Key Strategy: Pemerintah siapkan Bali jadi pusat keuangan internasional

Pemerintah Kembangkan Bali Jadi Pusat Keuangan Global

Key Strategy – Jakarta – Pemerintah Indonesia berencana mengubah Bali menjadi salah satu pusat keuangan internasional (IFC) yang berperan penting dalam perekonomian nasional. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam pernyataannya di Jakarta, Senin. Menurut Airlangga, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali sedang dipercepat untuk menjadikannya lokasi utama dalam sektor keuangan. “Kemudian, KEK Kura Kura Bali akan menjadi fondasi penting bagi IFC yang akan dikaji secara lebih mendalam dengan pihak Danantara,” terang Airlangga. Proyek ini diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor keuangan dan menarik investasi besar dari luar negeri.

KEK Kura Kura Bali: Ekosistem Inovasi Terpadu

KEK Kura Kura Bali dirancang sebagai area yang menyatukan berbagai elemen kritis untuk mendukung keberhasilan IFC. Dalam pernyataannya, Airlangga menjelaskan bahwa KEK tersebut berpotensi menjadi pusat pengembangan keuangan yang mampu menarik minat investor global. Proyek ini mencakup penyelesaian fasilitas pendukung, termasuk Business Hub yang akan menjadi pusat pertemuan antara Global Blended Finance Alliance (GBFA), lembaga pendidikan bisnis, serta jalur investasi utama di Indonesia. Tidak hanya itu, KEK Kura Kura juga menyiapkan Pusat Kewirausahaan dan Inovasi yang akan menyediakan lingkungan pendidikan berkualitas, seperti sekolah interkultural ACS Bali, serta pusat riset lingkungan pesisir bernama International Mangrove Research Center (IMRC).

“KEK Kura Kura Bali memiliki potensi untuk menjadi pola baru dalam pengembangan sektor keuangan. Kami fokus pada penguatan ekosistem inovasi yang diimbangi dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan pengelolaan modal yang efisien,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi.

Pengembangan KEK Kura Kura Bali diharapkan selesai pada 2026, dengan beberapa proyek strategis yang dijalankan secara paralel. Hingga triwulan I 2026, investasi yang telah tercatat mencapai Rp1,62 triliun, menyerap 2.146 tenaga kerja. Angka ini menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam membangun infrastruktur dan layanan untuk mendukung keberlanjutan ekosistem keuangan di Bali. Selain itu, KEK ini juga menjadi tujuan utama untuk menawarkan keunggulan Knowledge District, yang menggabungkan pendidikan, teknologi, dan keahlian karyawan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

KEK Sanur: Prioritas Pariwisata Kesehatan

Di samping KEK Kura Kura Bali, KEK Sanur juga menjadi fokus utama dalam mengembangkan sektor pariwisata kesehatan atau health tourism. Airlangga menyebut bahwa KEK Sanur difokuskan untuk memperkuat ekosistem kesehatan yang kompetitif, sehingga Indonesia bisa menegaskan posisinya sebagai destinasi layanan kesehatan kelas dunia. Salah satu fasilitas utama adalah Bali International Hospital (BIH), yang telah beroperasi sejak April 2025. Rumah sakit ini menyediakan berbagai layanan medis spesialis, termasuk perawatan intensif, rekonstruksi wajah, dan terapi sel punca untuk kecantikan.

Kemajuan KEK Sanur diukur dari jumlah kunjungan pasien yang mencapai 14.950 orang hingga triwulan I 2026. Pasien ini terdiri dari 60 persen warga negara asing (WNA) dan 40 persen warga negara Indonesia (WNI), menunjukkan minat global terhadap layanan kesehatan Bali. Selain BIH, KEK Sanur juga menyiapkan The Solitaire Clinic, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026. Fasilitas ini akan menawarkan layanan cosmetic surgery, medical aesthetics, body contouring, hair transplant, serta terapi sel punca anti-penuaan. Angka investasi yang telah terkumpul di KEK Sanur mencapai Rp5,37 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5.444 orang dan kunjungan wisatawan mencapai 279.804 orang.

Strategi Transformasi Ekonomi Bali

Airlangga menekankan bahwa pembentukan KEK sektor keuangan di Bali merupakan bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional. Proyek ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan pendirian IFC, termasuk skema pengelolaan keuangan, fasilitas yang terstandar, serta peraturan yang memudahkan investor asing. Dengan KEK Kura Kura Bali dan KEK Sanur, pemerintah mencoba mengubah Bali menjadi kawasan yang tidak hanya menguntungkan sektor pariwisata, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan bagi sektor ekonomi bernilai tambah tinggi, seperti keuangan, kesehatan, dan inovasi.

Kurang lebih sekitar 2026, KEK Kura Kura Bali akan menyelesaikan beberapa proyek kunci yang ditargetkan untuk meningkatkan daya saing daerah. Di sisi lain, KEK Sanur menunjukkan keberhasilan yang konsisten dalam menarik kunjungan wisatawan kesehatan. Kedua KEK ini berperan sebagai “pilot project” yang menjadi contoh terbaik dalam pengembangan sektor-sektor strategis. Dengan dukungan pemerintah, Bali diharapkan bisa menjadi pusat keuangan dan kesehatan yang mengintegrasikan teknologi, pendidikan, dan pelayanan berkualitas tinggi.

Pengembangan KEK sektor keuangan di Bali tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan kebijakan dan regulasi yang mendukung investasi jangka panjang. Airlangga menegaskan bahwa regulasi tersebut sedang finalisasi untuk menjamin proses pembentukan KEK berjalan lancar. Dalam hal ini, KEK Kura Kura Bali menjadi salah satu pilihan utama, karena dianggap memiliki potensi unggul dalam menciptakan lingkungan usaha yang kondusif dan inovatif.

Keberhasilan KEK Sanur dalam menerima kunjungan pasien sebesar 14.950 orang hingga awal 2026 mencerminkan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan Bali. Angka ini juga menunjukkan bahwa KEK Sanur mampu memenuhi standar internasional, dengan fasilitas yang lengkap dan kualitas pelayanan terbaik. Sementara KEK Kura Kura Bali, meski masih dalam tahap pengembangan, telah menunjukkan kemajuan yang menggembirakan dalam menarik investasi hingga Rp1,62 triliun.

Dengan integrasi antara KEK Kura Kura Bali dan KEK Sanur, pemerintah berharap bisa menciptakan ekosistem yang komplementer. KEK Kura Kura Bali fokus pada pembentukan pusat keuangan, sementara KEK Sanur menjadi penyangga dalam pariwisata kesehatan