New Policy: Kemdiktisaintek gandeng Kemendes bangun desa berbasis sains teknologi
Kemdiktisaintek Gandeng Kemendes PDT Bangun Desa Berbasis Sains dan Teknologi
New Policy – Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) secara resmi meneken kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU). Langkah ini diharapkan menjadi fondasi untuk memperkuat koordinasi antarlembaga dalam mendorong pengembangan desa yang berfokus pada sains, teknologi, dan inovasi. Fauzan Adziman, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini bertujuan menyambungkan kebutuhan masyarakat desa dengan hasil riset institusi pendidikan tinggi. “MoU ini membuka peluang riset dan inovasi tidak hanya menjadi produk akademis, tetapi juga alat untuk memecahkan masalah nyata di tingkat desa,” jelas Fauzan dalam pernyataan di Jakarta, Kamis lalu.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Penguatan Sumber Daya Manusia
Kemitraan antara dua kementerian ini menitikberatkan pada tiga fokus utama. Pertama, penguatan sumber daya manusia desa melalui pelatihan dan pemberdayaan pemuda. Dirjen Risbang menjelaskan bahwa upaya ini bertujuan meningkatkan kompetensi warga desa dalam bidang teknologi dan inovasi, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. “Kita ingin menciptakan ekosistem di mana masyarakat desa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga aktor utama dalam pengembangan berbasis sains,” tambahnya.
Implementasi Inovasi untuk Sector Strategis
Kedua, hilirisasi inovasi melalui penerapan teknologi yang relevan dengan kebutuhan sektor kritis seperti pertanian, pendidikan, dan ketahanan desa. Fauzan menyebutkan bahwa MoU ini memungkinkan lembaga riset menyesuaikan hasil penelitian dengan konteks lokal, sehingga dapat diaplikasikan secara langsung. Contohnya, teknologi pertanian cerdas untuk meningkatkan produktivitas lahan atau solusi pendidikan digital untuk memperluas akses belajar di daerah terpencil. “Dengan menyatukan kekuatan riset dan kebutuhan desa, kita bisa menciptakan solusi yang praktis dan berdampak jangka panjang,” ujarnya.
“Kolaborasi ini kami arahkan bukan sekadar kerja sama antarlembaga, tetapi langkah konkret menghadirkan inovasi yang relevan, terukur, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa,” kata Fauzan Adziman.
Desa Binaan sebagai Living Laboratory
Ketiga, pengembangan desa binaan sebagai tempat uji coba inovasi. Fauzan menjelaskan bahwa model ini memungkinkan perguruan tinggi dan peneliti menerapkan konsep baru secara langsung, sesuai kebutuhan masyarakat. “Desa menjadi ruang nyata untuk menguji keunggulan teknologi dan sains, sekaligus menanamkan kepercayaan masyarakat terhadap inovasi lokal,” terangnya. Misalnya, desa binaan dapat menjadi tempat pengembangan sistem pertanian berbasis IoT atau pengujian model pengelolaan sampah berkelanjutan.
Komitmen Menteri Desa PDT Yandri Susanto
Sementara itu, Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto menegaskan bahwa desa kini menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. “Villages tidak lagi hanya tempat tinggal, tetapi juga pusat inovasi yang mampu mengubah paradigma pembangunan,” ujarnya dalam pidato resmi. Ia menyoroti peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menyediakan sumber daya intelektual untuk mewujudkan kebutuhan masyarakat. Menurut Yandri, keterlibatan lembaga riset akan memperkuat daya saing desa dalam menghadapi tantangan seperti keterbatasan infrastruktur dan akses informasi.
Kerja Sama yang Melibatkan Berbagai Pihak
Kemendiktisaintek dan Kemendes PDT menyatakan bahwa tiga agenda utama ini tidak bisa dicapai tanpa partisipasi pihak lain. “Kolaborasi lintas sektor harus melibatkan pemerintah, BUMN, swasta, serta komunitas lokal untuk memastikan keberlanjutan program,” kata Fauzan. Contoh nyata adalah kerja sama dengan perusahaan teknologi untuk menyediakan alat digital atau inkubator ide-ide inovatif dari pemuda desa. Selain itu, pemerintah daerah juga diharapkan memfasilitasi kebijakan yang mendukung implementasi teknologi di tingkat lokal.
Manfaat untuk Pemerataan Ekonomi
MoU ini menjadi bagian dari upaya mempercepat pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Fauzan menjelaskan bahwa desa berbasis sains dan teknologi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, dan membangun ketahanan ekonomi. “Dengan menggabungkan keahlian akademis dan kebutuhan masyarakat, kita bisa menciptakan model pembangunan yang inovatif dan inklusif,” ujarnya. Yandri Susanto juga menyebutkan bahwa desa menjadi pilar penting dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi antarwilayah, terutama di daerah-daerah yang kurang berkembang.
“Desa kini menjadi penggerak pertumbuhan baru dalam pembangunan nasional. Perguruan tinggi dan lembaga riset harus menjadi mitra utama dalam menjawab tantangan di tingkat lokal,” ujar Menteri Desa PDT Yandri Susanto.
Langkah-Langkah Masa Depan
Menurut Dirjen Risbang, MoU ini akan menjadi landasan untuk berbagai program bersama, termasuk peningkatan kapasitas pengelola desa, penerapan teknologi tepat guna, dan pengembangan model pengelolaan sumber daya alam berbasis sains. “Kita perlu membangun sistem yang memastikan inovasi tidak hanya diuji, tetapi juga diadopsi oleh masyarakat secara masif,” jelas Fauzan. Untuk itu, Kemdiktisaintek akan melib
