Vivax, Kina, dan sumbangan Indonesia untuk dunia
Daftar Isi
Menggalangkebaikan.com – Vivax Kina dan sumbangan Indonesia untuk dunia berangkat dari kisah malaria yang panjang, dari Halmahera hingga Papua. Pada Februari 1858, antropolog Alfred Russel Wallace terbaring sakit di sebuah gubuk di Dodinga, Halmahera. Tubuhnya bergantian menggigil dan berkeringat akibat malaria. Dalam keadaan demam itu, gagasan tentang seleksi alam muncul di benaknya, kemudian ia tulis dan kirimkan kepada Charles Darwin di Inggris.
Makalah Wallace bertanda Ternate membuat banyak orang mengaitkan kelahiran teori evolusi dengan pulau rempah tersebut. Namun, jurnal lapangannya yang tersimpan di Linnean Society London menunjukkan bahwa selama Februari ia berada di Halmahera dalam keadaan sakit dan baru kembali ke Ternate pada 1 Maret. Untuk meredakan demamnya, termasuk demam yang dialami para pembantunya, Wallace mengandalkan kina.
Dari kina hingga pemberantasan malaria nasional
Kina menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah panjang manusia menghadapi malaria. Seabad setelah pengalaman Wallace di Halmahera, penyakit ini masih menjadi ancaman besar bagi kesehatan masyarakat Indonesia yang baru merdeka. Pemerintah kemudian menjadikan pengendalian malaria sebagai agenda nasional.
Pada 12 November 1959, Presiden Soekarno menyemprotkan DDT, pestisida sintetis, di rumah warga Desa Kalasan, Yogyakarta. Peristiwa tersebut menandai dimulainya program pembasmian malaria secara nasional. Dalam lima tahun berikutnya, sekitar 63 juta penduduk memperoleh perlindungan. Tanggal 12 November kemudian diperingati sebagai Hari Kesehatan Nasional.
Penyemprotan massal dilakukan di rumah-rumah warga di Jawa, Bali, dan Lampung. Wilayah Indonesia timur menghadapi perjalanan yang lebih berat. Hingga 2026, sekitar 80 persen kabupaten dan kota telah dinyatakan bebas malaria, tetapi sekitar 95 persen kasus malaria nasional masih terkonsentrasi di Tanah Papua.
Sepanjang 2025, Kementerian Kesehatan mencatat 706.297 kasus malaria. Kenaikan angka tersebut berkaitan dengan pencarian kasus yang semakin aktif di lapangan serta sistem pelaporan digital yang lebih tertib. Artinya, peningkatan pencatatan juga membantu menggambarkan beban penyakit secara lebih nyata.
Vivax dan peluang sumbangan Indonesia bagi dunia
Dalam konteks Vivax Kina dan sumbangan Indonesia, tantangan terbesar berada pada jenis parasit yang selama ini kerap dipandang kurang berbahaya: Plasmodium vivax. Pemerintah kini menyiapkan langkah baru melalui pengembangan vaksin malaria buatan Indonesia. Setelah rapat terbatas di Istana pada Selasa (27/10), Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto menanyakan perkembangan vaksin malaria dan meminta risetnya dipercepat.
BRIN bekerja bersama Kementerian Kesehatan dan Bio Farma dengan harapan proses pengembangan dapat berlangsung tiga tahun lebih cepat dari jadwal semestinya. Dunia sebelumnya telah memiliki dua vaksin malaria yang direkomendasikan WHO, yaitu RTS,S dan R21. Namun, keduanya dirancang untuk menghadapi Plasmodium falciparum, parasit malaria paling mematikan yang dominan di Afrika.
Vaksin tersebut tidak melindungi dari Plasmodium vivax, penyebab sakit malaria terbanyak di Asia Tenggara. Arif menyebut parasit malaria di Indonesia memiliki karakter yang agak berbeda, sementara vaksin vivax belum tersedia di mana pun. Di titik inilah Vivax Kina dan sumbangan Indonesia menjadi relevan: riset yang bertolak dari kebutuhan dalam negeri berpotensi memberi manfaat jauh melampaui batas Indonesia.
Papua mengubah anggapan tentang vivax
Selama puluhan tahun, vivax kerap disebut sebagai malaria yang jinak. Pengalaman di Papua membantah pandangan tersebut. Studi di Timika pada 2004–2005 mencatat 37 persen kasus malaria terkonfirmasi disebabkan oleh vivax. Pada bayi berusia di bawah satu tahun, vivax murni bahkan menjadi penyebab terbanyak.
Vivax yang kebal terhadap klorokuin pertama kali dilaporkan dari Papua pada 1989. Kawasan ini kemudian dikenal memiliki tingkat vivax resisten obat tertinggi di dunia. Penelitian lanjutan di rumah sakit Timika juga mengaitkan vivax multiresisten dengan malaria berat hingga kematian, terutama pada anak kecil.
Dari Papua, anggapan bahwa vivax selalu merupakan malaria ringan dikoreksi oleh bukti klinis dan pengalaman masyarakat di wilayah endemis.
FAQ tentang vivax, kina, dan vaksin malaria Indonesia
Apa perbedaan malaria vivax dan falciparum?
Plasmodium falciparum dikenal sebagai parasit malaria paling mematikan dan banyak ditemukan di Afrika. Sementara itu, Plasmodium vivax menjadi penyebab sakit malaria terbanyak di Asia Tenggara dan merupakan persoalan penting di Indonesia, khususnya Tanah Papua.
Mengapa vaksin vivax penting bagi Indonesia?
Vaksin vivax penting karena vaksin malaria yang telah direkomendasikan WHO, RTS,S dan R21, dirancang untuk Plasmodium falciparum dan tidak melindungi dari vivax. Indonesia menghadapi beban vivax yang nyata, termasuk masalah resistensi obat di Papua.
Apa makna sumbangan Indonesia untuk dunia?
Jika pengembangan vaksin vivax berhasil, Indonesia dapat menjawab kebutuhan kesehatan di wilayahnya sendiri sekaligus berkontribusi pada penanganan malaria di negara lain yang juga menghadapi Plasmodium vivax. Itulah inti dari Vivax Kina dan sumbangan Indonesia: pengalaman lokal dapat melahirkan manfaat global.