Yang Terjadi Saat: China komentari prediksi IMF soal konflik Timteng picu krisis ekonomi
China komentari prediksi IMF soal konflik Timteng picu krisis ekonomi
Beijing menjadi pusat perhatian setelah laporan yang diterbitkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) menyoroti dampak negatif konflik Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi global dan pasokan energi. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, laporan tersebut menegaskan bahwa perang tidak hanya menimbulkan kerusakan manusia, tetapi juga mengganggu pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara luas.
IMF: Konflik berdampak signifikan pada rantai pasok
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, sebelumnya menyatakan bahwa ketegangan di Timur Tengah telah menciptakan tantangan besar bagi dunia. Ia menekankan bahwa gangguan pasokan energi global mencakup penurunan distribusi minyak sebesar 13 persen dan gas alam cair (LNG) hingga 20 persen per hari. “Ini menimbulkan risiko bagi perekonomian internasional, terutama negara berkembang,” ujar Guo Jiakun, menambahkan bahwa komunitas global seharusnya tidak terbebani oleh konsekuensi dari konflik ini.
“Laporan IMF kembali memperingatkan bahwa perang ini memiliki dampak serius, termasuk menghambat pertumbuhan ekonomi global dan menyebabkan kesulitan bagi masyarakat,” kata Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (15/4).
Guo Jiakun menekankan bahwa saat ini, prioritas utama adalah mencegah peperangan berulang, memastikan alur perdagangan melalui Selat Hormuz tetap lancar, serta segera mencapai perdamaian di kawasan Teluk. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah ini penting untuk menghindari krisis ekonomi dan keamanan energi yang lebih besar, bahkan mungkin krisis kemanusiaan.
“Kami sangat prihatin dengan dampak gangguan pasokan minyak dan gas; yang juga kami sadari adalah Maret merupakan bulan yang sulit, tetapi April mungkin akan lebih sulit lagi. Kenapa? Karena kapal tanker yang berangkat sebelum 28 Februari telah sampai di tujuan dan tidak ada pengiriman baru yang akan datang,” ujar Georgieva.
IMF memproyeksikan bahwa gangguan pasokan dapat memicu penutupan kilang, serta krisis bahan bakar dan pangan. Dalam jangka panjang, kenaikan harga minyak 10 persen diharapkan meningkatkan inflasi global sebesar 40 basis poin dan mengurangi output global hingga 0,1 hingga 0,2 persen. Georgieva menyarankan penerapan langkah penghematan energi, seperti menawarkan fasilitas transportasi umum gratis atau mendorong pekerjaan jarak jauh.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang dimulai setelah serangan akhir Februari, menyebabkan penghalang terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi poros utama pengiriman minyak dan LNG dari Teluk Persia ke pasar internasional. Situasi tersebut juga mengganggu aktivitas ekspor dan produksi minyak di daerah tersebut. Pada Senin (13/4), Angkatan Laut AS mulai memblokir seluruh akses laut ke pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz.

