Latest Program: Survei: Hampir 60 persen warga AS tidak setuju kebijakan ekonomi Trump

Survei Ungkap Sebagian Besar Warga AS Kritis terhadap Kebijakan Ekonomi Trump

Latest Program – Washington, Antaranews – Hasil survei terbaru yang dilakukan Forbes/HarrisX menunjukkan bahwa hampir 60 persen warga Amerika Serikat merasa tidak puas dengan kebijakan ekonomi yang dijalankan Presiden Donald Trump. Survei ini dirilis Rabu lalu dan menemukan angka 58 persen responden menyatakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan tersebut, sementara hanya 37 persen yang menyetujui. Data ini menggambarkan ketidakpuasan publik terhadap arah kebijakan Trump, yang dianggap memberikan dampak signifikan terhadap kebijakan perdagangan dan tarif.

Penolakan terhadap Kebijakan Tarif dan Perdagangan

Dalam survei yang sama, 56 persen warga AS menolak kebijakan tarif dan operasi perdagangan Trump, dengan 37 persen mendukung. Angka ini mengindikasikan bahwa kebijakan Trump dalam memperketat hubungan ekonomi dengan negara-negara lain, terutama melalui pengenalan tarif tinggi, masih memicu kontroversi. Meski demikian, tingkat kepercayaan secara keseluruhan terhadap Trump berada di angka 41 persen, dengan 55 persen menyatakan tidak setuju. Angka ini lebih rendah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, mencerminkan pergeseran opini publik terhadap kebijakan pemerintahannya.

“Masih terlalu dini untuk berbicara tentang negosiasi langsung dengan Iran,” kata Trump dalam wawancara sebelumnya, menegaskan bahwa kebijakan militer terhadap Iran belum menjadi prioritas utama untuk dibahas. Meski demikian, survei menunjukkan bahwa 37 persen responden tetap mendukung operasi militer terhadap Iran, menandai kelompok pendukung yang tetap setia meski mayoritas menolak.

Survei tersebut menyasar 2.512 orang dewasa di AS dengan margin kesalahan sekitar 1,95 persen. Selain isu ekonomi, survei juga mengungkapkan ketidakpuasan terhadap langkah militer terhadap Iran. Hasilnya menunjukkan bahwa hanya 37 persen warga AS menyetujui operasi militer tersebut, sementara sebanyak 56 persen menolak. Angka ini konsisten dengan laporan sebelumnya dari Washington Post-ABC News-Ipsos yang pada 1 Mei lalu menemukan lebih dari 60 persen warga AS menilai operasi militer terhadap Iran adalah kesalahan besar.

Ekskalasi Konflik dan Dampak Global

Konflik antara AS dan Iran memanas sejak 28 Februari lalu, ketika kedua pihak meluncurkan serangan ke sejumlah target di Iran. Serangan ini menimbulkan kerusakan signifikan dan korban sipil, memicu reaksi global terhadap kebijakan militer Trump. Sebelumnya, Axios melaporkan bahwa Gedung Putih memperkirakan Washington dan Teheran dapat menandatangani nota kesepahaman dalam waktu dekat untuk mengakhiri konflik. Namun, keputusan Trump untuk memperpanjang penghentian serangan ke Iran, meski menciptakan kesempatan bagi negosiasi, tetap menjadi bahan perdebatan.

Setelah dua minggu gencatan senjata yang diumumkan pada 7 April, diskusi lanjutan di Islamabad berakhir tanpa capaian kesepakatan. Karena itu, Trump memperpanjang penghentian serangan untuk memberi waktu Iran menyusun proposal bersama. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menciptakan kesempatan dalam membangun hubungan diplomatik dengan Iran, meski kritik terus mengalir dari kelompok-kelompok pro-keselamatan nasional.

Di sisi lain, eskalasi konflik terus memberikan tekanan pada jalur perdagangan utama, khususnya Selat Hormuz, yang menjadi pintu utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari Teluk Persia ke pasar global. Pada awal April, kemacetan lalu lintas di Selat Hormuz sempat hampir terjadi, memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara. Meski gencatan senjata telah diperpanjang, ketidakpastian tetap menghiasi situasi geopolitik ini, dengan risiko konflik kembali memanas.

Konteks Kebijakan Trump dan Perubahan Persepsi Masyarakat

Kebijakan ekonomi Trump, yang secara konsisten menekankan kebijakan proteksionis dan pengurangan regulasi, telah menjadi fokus kritik dari berbagai kelompok. Survei Forbes/HarrisX menunjukkan bahwa warga AS mempertanyakan keberlanjutan kebijakan tersebut, terutama terkait dampaknya pada pasar internasional dan pertumbuhan ekonomi. Meski Trump mengklaim kebijakan ini memberikan keuntungan bagi industri dalam negeri, hasil survei menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat lebih peduli pada dampak jangka panjang, seperti kenaikan harga bahan bakar dan tekanan pada perdagangan global.

Interaksi Trump dengan Iran tidak hanya berdampak pada lalu lintas Selat Hormuz, tetapi juga menciptakan ketegangan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan politik. Kebijakan militer, yang sebelumnya dianggap sebagai cara cepat untuk menekan Iran, kini menjadi bahan pertimbangan ulang setelah muncul kekhawatiran akan konsekuensi ekonomi yang lebih luas. Survei menunjukkan bahwa 37 persen warga AS tetap mendukung operasi militer, namun jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan suara yang menentang.

Dampak kebijakan terhadap Masyarakat dan Ekonomi

Kebijakan Trump dalam bidang ekonomi dan militer tidak hanya memengaruhi opini publik, tetapi juga mengubah dinamika ekonomi dan keamanan di kawasan Timur Tengah. Dalam konteks ini, survei Forbes/HarrisX memperlihatkan bahwa kebanyakan warga AS menganggap kebijakan Trump tidak efektif dalam menyeimbangkan antara stabilitas ekonomi dan keamanan nasional. Selain itu, kritik terhadap kebijakan tarif juga mencerminkan ketidakpuasan terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan harga bahan bakar yang terus mengalir.

Sebagai perbandingan, survei sebelumnya yang dilakukan Washington Post-ABC News-Ipsos menemukan bahwa lebih dari 60 persen warga AS menilai operasi militer terhadap Iran sebagai kesalahan. Hal ini menunjukkan bahwa opini publik mulai berpolarisasi antara kelompok yang mendukung tindakan keras untuk menegakkan kekuasaan AS di kawasan tersebut dan kelompok yang menekankan pent