Humaniora

Kiai NU minta seluruh “Nahdliyin” tak saling fitnah dan menjatuhkan

Foto : Maya Wijaya - menggalangkebaikan.com
Daftar Isi
  1. Menjelang Muktamar ke-35, PBNU Ingatkan Seluruh Nahdliyin Menjaga Adab dan Persaudaraan
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Menjelang Muktamar ke-35, PBNU Ingatkan Seluruh Nahdliyin Menjaga Adab dan Persaudaraan

Menggalangkebaikan.com – Perdebatan internal menjelang hajatan besar organisasi kerap menjadi ujian tersendiri bagi setiap jam’iyah. Nahdlatul Ulama, yang telah berdiri lebih dari satu abad, kini menghadapi dinamika serupa menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35. Di tengah riuh opini publik dan arus informasi digital yang tak terbendung, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’shum Faqih menyampaikan pesan tegas: seluruh elemen NU atau Nahdliyin wajib menjaga ketenangan, persatuan, serta menjunjung tinggi adab dan akhlakul karimah.

Pesan tersebut disampaikan di Jakarta pada Senin, dengan penekanan bahwa hajatan Muktamar harus menjadi momentum penguatan persaudaraan dan konsolidasi jam’iyah, bukan arena saling menjatuhkan melalui pembentukan opini, fitnah, atau narasi yang memicu keresahan di tengah warga NU.

Khidmah, Bukan Perebutan Posisi

Gus Ma’shum, yang juga merupakan anggota Majelis Masyayikh Pondok Pesantren Langitan di Widang, Tuban, mengingatkan kembali landasan filosofis organisasi. NU, dalam pandangannya, adalah jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang didirikan para ulama dan kiai dengan orientasi khidmah. Artinya, tujuan utama ber-NU bukanlah perebutan kekuasaan, posisi struktural, maupun kepentingan politik sempit.

“Kita ini tidak sedang berebut posisi atau jabatan politis. Kita sedang berkhidmah untuk umat. Kalau niat kita benar-benar khidmah, maka tidak perlu saling menjatuhkan, apalagi mengorbankan persaudaraan hanya karena berbeda pilihan atau pandangan.”

Pernyataan ini relevan mengingat Muktamar NU secara historis merupakan forum tertinggi pengambilan keputusan organisasi yang menentukan arah kebijakan, kepemimpinan, dan strategi dakwah untuk periode berikutnya. Kontestasi di dalamnya memang tidak terhindarkan, namun Gus Ma’shum menegaskan bahwa dinamika tersebut harus ditempatkan dalam koridor musyawarah dan tradisi pesantren yang mengedepankan penghormatan kepada sesama.

Media Sosial dan Ancaman terhadap Marwah Organisasi

Salah satu sorotan utama dalam pesan tersebut adalah peran media sosial sebagai ruang publik baru. Gus Ma’shum meminta seluruh pihak menahan diri dari penggunaan platform digital untuk menyerang kehormatan pribadi, menyebarkan tuduhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, atau membangun persepsi negatif terhadap sesama kader dan pengurus NU.

“Silakan berbeda pendapat. Silakan mempunyai pilihan. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita kehilangan adab. Jangan karena Muktamar, sesama warga NU kemudian saling mencaci, memfitnah dan menjatuhkan kehormatan satu sama lain.”

Peringatan ini bukan tanpa alasan. Dalam beberapa dekade terakhir, organisasi-organisasi besar di Indonesia kerap menghadapi polarisasi internal yang diperparah oleh kecepatan penyebaran informasi di ruang digital. Bagi NU yang memiliki jutaan anggota dan ribuan pondok pesantren di seluruh penjuru negeri, setiap gesekan kecil yang viral berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap institusi yang telah melayani umat selama lebih dari seratus tahun.

Jabatan sebagai Amanah, Bukan Hadiah

Gus Ma’shum juga meluruskan persepsi tentang jabatan dalam struktur NU. Menurutnya, posisi kepemimpinan bukanlah hadiah atau tujuan akhir perjuangan, melainkan amanah dan ruang pengabdian. Siapa pun yang kelak memikul amanah tersebut harus dipandang sebagai pihak yang menanggung tanggung jawab besar untuk melayani jam’iyah, jamaah, pesantren, dan umat secara keseluruhan.

“Jangan membuat warga NU resah dengan membangun opini yang menjatuhkan, menyebarkan fitnah, apalagi menggunakan cara-cara yang tidak beradab. Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah hal yang biasa, tetapi adab dan akhlak tidak boleh ditinggalkan.”

Perspektif Jangka Panjang: Melampaui Kontestasi

Di bagian akhir pesannya, Gus Ma’shum mengajak seluruh pihak berpikir melampaui kontestasi dan dinamika menjelang Muktamar. Kepengurusan akan berganti, hajatan akan usai, namun persaudaraan di antara warga NU harus tetap terjaga lintas periode dan lintas generasi. Kebesaran NU selama satu abad lebih, dalam pandangannya, tidak terlepas dari keteladanan para pendiri dan tetua yang mampu mengelola perbedaan dengan ilmu, kebijaksanaan, kesabaran, dan akhlak.

Ia mengingatkan bahwa dinamika internal NU menjadi perhatian masyarakat luas. Setiap kader, tanpa memandang posisi strukturalnya, memiliki tanggung jawab menjaga marwah organisasi yang diwariskan para ulama sejak masa pendirian.

“Mari kita jaga persatuan. Tetap beradab dan berakhlakul karimah. Jangan mudah terprovokasi, jangan menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, dan jangan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan saudara sendiri.”

Pesan ini pada dasarnya merupakan pengingat bahwa kekuatan NU selama lebih dari satu abad bukan terletak pada keseragaman pandangan, melainkan pada kemampuan mengelola keberagaman dalam bingkai adab, musyawarah, dan pengabdian kepada umat. Menjelang Muktamar ke-35, tantangan terbesar bukanlah menentukan siapa yang akan memimpin, melainkan memastikan bahwa proses tersebut tidak mengikis fondasi persaudaraan yang menjadi identitas organisasi sejak berdirinya.

Frequently Asked Questions

What is Kiai NU minta seluruh Nahdliyin tak saling?

Kiai NU minta seluruh Nahdliyin tak saling is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kiai NU minta seluruh Nahdliyin tak saling matter?

Kiai NU minta seluruh Nahdliyin tak saling matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Maya Wijaya - menggalangkebaikan.com

Maya Wijaya - menggalangkebaikan.com

Maya Wijaya adalah spesialis komunikasi sosial dengan pengalaman dalam membangun narasi kampanye kemanusiaan. Ia percaya bahwa kekuatan cerita adalah kunci utama dalam menggerakkan empati publik.

Ia telah membantu berbagai inisiatif sosial dalam menyusun pesan kampanye yang kuat, autentik, dan mampu meningkatkan partisipasi donatur.