Special Plan: PAC tunjukkan potensi atletik Indonesia Timur terus berkembang

PAC Tunjukkan Potensi Atletik Indonesia Timur Terus Berkembang

Special Plan – Dari Jakarta, dalam sebuah pernyataan resmi yang diterima, Jodi Mahardi, Sekretaris Umum PB PASI, menyatakan munculnya atlet muda yang langsung meraih prestasi juara di Kejuaraan Atletik Jatim Open 2026 menjadi indikator kuat bahwa kemampuan olahraga di wilayah Timur Indonesia terus berkembang, terutama melalui sistem pelatihan yang terorganisir. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari upaya kolaboratif yang dilakukan oleh PB PASI bersama mitra strategisnya dalam membangun bakat-bakat berbakat di daerah-daerah terpencil.

Kejuaraan Atletik Jatim Open 2026 yang diadakan di Lapangan Atletik “Oentoeng Poedjadi” FIKK-UNESA, Surabaya, pada 1-3 Mei lalu, menjadi panggung penting bagi sejumlah atlet yang mewakili Papua Athletics Center (PAC). Kemenangan di ajang ini bukan hanya mengukir nama bagi para peserta, tetapi juga memperkuat visi pembinaan jangka panjang yang dijalankan oleh PAC. Dengan 14 medali yang berhasil diraih, termasuk sembilan emas, dua perak, dan tiga perunggu, pencapaian ini mencerminkan peningkatan signifikan dibandingkan edisi sebelumnya yang hanya menyumbang 11 medali.

“Munculnya atlet muda yang langsung meraih juara menjadi bukti bahwa program pelatihan kami telah berjalan tepat sasaran,” kata Jodi Mahardi. Ia menambahkan bahwa sinergi antara PB PASI dan PT Freeport Indonesia melalui PAC berperan besar dalam mempercepat proses regenerasi atlet nasional. “Kolaborasi ini menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakat secara bertahap dan terukur,” ujarnya.

Sejumlah atlet baru dari PAC menjadi sorotan utama dalam turnamen tersebut. Tiga dari mereka langsung mempersembahkan medali emas pada pertandingan pertama mereka. Natalis Kawad Kaize, misalnya, menguasai nomor lempar cakram U-20 putra dengan catatan 44,21 meter, sedangkan Bonevasius Mahuze tampil gemilang dalam lempar lembing U-20 putra dengan lemparan sejauh 60,18 meter. Kresensia Mobok Ndiken juga berhasil menyumbang medali emas di kategori lempar lembing U-20 putri setelah mencatatkan jarak 40,44 meter.

Selain atlet debutan, PAC juga menunjukkan dominasi dalam kategori lemparan melalui tokoh-tokoh berpengalaman. Kristostomus Kaize meraih medali emas di nomor lempar lembing U-18 putra dengan catatan 57,88 meter, sementara Silfanus Ndiken mengamankan juara di lempar lembing senior putra dengan lemparan sejauh 68,00 meter. Di sektor lintasan, Fransisko Adrianto Makaminang menggeser persaingan dalam nomor 800 meter senior putra dengan waktu 1 menit 55,98 detik, dan Mergina Asyerem mencatatkan rekor tercepat di 200 meter senior putri dengan waktu 24,55 detik.

Direktur & EVP Sustainable Development PT Freeport Indonesia, Claus Wamafma, menyoroti peran PAC dalam mengembangkan atlet-atlet potensial. “Peningkatan jumlah medali dan kemunculan atlet muda yang langsung meraih prestasi berarti program kami bersama PB PASI sudah membuahkan hasil nyata,” katanya. Ia juga menyampaikan bahwa pendekatan desentralisasi menjadi kunci dalam memastikan kesetaraan peluang bagi atlet dari berbagai latar belakang.

“Munculnya nama-nama baru di tingkat nasional membuktikan bahwa cetak biru pelatihan kami terarah ke arah yang benar,” ujar Claus Wamafma. Menurutnya, kerja sama antara perusahaan dan organisasi olahraga lokal membuka jalan untuk mengidentifikasi bakat sejak dini, lalu memberikan fasilitas pelatihan profesional. “Kami percaya bahwa PAC akan menjadi pusat pengembangan atlet yang berkelanjutan, terutama di daerah-daerah yang kurang mendapat perhatian,” tambahnya.

PAC, sebagai bagian dari program pembinaan yang dicanangkan PT Freeport Indonesia, telah mengalami evolusi dalam beberapa tahun terakhir. Tahun ini, keberhasilan di Jatim Open 2026 menegaskan bahwa investasi dalam infrastruktur dan pelatihan atlet lokal tidak hanya berdampak pada prestasi, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap olahraga sebagai bagian dari pembangunan daerah. Kinerja PAC juga memberikan contoh nyata bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat menghasilkan manfaat jangka panjang.

Selain itu, keberhasilan ini berpotensi meningkatkan minat masyarakat pada atletik di wilayah Timur Indonesia. “Prestasi ini mungkin akan memicu generasi berikutnya untuk mengejar bidang olahraga, terutama di daerah yang sebelumnya kurang aktif,” kata Jodi Mahardi. Ia berharap, dengan adanya PAC, ada lebih banyak peluang untuk atlet muda mengakses pelatihan yang komprehensif, mulai dari dasar hingga level tinggi.

Kejuaraan Jatim Open 2026 juga menjadi kesempatan untuk menguji kesiapan atlet lokal menghadapi kompetisi lebih besar. Meski masih dalam tahap pengembangan, kinerja PAC menunjukkan bahwa atlet dari daerah terpencil mampu bersaing di tingkat nasional. “Ini adalah awal dari perjalanan panjang, tetapi sudah ada keberhasilan yang patut disyukuri,” tutur Claus Wamafma. Ia menegaskan bahwa program pembinaan akan terus diperbaiki untuk mencapai target lebih ambisius di masa depan.

Dengan hasil yang diukir dalam Jatim Open 2026, PAC semakin menjadi garda depan dalam memperkuat posisi Indonesia Timur di peta olahraga nasional. Kolaborasi antara PB PASI dan PT Freeport Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan atlet tidak hanya bergantung pada keberadaan pelatih atau fasilitas, tetapi juga pada strategi yang konsisten dan tanggung jawab bersama. “PAC adalah bukti bahwa ketika ada dukungan yang tepat, potensi atlet dari daerah terpencil bisa terwujud menjadi prestasi yang membanggakan,” pungkas Jodi Mahardi.

Langkah-langkah yang diambil oleh PAC dalam mempersiapkan atlet sejak usia dini menunjukkan pendekatan holistik dalam pembinaan. Dari seleksi, pelatihan, hingga pendampingan mental, setiap aspek diatur secara terpadu untuk memastikan keberhasilan berkelanjutan. Klaus Wamafma menilai, keberhasilan ini juga menjadi bahan evaluasi bagi program-program serupa di daerah lain. “PAC bisa menjadi model untuk daerah-daerah yang ingin meningkatkan kualitas atlet mereka,” katanya.

Kehadiran PAC dalam berbagai turnamen besar bukan hanya memperkenalkan wajah baru dari Indonesia Timur, tetapi juga mendorong transformasi olahraga secara