Lifestyle

Menbud harap lahir “Nasirun-Nasirun” baru dari generasi muda

IMG_2772
Foto : Indah Ananda - menggalangkebaikan.com
Daftar Isi
  1. Warisan Nasirun Diharapkan Menyemangati Perupa Muda
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Warisan Nasirun Diharapkan Menyemangati Perupa Muda

Menggalangkebaikan.com – Pameran penghormatan untuk maestro seni rupa Indonesia Nasirun dibuka di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, Sabtu, dengan pesan kuat tentang pentingnya pewarisan pengetahuan lintas generasi. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan harapan agar perjalanan kreatif Nasirun dapat memantik kemunculan seniman-seniman muda yang memiliki ketekunan, kedalaman gagasan, dan kesediaan berbagi seperti dirinya.

Pameran bertajuk “Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” digelar untuk mengenang Nasirun, yang meninggal dunia pada 1 Agustus 2026. Acara ini tidak semata menampilkan jejak karya seorang perupa, melainkan juga memperlihatkan hubungan penting antara seorang seniman dengan guru-guru yang membentuk perjalanan artistiknya.

“Mudah-mudahan akan tumbuh Nasirun-Nasirun baru. Karena beliau juga orang yang sangat berdedikasi untuk membagikan pengalamannya, ilmunya kepada generasi muda,” kata Fadli.

Ruang Belajar bagi Generasi Penerus

Bagi Fadli, kekuatan Nasirun tidak hanya terletak pada capaian visual dan keberagaman ekspresinya. Nasirun juga dikenang karena membuka ruang belajar bagi seniman yang lebih muda. Sikap tersebut menjadi bagian penting dari warisan yang ingin ditegaskan melalui pameran di Galeri Nasional Indonesia.

Salah satu contoh keterlibatan Nasirun dalam pembinaan generasi muda hadir melalui program Belajar Bersama Maestro yang dilaksanakan Kementerian Kebudayaan pada 2025. Program itu memberi kesempatan kepada 10 siswa hasil audisi untuk tinggal di kediaman Nasirun, mengikuti keseharian sang maestro, belajar langsung, dan menciptakan karya selama proses tersebut.

“Jadi ada 10 orang siswa yang terpilih melalui audisi dan tinggal di tempat Mas Nasirun, kemudian belajar bersama Nasirun, tinggal bersama Nasirun dan juga melahirkan karya-karya,” ujar Fadli.

Pengalaman belajar secara dekat semacam itu memperlihatkan bahwa pendidikan seni tidak selalu berhenti pada ruang kelas atau teori. Kehadiran maestro, proses menyaksikan kerja kreatif, percakapan sehari-hari, serta kesempatan mencoba dan menghasilkan karya dapat menjadi bagian dari pembentukan seorang perupa muda.

Fadli menilai pengalaman tersebut dapat memberi dorongan bagi generasi baru untuk mengembangkan karya yang berangkat dari kedalaman pribadi. Dalam dunia seni rupa, kemampuan teknis penting, tetapi kepekaan terhadap lingkungan, kebudayaan, pengalaman hidup, dan nilai yang diyakini juga menentukan arah penciptaan.

Penghormatan kepada Para Guru

Judul “Bersimpuh di Kaki Para Guru” merangkum salah satu sisi penting Nasirun sebagai seniman: penghormatannya kepada para pendahulu. Pameran ini mempertemukan karya Nasirun dengan karya sejumlah tokoh yang ia pandang sebagai guru dalam perjalanan berkesenian.

Para seniman yang hadir dalam jalinan pameran tersebut meliputi Abas Alibasyah, Affandi, Ahmad Sadali, Amang Rachman Jubair, Amri Yahya, Bagong Kussudiardja, Djoko Pekik, Edhi Soenarso, Fadjar Sidik, Harijadi Sumadidjaja, Hendra Gunawan, Jeihan Sukmantoro, Kusnadi, Oesman Effendi, S. Sudjojono, Widayat, dan Zaini.

