BI: QRIS dipakai 65,77 juta pengguna dan diterima 44,86 juta merchant
Daftar Isi
Ekosistem QRIS Tembus 65 Juta Pengguna, UMKM Jadi Tulang Punggung Transaksi Digital Nasional
Menggalangkebaikan.com – BI – Angka-angka yang dirilis Bank Indonesia pada Jumat (21/8) memperlihatkan skala adopsi pembayaran digital yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Hingga pertengahan tahun 2026, sistem QRIS — mekanisme pembayaran berbasis kode respons cepat yang dikembangkan secara nasional — telah menyentuh 65,77 juta pengguna aktif. Di sisi penerima, sebanyak 44,86 juta titik merchant menerima pembayaran melalui kanal tersebut. Yang paling mencolok dari data ini adalah komposisi merchant: 96,68 persennya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Dengan kata lain, QRIS bukan lagi fenomena yang terbatas pada ritel modern atau layanan besar, melainkan telah menjadi infrastruktur pembayaran harian bagi pedagang kaki lima, warung, bengkel, dan jutaan unit usaha berskala kecil di seluruh pelosok negeri.
QRIS sebagai Gerbang Masuk UMKM ke Ekonomi Digital
Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menegaskan bahwa peran QRIS telah melampaui fungsi teknisnya sebagai alat transaksi. Dalam pernyataannya di Jakarta, ia menggambarkan pergeseran paradigma yang terjadi:
“QRIS bukan lagi sekadar alat pembayaran digital yang cepat, mudah, murah, aman, dan handal, tetapi QRIS sudah menjadi pintu masuk utama, entry point, bagi UMKM ke dalam ekosistem keuangan digital.”
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa setiap transaksi QRIS yang dilakukan oleh seorang pedagang kecil sesungguhnya merupakan titik kontak pertama pelaku usaha tersebut dengan sistem keuangan formal. Dari titik kontak itulah, data transaksi mulai tercatat, riwayat keuangan mulai terbentuk, dan peluang akses ke layanan perbankan menjadi terbuka. Bagi jutaan UMKM yang selama ini beroperasi sepenuhnya di luar radar institusi keuangan, QRIS menjadi jembatan pertama yang mengubah aktivitas ekonomi informal menjadi aktivitas yang dapat diukur, dianalisis, dan dibiayai.
Tiga Pilar Strategi Digitalisasi UMKM
Mengakui bahwa adopsi satu kanal pembayaran saja tidak cukup untuk mengangkat kapasitas usaha, Bank Indonesia merumuskan tiga jalur strategis agar UMKM benar-benar bertransformasi secara menyeluruh. Pertama, e-farming, yang memanfaatkan teknologi digital farming untuk menaikkan produktivitas dan efisiensi di sektor pertanian — sektor yang masih menyumbang porsi besar dari populasi UMKM Indonesia. Kedua, e-commerce, yang difokuskan pada proses onboarding UMKM ke platform perdagangan digital sehingga jangkauan pasar mereka tidak lagi dibatasi oleh radius geografis. Ketiga, e-financing, yang diimplementasikan melalui Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK). Platform ini membantu pelaku usaha kecil mencatat laporan keuangan secara terstruktur, sebuah prasyarat yang selama ini menjadi penghalang utama bagi UMKM untuk memperoleh kredit formal.
Ketiga pilar ini saling melengkapi: tanpa pencatatan keuangan yang rapi, akses pembiayaan tetap tertutup; tanpa akses pasar digital, skala usaha tidak dapat diperluas; dan tanpa efisiensi produksi berbasis data, margin keuntungan tetap tipis. Bank Indonesia memandang transformasi digital bukan sebagai proyek satu kali, melainkan sebagai proses berkelanjutan yang memerlukan penguatan ekosistem inovasi secara simultan.
PIDI: Laboratorium Kolaboratif untuk Solusi Digital Terapan
Sebagai instrumen operasional dari komitmen tersebut, Bank Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sejumlah mitra strategis mengembangkan Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI). Lembaga ini dirancang sebagai ruang temu antara talenta teknologi, inovator muda, pelaku industri, pemerintah, dan mitra strategis lainnya. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan prototipe, melainkan menciptakan solusi digital yang langsung dapat diterapkan di sektor riil — termasuk oleh UMKM yang memiliki keterbatasan sumber daya teknis.
Bagi pelaku usaha kecil, PIDI berfungsi sebagai wadah di mana kebutuhan spesifik mereka diterjemahkan menjadi produk digital yang mudah diadopsi dan dapat direplikasi secara luas. Pendekatan ini menghindari jebakan umum di mana inovasi digital berhenti di tahap demonstrasi tanpa pernah menyentuh pengguna akhir yang sebenarnya membutuhkan.
Innovation Talk KKI 2026: Dari Diskursus ke Praktik
Pada Jumat (21/8), Bank Indonesia menggelar Innovation Talk bertajuk “Akselerasi Transformasi Digital UMKM: Integrasi Inovasi Digital Menuju UMKM Naik Level” sebagai bagian dari rangkaian Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026. Forum ini mempertemukan perspektif dari berbagai sisi ekosistem: Fitria Irmi Triswati dari Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, dua inovator muda finalis PIDI yakni Irpan Rambe dan Fahrul Hadi Kusuma, serta Pipit Candra, pendiri Bernard Tani, yang mewakili UMKM binaan BI di bidang pertanian hortikultura.
Pembahasan dalam forum tersebut menyoroti bagaimana pemanfaatan data digital oleh industri perbankan dapat membuka pintu pembiayaan yang sebelumnya tertutup bagi pelaku usaha kecil. Diskusi juga menekankan urgensi penguatan pencatatan digital di tingkat UMKM agar tata kelola keuangan menjadi lebih transparan, efisien, dan kredibel di mata lembaga keuangan.
Optimisme Terukur dan Semangat Kolektif
Filianingsih Hendarta menutup pandangannya dengan pernyataan yang mencerminkan keyakinan institusional sekaligus tanggung jawab kolektif:
“Dengan talenta yang berdaya, inovasi yang implementatif, dan ekosistem yang saling menguatkan, kami optimis UMKM Indonesia akan terus bertransformasi, bertumbuh, dan naik kelas, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang semakin inklusif dan berkelanjutan.”
Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan — pemerintah daerah, asosiasi usaha, penyedia teknologi, dan lembaga keuangan — untuk mempercepat proses transformasi digital UMKM. Semangat yang dipegang adalah Beudaya MeusareSare, atau Berdaya Bersama-sama: sebuah prinsip bahwa penguatan kapasitas ekonomi tidak dapat dicapai oleh satu pihak secara unilateral, melainkan menuntut kolaborasi lintas sektor yang terstruktur dan berkelanjutan. Dengan lebih dari 65 juta pengguna dan hampir 45 juta merchant yang telah terhubung, fondasi infrastruktur pembayaran digital Indonesia kini berada pada titik di mana skala adopsi bukan lagi pertanyaan — yang tersisa adalah kecepatan dan kedalaman integrasi ke lapisan ekonomi yang selama ini paling tertinggal.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BI?
BI is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BI matter?
BI matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.