Anggota DPR: Pelaku penyerangan polisi di Katingan harus dihukum berat

1000402556

Anggota DPR: Pelaku Penyerangan Polisi di Katingan Harus Diberi Hukuman Berat

Anggota DPR – Dari Jakarta, anggota Komisi III DPR RI Martin Tumbelaka mengutuk aksi penyerangan terhadap polisi yang terjadi saat operasi penggerebekan kasus narkoba di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Menurut dia, tiga anggota kepolisian yang gugur dalam insiden tersebut memerlukan hukuman yang tegas dan memadai. Martin menegaskan bahwa pelaku harus menerima konsekuensi penuh atas tindakan mereka, termasuk penggunaan senjata api rakitan yang memicu kematian aparat negara.

Penyerangan Menjadi Peringatan untuk Kriminalitas

Dalam pernyataan di Jakarta, Senin, Martin menekankan bahwa perlawanan terhadap petugas yang sedang melakukan tugas tidak boleh dibiarkan. Ia menilai, tindakan kekerasan tersebut harus menjadi pelajaran bagi masyarakat untuk lebih menghargai kekuatan hukum. “Pembunuh aparat negara tidak boleh diberi kesempatan untuk lepas dari hukuman,” ujarnya.

“Setelah tertangkap, pastikan mereka mendapatkan hukuman maksimal agar berdampak jera. Ekosistem kejahatan di desa tersebut harus dibongkar total,” kata Martin.

Kapolri Berkomitmen Melawan Sindikat Narkoba

Martin juga mengingatkan bahwa pimpinan tertinggi Polri telah menunjukkan komitmen kuat untuk melawan kejahatan narkoba. Menurutnya, para pelaku bandar maupun gembong narkoba harus dikenai tindakan tegas dan terukur. “Negara tidak boleh mundur dari perang melawan narkoba, terutama jika ada kelompok massa yang melindungi kejahatan,” tegasnya.

Dalam konteks ini, Martin menyoroti pentingnya transparansi dalam proses penyelidikan. Ia menilai, penyidik tidak boleh hanya berhenti pada penangkapan pelaku penyerangan fisik, melainkan harus melacak akar permasalahan hingga ke pihak yang secara aktif memprovokasi warga atau menyembunyikan barang bukti.

Detik-detik Penyerangan dan Kehilangan Personel

Operasi penggerebekan di Katingan yang berujung pada penyerangan terhadap polisi terjadi setelah personel Polres Katingan, Aipda Yudhi Perdana Putra, gugur dalam peristiwa tersebut. Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri berkomitmen untuk memberikan dukungan dalam menangani kasus narkoba setelah kejadian ini. Dalam keterangan di Jakarta, Kamis (2/7), Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, menyebutkan bahwa selain Yudhi, dua personel lainnya, yaitu Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, juga belum ditemukan dalam operasi tersebut.

Menurut Eko, upaya pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan. Kehilangan dua anggota polisi tersebut memperumit situasi, karena tidak hanya satu korban yang tercatat, tetapi juga dua orang lainnya yang dinyatakan hilang. “Kita sedang berusaha memastikan keberadaan mereka,” jelas Eko.

Tim Pencarian Menemukan Korban Kedua

Beberapa hari setelah operasi, tim gabungan pencarian dan penyelamatan akhirnya berhasil menemukan dua personel yang hilang di aliran sungai wilayah Katingan. Kedua korban ditemukan dalam kondisi yang tergolong memprihatinkan, tetapi tetap hidup. Dengan temuan ini, total jumlah anggota kepolisian yang gugur dalam operasi tersebut meningkat menjadi tiga.

Insiden ini memicu sorotan terhadap tata kelola kejahatan narkoba di daerah tersebut. Martin menilai, jaringan penyelundupan dan distribusi narkoba masih memperkuat koalisi dengan masyarakat setempat, sehingga memungkinkan aksi penyerangan terhadap aparat keamanan. “Kita harus melacak siapa yang menyediakan senjata dan siapa yang memberi dukungan di balik layar,” imbuhnya.

Kebutuhan Penyelidikan Profesional dan Kesadaran Masyarakat

Dalam keterangannya, Martin juga menekankan bahwa penegakan hukum harus terus ditingkatkan, termasuk memperkuat koordinasi antara kepolisian dan pihak lain. Ia menyarankan adanya investigasi menyeluruh untuk mengungkap akar penyebab kekerasan tersebut, termasuk peran masyarakat atau kelompok tertentu yang diduga berkolaborasi dengan pelaku. “Kasus ini bukan hanya soal penyerangan, tapi juga tentang sistem korupsi dan kejahatan yang terstruktur,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Dittipidnarkoba Polri berencana memperkuat operasi di wilayah Katingan untuk memastikan jaringan narkoba yang terlibat dalam insiden ini tidak beroperasi lagi. Selain itu, Martin menilai perlunya edukasi masyarakat agar lebih mengerti dampak serius dari kejahatan narkoba, yang bisa mengancam keamanan publik. “Masyarakat harus sadar bahwa penyerangan terhadap polisi bisa menyebabkan korban yang tidak terduga,” katanya.

Langkah Kepolisian untuk Memastikan Keadilan

Kepolisian daerah setempat segera merespons insiden penyerangan tersebut dengan memulai penyelidikan. Pihak kepolisian menegaskan komitmen untuk menuntut para pelaku hingga ke tingkat teratas. Dalam pihaknya, Martin mengapresiasi upaya Polri yang sudah bergerak cepat, tetapi menilai perlu lebih banyak langkah untuk menangkap pelaku yang terlibat langsung maupun pendukung.

Menurut Martin, penyerangan tersebut menunjukkan tingkat ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah dalam menekan peredaran narkoba. “Ini bisa menjadi titik balik dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kepolisian, jika kasus ini ditangani secara transparan dan tuntas,” ujarnya.

Kesimpulan dan Harapan Masa