Susunan karya ini membantu pengunjung melihat bahwa perkembangan seorang seniman tidak berlangsung dalam ruang kosong. Ada perjumpaan dengan gagasan, pengaruh, teladan, serta proses menafsirkan kembali pengalaman para pendahulu. Penghormatan kepada guru dalam konteks ini bukan berarti meniru, melainkan memahami fondasi sebelum membangun bahasa artistik sendiri.

Fadli mengenal Nasirun sejak belasan tahun silam dan menyaksikan kedekatan emosional seniman tersebut dengan para gurunya. Rasa hormat itu bahkan diwujudkan Nasirun dengan mendirikan museum di seberang rumahnya untuk menyimpan karya-karya para maestro yang ia hormati.

“Dan beliau membuat juga museum yang isinya adalah karya-karya para gurunya di seberang rumahnya,” kata Fadli.

Tradisi, Spiritualitas, dan Kehidupan Sehari-hari

Pameran ini juga mengajak publik menelusuri cara Nasirun mengolah beragam unsur kehidupan ke dalam karya. Tradisi, budaya, spiritualitas, keseharian, serta modernitas hadir melalui pendekatan yang mencakup medium dua dimensi dan tiga dimensi.

Pilihan medium yang beragam memperlihatkan keluasan praktik kreatif Nasirun. Bagi pengunjung, karya-karya tersebut dapat dibaca sebagai ruang pertemuan antara pengalaman personal, ingatan budaya, dan dinamika kehidupan kontemporer. Seni rupa menjadi medium untuk menyusun kembali berbagai lapisan realitas tanpa harus memisahkannya secara kaku.

Perjalanan Nasirun juga menegaskan bahwa sejarah seni rupa Indonesia dibentuk oleh proses yang terus bergerak: belajar, menerima pengaruh, menafsirkan ulang, lalu meneruskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Pameran penghormatan ini menempatkan karya seni bukan hanya sebagai hasil akhir, tetapi sebagai bagian dari percakapan panjang antarseniman dan antargenerasi.

Bagi perupa muda, pesan yang muncul cukup jelas. Mencari suara sendiri dapat berjalan beriringan dengan mempelajari jejak para pendahulu. Kebaruan tidak harus memutus hubungan dengan tradisi, karena tradisi dan pengalaman para guru justru dapat menjadi bahan untuk membangun kemungkinan artistik yang berbeda.

Pameran Terakhir Sebelum Revitalisasi

“Nasirun (1965–2026): Bersimpuh di Kaki Para Guru” berlangsung dari 13 September hingga 11 Oktober 2026. Pameran ini juga memiliki arti khusus karena diumumkan sebagai pameran terakhir sebelum Galeri Nasional Indonesia menjalani revitalisasi.

Dengan demikian, penyelenggaraan pameran tersebut menjadi momen penutup bagi sebuah fase ruang pamer sebelum memasuki pembaruan. Pada saat yang sama, karya dan keteladanan Nasirun dihadirkan sebagai pengingat bahwa keberlanjutan kesenian bergantung pada kesediaan untuk belajar, menghargai guru, serta membuka jalan bagi talenta baru.

Frequently Asked Questions

What is Menbud harap lahir Nasirun Nasirun baru?

Menbud harap lahir Nasirun Nasirun baru is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menbud harap lahir Nasirun Nasirun baru matter?

Menbud harap lahir Nasirun Nasirun baru matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Indah Ananda - menggalangkebaikan.com

Indah Ananda - menggalangkebaikan.com

Indah Ananda adalah relawan kemanusiaan sekaligus content researcher yang fokus pada topik transparansi donasi dan kredibilitas platform fundraising. Ia sering melakukan analisis terhadap berbagai model penggalangan dana untuk memastikan keamanan dan kepercayaan publik.

Tulisan Indah membantu pembaca memahami cara menilai kampanye donasi yang benar-benar terpercaya dan berdampak.