BKSDA Sumbar pasang kandang jebak evakuasi harimau di Agam

Evakuasi Harimau Sumatera di Agam Berhasil Diselenggarakan BKSDA Sumbar

Lubuk Basung, Agam

BKSDA Sumbar pasang kandang jebak evakuasi – Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumatera Barat, Ade Putra, mengungkapkan bahwa tim konservasi telah menempatkan perangkap di sekitar area kebun Taruyan, Nagari Tigo Balai, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, untuk memastikan penyelamatan harimau sumatera yang kerap berinteraksi dengan warga. Langkah ini dilakukan setelah beberapa kali satwa berbahaya tersebut ditemukan berada di dekat pemukiman manusia, bahkan pernah menyerang ternak warga setempat.

“Kita melakukan pemasangan perangkap secara bersamaan dengan Patroli Anak Nagari (Pagari) Baringin, Pagari Salareh Aia, serta pihak pemerintah nagari dan masyarakat sekitar, Minggu (3/5).”

Dalam laporan terbaru, BKSDA Sumbar menyebutkan bahwa harimau sumatera, yang termasuk dalam kategori satwa langka dan dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 sebagaimana telah diubah Undang-undang 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, telah menjadi pusat perhatian karena aktivitasnya yang semakin dekat dengan warga. Sebelumnya, satwa itu ditemukan menginap di kebun seorang petani sejak pagi hari Sabtu (2/5), dan langsung diawasi oleh tim dari BKSDA Sumbar.

Berdasarkan laporan yang diterima, harimau tersebut ditemukan sedang beristirahat selama sekitar tiga puluh menit ketika petugas melakukan identifikasi lapangan. Kondisi ini menjadi dasar bagi keputusan untuk mengevakuasinya, sementara warga dilarang beraktivitas di area kebun sekitar perangkap. Ade Putra menjelaskan bahwa evakuasi ini merupakan upaya terakhir setelah sebelumnya telah dilakukan beberapa langkah penanganan.

“Setelah identifikasi, kita menetapkan rencana untuk mengambil satwa ke lokasi rehabilitasi agar dapat diamati apakah dalam kondisi sehat atau tidak.”

Kemudian, tim gabungan terdiri dari BKSDA Sumbar, Bhabinsa, Bhabinkamtibmas, dan perangkat nagari memulai operasi evakuasi. Selama proses ini, Samsuir (74), Syafmiati (57), serta keponakannya, Pendi (40), berhasil dievakuasi dan ditempatkan di area yang aman setelah bertemu dengan harimau di kebun mereka. Harimau tersebut, yang merupakan spesies Panthera tigris sumatrae, sempat memangsa ternak warga, sehingga menimbulkan risiko kecelakaan bagi manusia.

Menurut Ade Putra, BKSDA Sumbar tetap memprioritaskan keselamatan warga sekaligus menjaga keberlanjutan populasi harimau. “Penanganan ini dilakukan agar konflik antara manusia dan harimau tidak berlanjut, terutama di wilayah yang rawan seperti Kecamatan Matur dan Palupuh,” tambahnya.

Konflik antara harimau sumatera dan masyarakat telah berlangsung beberapa waktu terakhir. Tiga hari sebelum evakuasi, satwa tersebut sempat berada di dekat pemukiman warga, memicu ketakutan dan kekhawatiran. Kepala BKSDA menyatakan bahwa kondisi ini memaksa tim melakukan langkah-langkah ekstra untuk memastikan penangkapan berjalan lancar tanpa mengganggu kehidupan harimau.

Proses Evakuasi yang Terencana

Langkah pemasangan perangkap di Agam bukanlah tindakan impulsif. BKSDA Sumbar, bersama dengan Pagari dan masyarakat setempat, telah melakukan persiapan matang selama beberapa hari. Perangkap dibuat secara rapi dan dirancang agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Selain itu, tim juga memastikan bahwa lokasi perangkap jauh dari jangkauan anak-anak atau orang yang tidak terlatih.

Dalam komentar Ade Putra, ia menekankan bahwa evakuasi dilakukan dengan prinsip penyelamatan dua pihak. “Evakuasi ini bukan sekadar menangkap harimau, tetapi juga mengamankan warga sekitar sebelum konflik semakin memicu kecelakaan,” katanya. Penyelamatan ini memerlukan koordinasi antara instansi pemerintah, masyarakat, dan organisasi lokal seperti Pagari Baringin serta Pagari Salareh Aia.

Berbeda dengan metode evakuasi sebelumnya, kali ini BKSDA Sumbar mengandalkan teknik pemantauan yang lebih intensif. Petugas mengawasi aktivitas harimau selama beberapa jam, mencatat kebiasaannya berpindah dari satu area ke area lain. Dengan data yang dikumpulkan, mereka berhasil memprediksi waktu yang paling tepat untuk mengevakuasi satwa itu tanpa menimbulkan kerusakan.

“Evakuasi ini dianggap lebih efektif karena kita bisa mengamankan harimau dan warga secara bersamaan, selain mengurangi risiko kecelakaan di tengah kebun,” kata Ade Putra.

Pasca-penangkapan, harimau sumatera akan dibawa ke lokasi rehabilitasi yang sudah disiapkan. Di sana, satwa akan diberikan perawatan intensif, termasuk observasi kondisi kesehatan dan pemulihan lingkaran hidupnya. BKSDA Sumbar mengatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk memastikan harimau dapat kembali ke habitat aslinya dengan aman.

Evakuasi ini juga menjadi contoh bagaimana kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dapat mengurangi dampak konflik satwa dengan manusia. Sejak laporan pertama diterima, tim langsung bekerja untuk menghindari situasi yang memicu keterlibatan warga dalam pertarungan langsung dengan harimau. Ade Putra menambahkan bahwa keberhasilan ini didukung oleh dukungan dari seluruh elemen masyarakat yang aktif dalam memantau kebun dan lingkungan sekitar.

Harimau sumatera yang berada di Agam kini menjadi salah satu dari sekian banyak satwa yang diperhatikan oleh BKSDA Sumbar. Pemantauan terus dilakukan untuk memastikan bahwa mereka tidak kembali ke wilayah pemukiman manusia dalam waktu dekat. BKSDA Sumbar berharap, evakuasi ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan zona aman bagi warga dan satwa langka yang terancam.

Dengan dukungan dari semua pihak, BKSDA Sumbar menargetkan penanganan konflik antara manusia dan satwa liar di Agam dapat menjadi model yang bisa diterapkan di daerah lain. Ade Putra menyampaikan bahwa mereka akan terus berupaya mengurangi risiko penyerangan harimau kepada warga, baik melalui pemasangan perangkap maupun sosialisasi kepada masyarakat sekitar.