KSAL sebut perawatan Scorpene lebih mudah dibanding kapal selam lain
Daftar Isi
Scorpene Diproyeksikan Jadi Lompatan Baru Kemampuan Kapal Selam TNI AL
Menggalangkebaikan.com – Pengembangan kapal selam Scorpene di dalam negeri disertai target penting: kesiapan perawatan, infrastruktur, serta personel pengawak sebelum kapal itu diproyeksikan beroperasi penuh pada 2034. Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, menyatakan penggunaan baterai lithium-ion menjadi salah satu aspek yang membuat pemeliharaan kapal selam baru tersebut lebih praktis dibanding armada kapal selam yang telah dimiliki Indonesia.
Scorpene direncanakan menjadi kapal selam pertama Indonesia yang memakai sumber daya Lithium-Ion Battery. Teknologi ini berbeda dari baterai lead-acid yang digunakan pada kapal selam sebelumnya. Perbedaan sistem tenaga itu menjadi pertimbangan utama dalam penyusunan kebutuhan perawatan dan pembinaan kemampuan teknis di lingkungan TNI AL.
“Kapal selam Scorpene ini kan menggunakan Lithium-Ion Battery. Dibandingkan dengan kapal selam sebelumnya yang menggunakan Lead-Acid battery, itu sebenarnya pemeliharaannya akan lebih mudah,” kata Ali saat jumpa pers di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Jakarta Selatan, Rabu.
Infrastruktur Disiapkan Sejak Masa Pembangunan
Ali belum merinci komponen teknis yang membuat perawatan Scorpene lebih sederhana. Namun, ia menekankan bahwa langkah persiapan tidak hanya menunggu kapal selesai dibangun. PT PAL Indonesia, TNI AL, dan Naval Group telah menyiapkan kebutuhan pendukung agar pekerjaan perawatan mesin dapat dilakukan di Indonesia.
Fasilitas pendukung tersebut dibangun oleh PT PAL dengan mengacu pada standar yang ditetapkan Naval Group, perusahaan asal Prancis yang terlibat dalam pembangunan Scorpene. Kesiapan fasilitas menjadi bagian penting karena kapal selam membutuhkan dukungan teknis khusus, baik ketika menjalani pemeriksaan berkala maupun saat memerlukan penanganan sistem utama.
Pembangunan kapal selam Scorpene oleh PT PAL dan Naval Group diproyeksikan berlangsung selama delapan tahun. Periode tersebut dimanfaatkan untuk menyelaraskan pembangunan kapal, pembentukan fasilitas pemeliharaan, dan penyiapan tenaga terampil. Dengan rangkaian persiapan itu, TNI AL berharap kapal tersebut dapat digunakan secara maksimal pada 2034.
Bagi Indonesia, kemampuan merawat kapal selam di dalam negeri memiliki arti strategis dari sisi kesiapan operasional. Kapal yang dibangun dengan teknologi baru memerlukan sarana, prosedur, dan teknisi yang memahami karakteristik sistemnya. Karena itu, pembangunan infrastruktur bukan sekadar pelengkap proyek, melainkan bagian dari kesiapan penggunaan kapal sepanjang masa pengabdiannya.
Awak Kapal Perlu Keahlian Khusus
Persiapan sumber daya manusia berjalan beriringan dengan pembangunan fisik dan fasilitas. TNI AL telah mengirim prajurit untuk mempelajari Scorpene di PT PAL maupun Naval Group. Pelatihan itu dimaksudkan untuk membentuk personel yang mampu menjalankan fungsi sebagai teknisi perawatan hingga awak kapal selam.
Kebutuhan pendidikan khusus juga disoroti mantan Asisten Perencanaan dan Pertahanan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Madya TNI (Purn) Iwan Isnurwanto. Ia menilai calon awak Scorpene harus disiapkan secara khusus karena kapal itu memiliki teknologi serta karakter pengoperasian yang tidak sama dengan kapal selam lain dalam inventaris TNI AL.
