PBNU tetapkan logo muktamar Ke-35 NU karya alumnus Langitan
Logo Muktamar Ke-35 NU Resmi Dipakai, Karya Alumnus Langitan yang Menghubungkan Masa Lalu dan Kini
menggalangkebaikan.com – Jakarta telah menyaksikan momen penting dalam sejarah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama secara resmi menetapkan logo baru sebagai identitas visual untuk Muktamar Ke-35, sebuah forum permusyawaratan tertinggi yang menjadi wadah musyawarah para pemimpin dan anggota NU. Logo yang dirancang oleh M Shofa Ulum Azmi ini bukan sekadar karya seni, melainkan representasi dari nilai-nilai yang telah diwariskan selama lebih dari satu setengah abad oleh Pondok Pesantren Langitan di Tuban, Jawa Timur.
Pondok Pesantren Langitan memiliki jejak sejarah yang panjang dan bermakna. Didirikan pada tahun 1852, lembaga pendidikan Islam ini telah menjadi tempat lahirnya banyak ulama dan kader yang dedikasinya terhadap organisasi tidak pernah luntur. Kontribusi mereka dimulai bahkan sebelum NU resmi berdiri dan terus berlanjut hingga memasuki abad kedua keberadaan organisasi tersebut. Kehadiran logo Muktamar Ke-35 ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi pengabdian dari Langitan masih hidup dan relevan di era modern.
Proses Desain yang Menghasilkan Simbol Harmoni
M Shofa Ulum Azmi, sang desainer, menjelaskan bahwa konsep visual logo ini bermula dari sebuah sketsa sederhana. Dari sketsa kasar tersebut, ia mengembangkan bentuk yang lebih matang dan penuh makna. Dua lingkaran menjadi elemen utama dalam konstruksi logo ini. Menurut Shofa, kedua lingkaran tersebut melambangkan Syuriah dan Tanfidziyah, dua lembaga yang berjalan beriringan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka untuk NU.
“Logo ini berawal dari sketsa kasar yang kemudian membentuk dua lingkaran sebagai konstruksi utamanya. Saya memaknai dua lingkaran itu sebagai simbol Syuriah dan Tanfidziyah yang berjalan selaras dalam mengemban khidmah Nahdlatul Ulama,” ujarnya di Jakarta pada hari Minggu.
Proses penyelesaian desain ini berlangsung cukup cepat. Shofa menyelesaikan rancangan dasar dalam waktu semalam. Setelah itu, dilakukan beberapa tahap penyempurnaan atau finishing untuk memastikan setiap detail logo sesuai dengan visi yang ingin disampaikan. Desain ini juga merepresentasikan hubungan saling menguatkan, seperti hubungan antara seorang ayah dan anak yang saling mendukung satu sama lain.
Jembatan Historis antara Langitan dan NU
Pemilihan karya dari alumnus Langitan ini membawa dimensi historis yang mendalam. Dua tokoh pendiri NU, yaitu Hadhratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah, pernah menjadi murid dari KH Ahmad Sholeh, pengasuh kedua Pondok Pesantren Langitan. Hubungan keilmuan ini menjadi fondasi kuat yang menghubungkan pesantren dengan organisasi yang mereka dirikan bersama.
Tradisi pengabdian yang dimulai oleh para pendiri ini kemudian diteruskan secara turun-temurun melalui generasi pengasuh pesantren. KH Muhammad Khozin memimpin pada masa awal berdirinya NU. Setelah itu, kepemimpinan dilanjutkan oleh KH Abdul Hadi Zahid, kemudian oleh KH Abdullah Faqih yang juga dipercaya menjabat sebagai Mustasyar PBNU. Rantai pengabdian ini kini disambung oleh KH Ma’shum Faqih.
KH Ma’shum Faqih saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBNU. Kehadirannya di posisi ini mencatatkan sejarah baru, karena beliau menjadi kiai pertama dari Pondok Pesantren Langitan yang duduk di jajaran Tanfidziyah PBNU. Posisi ini menunjukkan bahwa kontribusi Langitan tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga nyata dalam struktur organisasi.
Khidmah dalam Berbagai Bentuk
KH Ma’shum Faqih, yang akrab dipanggil Gus Ma’shum, menilai bahwa terpilihnya logo ini merupakan bukti bahwa pesantren di Kecamatan Widang ini terus memberikan kontribusi nyata bagi NU. Kontribusi tersebut tidak terbatas pada bidang tertentu, tetapi mencakup berbagai aspek kehidupan organisasi, termasuk melalui karya kreatif dari generasi muda alumnusnya.
“Khidmah kepada NU tidak selalu diwujudkan melalui jabatan. Karya, pemikiran, inovasi, dan kreativitas yang membawa manfaat bagi organisasi juga merupakan bagian dari pengabdian. Semoga semangat itu terus hidup dan menginspirasi generasi muda nahdliyin,” kata Gus Ma’shum.
Pesan yang disampaikan oleh Gus Ma’shum ini penting untuk diingat oleh seluruh warga nahdliyin. Pengabdian kepada organisasi tidak harus selalu melalui jalur struktur formal. Pemikiran segar, inovasi dalam berbagai bidang, dan kreativitas yang menghasilkan manfaat bagi masyarakat juga merupakan bentuk nyata dari khidmah. Logo Muktamar Ke-35 ini menjadi pengingat bahwa tradisi Langitan terus hidup dan berkembang, membawa nilai-nilai luhur dari masa lalu menuju masa depan yang lebih cerah bagi NU dan seluruh umat.
