Eks Komisaris KAI nilai kecelakaan KA di Bekasi bukan soal human error

Eks Komisaris KAI nilai kecelakaan KA di Bekasi bukan soal human error

Eks Komisaris KAI nilai kecelakaan KA – Dari Jakarta – Mantan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero) Riza Primadi mengungkapkan bahwa insiden kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, tidak hanya disebabkan oleh kesalahan manusia. Menurutnya, faktor-faktor yang lebih dominan adalah ketidaksempurnaan sistem operasional dan kondisi infrastruktur. “Human error itu siapa? Tanyalah kepada masinis, karena rangkaian kereta membutuhkan jarak minimal 500 meter jika berjalan dengan kecepatan 60 km/jam,” ujarnya saat dihubungi Senin (27/4) di Jakarta.

Kecelakaan dan Peran Sistem Operasional

Riza menekankan bahwa penyebab kecelakaan tidak bisa disederhanakan menjadi kesalahan satu orang saja. Ia menjelaskan bahwa kereta api jarak jauh (KAJJ) memiliki bobot yang lebih besar dibandingkan kereta ringan (KRL), sehingga membutuhkan jarak pengereman yang lebih panjang. “Ketika mencampurkan perjalanan KAJJ dan KRL dalam satu jalur, risiko kecelakaan meningkat drastis,” katanya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan pola berhenti dan kecepatan antara kedua jenis kereta tersebut.

Bukti bahwa masinis telah berusaha menghentikan kereta terlihat dari dampak tabrakan yang tidak menghancurkan seluruh rangkaian. “Jika tidak melakukan pengereman, kemungkinan lebih dari dua atau tiga kereta KRL akan terlibat dalam tabrakan,” lanjutnya. Riza menambahkan bahwa seluruh rangkaian hanya mengalami kerusakan parsial, yang menunjukkan upaya pengereman sudah dilakukan. Dengan demikian, insiden ini lebih mencerminkan kelemahan dalam sistem daripada kesalahan individu.

Rekomendasi Teknologi GPS untuk Keselamatan

Pengamat transportasi, Ki Darmaningtyas, menyatakan bahwa penerapan teknologi sensor berbasis GPS adalah solusi penting untuk mencegah kecelakaan serupa. “Gunakan teknologi Intelligent Transportation System (ITS) berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta,” katanya. Teknologi ini, menurut Darmaningtyas, memungkinkan masinis mengetahui kondisi jalur di depan secara real-time, termasuk keberadaan kereta lain atau gangguan yang mungkin terjadi.

Darmaningtyas menjelaskan bahwa GPS dapat mendeteksi hambatan hingga dua kilometer ke depan, sehingga mengurangi risiko tabrakan akibat ketidaktahuan pengemudi. “Dengan alat tersebut, masinis bisa mengantisipasi situasi darurat dan mengambil langkah pengereman lebih tepat waktu,” ujarnya. Ia menilai sistem ini lebih efektif dibandingkan pengereman mendadak yang berpotensi merusak rangkaian kereta.

Contoh Kecelakaan dan Solusi Teknologi

Darmaningtyas memberi contoh kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek, yang menurutnya bisa diminimalkan jika teknologi tersebut diterapkan. “Sistem ITS berbasis GPS tidak hanya meningkatkan keamanan, tapi juga mengurangi risiko kesalahan manusia,” ujarnya. Ia menyoroti perbedaan kecepatan dan pola berhenti antara KAJJ dan KRL. KA Argo Bromo Anggrek, yang melaju dari Gambir menuju Cirebon, memiliki kecepatan tinggi dan hanya berhenti di stasiun tertentu, berbeda dengan KRL yang berhenti hampir di setiap stasiun.

Perbedaan ini menciptakan potensi “kesalip” yang tidak terhindarkan. Darmaningtyas menegaskan bahwa jika teknologi GPS sudah diintegrasikan ke dalam operasional, maka insiden seperti ini bisa diminimalkan. “Dengan GPS, masinis tidak perlu bergantung sepenuhnya pada pengalaman atau insting, karena informasi dari sistem akan memberikan jaminan keamanan,” ujarnya.

Proses Penyelidikan dan Perspektif Lain

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah mengumpulkan keterangan dari 31 saksi untuk menyelidiki insiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4). Langkah ini bertujuan untuk memperjelas penyebab kecelakaan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian tersebut. Selain itu, Darmaningtyas menambahkan bahwa kombinasi penyelesaian DDT (Defibrilator dan Detektor) dengan penerapan teknologi GPS dapat secara signifikan mengurangi risiko kecelakaan di masa depan.

Perspektif Sistemik dalam Kecelakaan Kereta

Riza Primadi mengatakan bahwa kecelakaan di Bekasi Timur menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara perencanaan jalur dan kebutuhan operasional. “Jika jalur dirancang untuk melayani dua jenis kereta dengan kecepatan berbeda, maka harus ada pengaturan yang memadai,” ujarnya. Ia juga menyoroti kurangnya koordinasi antara pengoperasian KAJJ dan KRL, yang berpotensi menyebabkan kecelakaan.

Menurut Riza, kecelakaan seperti ini bisa dihindari jika sistem operasional dirancang secara lebih hati-hati. “Tidak ada satuan kereta yang mungkin memasuki jalur tanpa pengawasan sistem yang