Key Strategy: Menteri Imipas minta lapas-rutan manfaatkan lahan kosong dukung ketahanan pangan
Menteri Imipas Berharap Lapas dan Rutan Optimalkan Lahan Kosong untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan
Key Strategy – Cilacap, Jawa Tengah (ANTARA) – Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) Agus Andrianto menegaskan bahwa seluruh lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan negara (rutan) di Indonesia diminta memanfaatkan lahan yang tidak terpakai untuk mendukung upaya pemerintah meningkatkan ketahanan pangan. Pernyataan ini disampaikan saat Menteri Agus melakukan tinjauan program ketahanan pangan di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada hari Sabtu. Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, yang lebih dikenal dengan nama Titiek Soeharto.
Dalam jumpa pers usai kunjungan, Menteri Agus menyampaikan bahwa program ini bertujuan mengoptimalkan sumber daya yang ada di lingkungan lapas dan rutan. “Lahan kosong di setiap institusi pemasyarakatan harus dimanfaatkan secara maksimal,” ujarnya. Menurutnya, tindakan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar para warga binaan, tetapi juga memberikan kontribusi pada stabilitas harga di pasar. “Dengan memenuhi kebutuhan makanan di dalam lembaga pemasyarakatan, kita bisa mengurangi tekanan pada pasokan eksternal yang berpotensi memicu kenaikan harga,” terang Agus.
“Kami juga minta kepada jajaran lapas dan rutan di Indonesia untuk mempersiapkan kebutuhan telur di dalam lapas dan rutan sehingga harga stabil dan tidak menjadikan kita jadi bagian yang memberikan kontribusi terjadinya inflasi,” kata Menteri Agus.
Pemanfaatan lahan kosong di Nusakambangan dianggap sebagai contoh nyata kreativitas dalam mengatasi tantangan pangan. Titiek Soeharto, ketua komisi yang turut hadir, menyambut positif langkah ini. “Transformasi Nusakambangan menjadi pusat ketahanan pangan sangat menarik,” ucapnya. Ia menilai kebijakan Menteri Agus sebagai bentuk inovasi yang mampu mengubah paradigma lembaga pemasyarakatan menjadi tempat produksi barang kebutuhan pokok.
Kebutuhan Pangan di Lingkungan Lapas dan Rutan
Titiek Soeharto menambahkan bahwa program ini bukan hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi psikologis warga binaan. “Keterlibatan mereka dalam produksi makanan dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian,” jelas Titiek. Menurutnya, kebijakan yang diambil Menteri Agus menjadi cambuk bagi kementerian terkait untuk lebih giat dalam menyusun strategi ketahanan pangan nasional. “Kalau saja di kabinet isinya orang-orang seperti Pak Agus ini, mungkin Pak Presiden bisa tidur tenang,” imbuhnya.
Program tersebut juga diharapkan menjadi model bagi daerah lain. Titiek menjelaskan bahwa di Nusakambangan, warga binaan yang tidak lagi berisiko tinggi diikutsertakan dalam proyek produksi pangan. Pemilihan narapidana dilakukan berdasarkan kriteria yang ketat, yaitu mereka yang sudah menjalani separuh masa hukuman dan melewati proses asesmen. “Ini adalah langkah penting untuk mempersiapkan mereka sebelum kembali ke masyarakat,” kata Titiek.
Menurut Agus, selain mencegah inflasi, pemanfaatan lahan juga berpotensi menurunkan biaya operasional lembaga pemasyarakatan. “Dengan menghasilkan makanan sendiri, kita bisa menghemat anggaran yang biasanya digunakan untuk membeli bahan pangan dari luar,” ujarnya. Ia menekankan bahwa seluruh lahan yang tidak digunakan secara optimal harus menjadi bagian dari rencana strategis ketahanan pangan. “Kami telah memberikan arahan dan evaluasi ke jajaran lapas serta rutan, agar program ini dapat berjalan lebih baik,” tambah Menteri Imipas.
“Kebutuhan dasar di lingkungan lapas dan rutan harus dipenuhi dengan sumber daya lokal,” ujar Titiek.
Manfaat untuk Warga Binaan dan Masyarakat
Agus Andrianto menyoroti bahwa keterampilan yang diperoleh warga binaan selama program ini bisa menjadi bekal ketika mereka bebas. “Selain tambahan keterampilan, mereka juga diberikan premi atas kerja mereka,” katanya. Ia berharap kebijakan ini bisa memberikan dampak jangka panjang, baik secara ekonomi maupun sosial. “Warga binaan yang terlibat akan lebih siap menghadapi tantangan di masyarakat,” tambah Menteri Imipas.
Di sisi lain, Titiek Soeharto menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pemasyarakatan dan pemerintah daerah. “Program ini memperlihatkan bahwa ketahanan pangan bisa dicapai di berbagai sektor, termasuk yang berhubungan dengan pemasyarakatan,” ujarnya. Ia juga menyampaikan bahwa Nusakambangan sekarang bukan lagi pulau isolasi, melainkan menjadi bagian dari rantai pasokan pangan nasional. “Ini merupakan langkah paling tepat untuk memperkuat keberlanjutan program,” tambah Titiek.
Sebagai bagian dari upaya ini, Menteri Agus menyatakan bahwa evaluasi dan masukan dari Titiek Soeharto serta rombongan akan menjadi dasar untuk perbaikan program. “Kami berkomitmen untuk mengimplementasikan saran-saran yang diberikan,” ujarnya. Dengan adanya peninjauan tersebut, pemerintah bisa mengevaluasi efektivitas penggunaan lahan kosong dan menyesuaikannya dengan kondisi lokal. “Program ini juga mendorong keterlibatan masyarakat sekitar dalam mendukung kegiatan produktif warga binaan,” imbuh Agus.
Kebijakan ini diharapkan mampu menjadi contoh bagi lapas dan rutan di wilayah lain. Menteri Imipas menekankan bahwa penggunaan lahan yang efisien adalah bagian dari solusi global dalam menghadapi krisis pangan. “Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, kita bisa mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal,” kata dia. Selain itu, Agus menyebut program ini juga membantu meningkatkan kualitas hidup warga binaan, sebab mereka bisa merasakan hasil kerja mereka langsung digunakan oleh sesama warga b
