentuk kapasitas yang lebih besar dan lebih mudah diperhitungkan dalam skema ekonomi karbon.
“Karena kalau hanya skala, ya, yang kecil-kecil ini kalau dikumpulkan kan jadi besar,” kata Andreas.
Ia juga menyampaikan bahwa nilai karbon dari kawasan tersebut belum pernah dibayarkan, padahal harga minimum satu ton karbon saat ini disebut mencapai 20 dolar AS. Bagi komunitas pesisir, pembahasan karbon menjadi penting karena membuka kemungkinan sumber pembiayaan tambahan untuk pemeliharaan kawasan yang selama ini banyak bergantung pada kerja warga.
Pemulihan Clungup melalui Ekowisata
Penggerak Clungup Mangrove Conservation, Saptoyo, memaparkan perubahan di kawasan Pantai Clungup yang pernah mengalami kerusakan berat akibat pembalakan pada 1998 hingga 2003. Upaya pemulihan dimulai pada 2005 melalui gerakan para simpatisan.
Pada tahap awal, rehabilitasi yang berfokus pada penanaman mampu memulihkan sekitar 5,5 hektare per tahun. Keterlibatan anak muda serta pengembangan pariwisata kemudian mempercepat proses tersebut. Dalam sepuluh tahun berikutnya, capaian rehabilitasi meningkat hingga rata-rata 10,3 hektare setiap tahun.
“Kalau kami rehabilitasi hanya nanam saja Pak, kami satu tahunnya itu dapat 5,5 hektar, nanam doang. Kemudian coba diintervensi oleh anak-anak muda dan akhirnya 10 tahun berikutnya kami bisa menyelesaikan tiap tahunnya 10,3 hektar dengan melibatkan pariwisata,” kata Saptoyo.
Penanaman di area mangrove seluas 81 hektare telah selesai pada 2026. Fokus kawasan kini bergeser dari penambahan tanaman menuju perawatan agar mangrove dapat tumbuh kuat dan memberi manfaat jangka panjang bagi pesisir.
“Kita tinggal menunggu besarnya saja, merawat. Konsennya merawat, penanaman sudah selesai,” ujarnya.
Penghitungan serapan karbon pada 2021 yang dilakukan bersama Universitas Gadjah Mada mencatat 3.856 ton dari pohon ke atas. Angka tersebut menegaskan bahwa pemulihan mangrove tidak hanya berkaitan dengan lanskap pantai, tetapi juga dengan kemampuan ekosistem menyimpan karbon, menopang kehidupan pesisir, dan membuka ruang usaha bagi masyarakat yang menjaganya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is PDIP?
PDIP is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does PDIP matter?
PDIP matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.