Latest Program: Pemkot Medan apresiasi Buddha Tzu Chi bedah 500 rumah tidak layak huni
Pemkot Medan apresiasi Buddha Tzu Chi bedah 500 rumah tidak layak huni
Medan, Rabu
Latest Program – Di tengah upaya memperbaiki kondisi perumahan di Kota Medan, Pemerintah Kota (Pemkot) Medan mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah terlibat dalam program renovasi rumah layak huni. Kehadiran Yayasan Buddha Tzu Chi di kota ini dianggap sebagai langkah penting dalam mendorong perbaikan kualitas hunian warga, khususnya mereka yang berada di wilayah dengan kondisi perumahan yang kurang memadai. Wakil Walikota Medan Rico Tri Putra Waas menyambut baik kontribusi yayasan tersebut, mengingat sebelumnya lembaga ini telah aktif dalam berbagai kegiatan sosial di Medan, seperti penanggulangan banjir dan pembagian bantuan kepada masyarakat.
“Yayasan Buddha Tzu Chi selama ini konsisten membantu warga Medan, mulai dari penanganan banjir hingga bantuan sosial,” ujar Rico Tri Putra Waas saat menerima tim dari yayasan pada hari Rabu.
Kehadiran program renovasi 500 unit rumah tidak layak huni (RTLH) ini dianggap sebagai bentuk gotong royong yang diinisiasi oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Pemkot Medan menilai kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada warga, tetapi juga menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurut Rico Waas, upaya perbaikan rumah ini berdampak signifikan, terutama bagi keluarga yang tinggal di perumahan dengan kondisi struktur yang rentan.
Berdasarkan data terbaru, Kota Medan memiliki sekitar 61.000 unit rumah yang memerlukan perhatian lebih. Dengan program bedah rumah ini, Pemkot berharap mampu mempercepat proses rehabilitasi hunian, terutama bagi kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Rico Waas menegaskan bahwa kerja sama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi tidak hanya menjadi langkah awal, tetapi juga membuka peluang untuk kolaborasi lebih luas di masa depan. “Ini adalah titik awal, dan kita perlu memperluas program ini agar bisa mencakup lebih banyak warga,” imbannya.
Komitmen untuk distribusi kuota yang merata
Dalam kesempatan tersebut, Rico Waas mengusulkan agar kuota renovasi diberikan secara merata di seluruh wilayah Kota Medan. Ia menekankan pentingnya fleksibilitas anggaran agar semua pihak dapat terlibat secara optimal. “Kita perlu memastikan bahwa hasil perbaikan rumah lebih merata, sehingga warga dari berbagai kecamatan bisa merasakan manfaatnya,” jelasnya. Mayoritas masyarakat yang menjadi target program ini terutama berasal dari Desil 1 dan Desil 2, yaitu kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Ia juga meminta tim dari Yayasan Buddha Tzu Chi memastikan bahwa setiap rumah yang diperbaiki memiliki dokumen hukum yang lengkap. “Kita perlu memverifikasi data dari pemerintah agar tidak ada kesalahan target selama proses renovasi,” tambah Rico Waas. Dengan demikian, hasil program ini bisa lebih efektif dan transparan, serta memberikan dampak jangka panjang bagi kehidupan masyarakat.
Kerja sama untuk visi nasional
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto, yang didampingi Ketua Tim Tanggap Darurat Tzu Chi Medan Timmy Jawira, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari rencana besar perbaikan 5.000 rumah tidak layak huni di seluruh Indonesia. “Kota Medan dipilih sebagai fokus utama karena kebutuhan yang signifikan terhadap renovasi hunian di sini,” kata Mujianto.
Mujianto menjelaskan bahwa Yayasan Buddha Tzu Chi terus berkomitmen untuk memberikan dukungan kepada masyarakat prasejahtera. “Kita berharap program ini bisa memberikan dampak nyata, terutama bagi keluarga yang masih mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa perbaikan rumah yang dilakukan akan menjadi dasar untuk program serupa di kota-kota lain di Sumatera Utara.
Kerangka kerja yang harmonis
Rico Waas berharap kerja sama antara Pemkot Medan dan Yayasan Buddha Tzu Chi bisa berkelanjutan. “Kita perlu menjaga koordinasi yang baik agar semua kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara sistematis,” katanya. Ia menambahkan bahwa Pemkot akan memastikan program ini tidak hanya berjalan secara efektif, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi warga untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Tim dari Yayasan Buddha Tzu Chi menyatakan bahwa mereka akan berupaya mempercepat proses bedah rumah sesuai rencana. “Kita akan menyesuaikan teknik renovasi berdasarkan kondisi setiap rumah, sehingga hasilnya maksimal,” tutur Timmy Jawira. Ia menekankan bahwa seluruh aktivitas dilakukan dengan pendekatan yang humanis, berbasis data, dan berfokus pada kebutuhan warga.
Pemkot Medan juga meminta agar program ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain. “Ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan LSM dapat menghasilkan solusi yang efisien dan berkelanjutan,” tambah Rico Waas. Dengan dukungan Yayasan Buddha Tzu Chi, ia yakin perbaikan rumah layak huni di Kota Medan bisa lebih cepat tercapai, dan menjadi bagian dari upaya nasional dalam meningkatkan kualitas hunian warga.
Kerja sama ini diharapkan tidak hanya fokus pada fisik perumahan, tetapi juga memberikan dampak sosial yang lebih luas. Rico Waas menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah tujuan utama dari program bedah rumah ini. “Selain memperbaiki kondisi rumah, kita juga ingin menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi warga,” ujarnya. Dengan demikian, Pemkot Medan berharap program ini bisa menjadi awal dari perbaikan yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi kehidupan masyarakat setempat.
