Key Strategy: Generasi muda diajak jadi penggerak perubahan hadapi krisis iklim

WhatsApp-Image-2026-07-04-at-07.23.17

Generasi Muda Diajak Jadi Penggerak Perubahan dalam Menghadapi Krisis Iklim

Key Strategy – Jakarta, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) secara aktif mendorong generasi muda untuk berperan dalam menjaga lingkungan hidup. Upaya ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan anak-anak serta remaja dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Mereka dianggap sebagai elemen penting dalam menciptakan solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah yang semakin serius di sektor lingkungan.

Peran Strategis Anak dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Dalam sebuah webinar yang digelar di Jakarta, Senin, Devy Nia Pradhika, Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah I KemenPPPA, menekankan bahwa anak-anak tidak hanya menjadi korban perubahan iklim, tetapi juga berperan dalam mengubah situasi. “Anak-anak perlu memiliki pengetahuan yang memadai sejak dini dan didorong untuk terlibat langsung dalam menjaga lingkungan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tugas ini tidak bisa ditunda, karena masa depan bumi bergantung pada keputusan yang diambil sekarang.

“Anak-anak Indonesia bukan sekadar penerus bangsa, tetapi juga pencipta solusi dan penggerak perubahan. Dengan pendidikan yang tepat, mereka bisa menjadi penjaga masa depan bumi,” kata Devy Nia Pradhika.

Krisis iklim telah menimbulkan dampak nyata pada kehidupan anak-anak, mulai dari cuaca ekstrem yang mengganggu rutinitas belajar hingga banjir yang memperumit akses ke pendidikan. Selain itu, perubahan iklim juga memengaruhi kualitas udara, air, dan lingkungan sekitar, yang berdampak pada kesehatan dan ruang bermain anak. “Masalah ini tidak hanya melibatkan orang dewasa, tetapi juga menyangkut hak anak untuk hidup sehat, bermain dengan aman, dan tumbuh secara optimal,” lanjutnya.

Statistik yang Menunjukkan Urgensi Tindakan Anak-Anak

Menurut Devy Nia Pradhika, Indonesia memiliki sekitar 79 juta anak, yang hampir mencapai sepertiga dari total populasi negara tersebut. Jumlah ini menggarisbawahi bahwa suara anak-anak sangat berpengaruh dalam membentuk kebijakan lingkungan. Dalam konteks global, UNICEF melaporkan bahwa sekitar satu miliar anak tinggal di wilayah yang rentan terhadap efek perubahan iklim. “Ini membuktikan bahwa isu lingkungan bukan hanya masalah dewasa, tetapi juga melibatkan generasi muda di seluruh dunia,” jelasnya.

Devy menekankan bahwa anak-anak harus menjadi bagian dari solusi. “Tindakan kecil yang dilakukan bersama-sama bisa menciptakan perubahan besar,” ujarnya. Ia mengajak generasi muda untuk tidak takut menghadapi tantangan iklim, karena mereka memiliki potensi untuk memimpin perubahan melalui kebiasaan sehari-hari.

Aksi Sederhana yang Bisa Dilakukan Anak-Anak

Menghadapi krisis iklim memerlukan partisipasi aktif dari semua usia, termasuk anak-anak. Devy Nia Pradhika memberikan contoh konkret tentang langkah kecil yang efektif, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, dan menghemat energi. “Mereka bisa memulai dari lingkungan sekitar, misalnya dengan menanam pohon di sekolah atau rumah, serta mengajak teman dan keluarga untuk ikut serta,” kata Devy.

Kebiasaan ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga membantu membangun kesadaran kolektif. Devy menjelaskan bahwa tindakan seperti memilah sampah bisa mengurangi limbah yang berdampak negatif pada ekosistem. Sementara penghematan air dan listrik berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. “Setiap usaha kecil dari anak-anak adalah langkah penting dalam menjaga keberlanjutan bumi,” tegasnya.

Menumbuhkan Kesadaran dan Keterlibatan Aktif

Devy Nia Pradhika mengharapkan webinar ini menjadi wadah untuk menumbuhkan keberanian anak-anak dalam berpartisipasi. “Anak-anak dan remaja tidak boleh menganggap perubahan iklim sebagai masalah orang dewasa. Mereka adalah penjaga bumi yang sejati,” katanya. Ia juga memotivasi para peserta webinar untuk memperluas pemahaman dan mengubah pola pikir tentang lingkungan.

Dalam diskusi, Devy menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan yang terintegrasi dalam kurikulum. “Jika anak-anak dilatih sejak dini, mereka bisa memimpin perubahan di tingkat keluarga, sekolah, dan masyarakat,” imbuhnya. Ia menambahkan bahwa partisipasi anak-anak dalam kegiatan lingkungan seperti penghijauan atau pengurangan limbah plastik dapat menghasilkan dampak jangka panjang.

Menurut Devy, penghijauan merupakan cara yang efektif untuk mengurangi efek perubahan iklim. “Setiap pohon yang ditanam bisa menyerap karbon dioksida, menjaga kualitas udara, dan memberikan tempat bermain yang lebih sehat untuk anak-anak,” katanya. Sementara pengurangan plastik sekali pakai berkontribusi pada pengurangan sampah laut dan peningkatan keanekaragaman hayati.

“Tindakan kecil yang konsisten dari anak-anak bisa mengubah masa depan bumi. Mereka adalah generasi yang mampu memimpin perubahan, selama ada keinginan dan kesadaran untuk beraksi,” kata Devy Nia Pradhika.

Devy juga menekankan bahwa pendidikan lingkungan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sesuatu yang dipelajari di kelas. “Anak-anak perlu belajar bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Mereka bisa mengajarkan nilai itu kepada orang tua dan teman sebaya,” tambahnya. Ia berharap webinar ini menjadi awal dari perubahan besar yang dimulai dari generasi muda.

Dalam konteks global, perubahan iklim adalah isu yang mengancam keberlanjutan bumi. Devy Nia Pradhika menekankan bahwa anak-anak dan generasi muda memiliki peran penting dalam menghadapinya. “Ketika mereka memperhatikan lingkungan, mereka sekaligus menjaga masa depan mereka sendiri,” katanya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan mengatasi krisis iklim tergantung pada kerja sama antara semua pihak, termasuk anak-anak yang aktif dalam kegiatan lingkungan.

Menjaga lingkungan bukan hanya tentang penghematan energi atau pengurangan polusi. Tindakan seperti memilah sampah, menggunakan transportasi ramah lingkungan, atau mengurangi penggunaan bahan kimia berdampak