“Untuk personel pengawak Scorpene kemampuannya berbeda dengan kapal selam TNI AL lain yakni Nagapasa Class dan Cakra Class. Salah satunya karena ada teknologi Lithium-Ion Battery di kapal selam Scorpene sehingga kemampuannya harus disiapkan,” kata Iwan Isnurwanto di Jakarta Selatan, Minggu (23/8).
Armada kapal selam TNI AL saat ini mencakup Nagapasa Class dan Cakra Class. Kehadiran Scorpene dengan sistem baterai lithium-ion menuntut pengetahuan baru bagi calon awak, khususnya terkait pengoperasian tenaga kapal, pengelolaan energi, prosedur keselamatan, serta penanganan kondisi darurat.
Iwan, yang pernah bertugas sebagai komandan KRI Cakra-401 dan menjadi bagian dari kru inti KRI Nanggala-402, menilai personel dari kapal selam yang sudah beroperasi dapat menjadi calon awak Scorpene. Pengalaman dasar mereka dalam operasi kapal selam dapat dikembangkan melalui pendidikan yang spesifik untuk teknologi baru tersebut.
“Berarti harus mengambil calon kru dari personel yang ada di (kapal selam) Nagapasa Class atau di Cakra Class, sehingga mereka disekolahkan agar mengoperasikan Scorpene Class,” ujarnya.
Daya Tahan Bawah Air dan Pengisian Energi
Penggunaan Lithium-Ion Battery menjadi salah satu pembeda utama Scorpene. Teknologi tersebut disebut memberi kapasitas energi hingga tiga kali lebih besar dibanding Nagapasa Class dan Cakra Class. Dengan daya tersebut, kapal selam Scorpene dapat bertahan di bawah permukaan laut selama sekitar tujuh hingga 10 hari.
Selain memperpanjang durasi operasi bawah air, sistem baterai lithium-ion juga memungkinkan pengisian ulang dengan waktu yang lebih singkat, yakni sekitar dua sampai tiga jam. Karakteristik lainnya adalah kemampuan kapal untuk mempertahankan kecepatan konstan walaupun kapasitas energi tinggal 20 persen.
Keunggulan itu memperlihatkan bahwa persiapan awak tidak dapat dibatasi pada pengenalan perangkat kapal. Kru perlu memahami cara memanfaatkan kemampuan baterai secara aman dan efektif dalam operasi, termasuk ketika kapal bergerak dalam kondisi energi yang menurun. Pemahaman ini penting agar potensi teknologi baru benar-benar dapat digunakan sesuai kebutuhan tugas.
Latihan teknis dan praktik langsung menjadi bagian yang ditekankan Iwan. Calon awak perlu mempelajari pengoperasian berbagai sistem, tata cara respons dalam situasi kedaruratan, serta prosedur kerja yang berlaku untuk Scorpene. Pelatihan di lokasi pembangunan memberi kesempatan bagi personel untuk mengenal kapal sejak tahap awal.
“Karena dibangunnya di PT PAL, latihannya di mana? On site training-nya di sini yakni PT PAL atau di Prancis selaku asal perusahaan yang memproduksi Scorpene,” ujar Iwan.
Pembangunan Scorpene dengan keterlibatan PT PAL sekaligus membuka ruang pembelajaran bagi tenaga Indonesia dalam proyek kapal selam berteknologi lithium-ion. Namun, kesiapan kapal tidak hanya ditentukan oleh selesainya konstruksi. Fasilitas perawatan yang memenuhi standar, teknisi yang terlatih, dan kru yang menguasai prosedur operasi akan menentukan seberapa optimal kapal tersebut mendukung tugas menjaga perairan Indonesia.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is KSAL sebut perawatan Scorpene lebih mudah?
KSAL sebut perawatan Scorpene lebih mudah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does KSAL sebut perawatan Scorpene lebih mudah matter?
KSAL sebut perawatan Scorpene lebih mudah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.