Topics Covered: Wamentan: Revitalisasi irigasi Rp14 triliun untuk dukung swasembada

246A1B34-908C-4B82-8EEF-F8E7BE847532

Wamentan: Revitalisasi Irigasi Rp14 Triliun untuk Dukung Swasembada

Program Revitalisasi Irigasi Menuju Kemandirian Pangan

Topics Covered – Di Jakarta, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan dana sebesar Rp14 triliun pada tahun 2026 untuk menjalankan program revitalisasi jaringan irigasi. Langkah ini bertujuan meningkatkan indeks pertanaman, produktivitas sektor pertanian, serta memperkuat upaya menuju swasembada pangan berkelanjutan. Dalam pernyataannya, Sudaryono menyebutkan bahwa anggaran untuk revitalisasi tersebut meningkat dari Rp12 triliun pada 2025 menjadi Rp14 triliun pada 2026, sebagai bagian dari rencana jangka panjang hingga tahun 2029.

“(Tahun) 2026 ini (anggaran yang dialokasikan) Rp14 triliun, dan akan diteruskan sampai dengan 2029. Diharapkan di ujung tahun sampai dengan 2029 itu, semua irigasi yang memang diperlukan untuk diperbaiki, itu kita perbaiki semua,” kata Sudaryono dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Menurut Sudaryono, percepatan revitalisasi irigasi dilakukan sebagai respons atas kebutuhan petani yang masih menghadapi tantangan pasokan air. Ribuan hektare lahan pertanian di berbagai wilayah Indonesia belum memadai dalam sistem irigasinya, sehingga menghambat pertumbuhan hasil panen. Ia menjelaskan bahwa program ini bertujuan memperbaiki infrastruktur pendukung pertanian secara bertahap, agar pada akhir 2029 semua jaringan irigasi dapat beroperasi secara optimal.

Langkah Strategis untuk Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Sudaryono menekankan bahwa perbaikan jaringan irigasi akan memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas petani. Dengan pengadaan air yang lebih merata, para petani diberi peluang untuk menanam tanaman lebih dari satu kali dalam setahun. “Kita harapkan dengan adanya irigasi orang bisa menanam, di musim kemarau bisa menanam. Yang tadinya menanam sekali bisa dua kali, yang dua kali jadi tiga kali,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa peningkatan pertanaman ini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperbaiki kesejahteraan petani. “Dan, itu selain negara kita dapat produktivitas petani, tapi petaninya juga tambah sejahtera, karena yang tadinya panen sekali bisa panen lebih dari sekali,” tambah Sudaryono.

Komitmen Presiden Prabowo untuk Kedaulatan Pangan

Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memiliki komitmen kuat untuk menjadikan swasembada pangan sebagai bagian dari strategi nasional. “Presiden Prabowo telah komit untuk membangun swasembada ini bukan hanya bagian dari ekonomi, tapi menjadi bagian dari ketahanan dan kedaulatan bangsa kita,” tutur Sudaryono.

Komitmen tersebut diungkapkan saat ia berbicara dalam acara Kopdar Tani dan Nelayan di Gorontalo, Selasa (23/6/2026), sebagai bagian dari Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII. Dalam pertemuan tersebut, Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia dalam mengurangi impor beras, jagung, dan gula merupakan pencapaian yang layak diapresiasi. Namun, pemerintah tetap berupaya memperkuat keberhasilan tersebut melalui berbagai inisiatif.

“Nggak impor pangan lagi, nggak impor beras lagi, nggak impor jagung lagi, nggak impor gula lagi. Itu kita syukuri, sembari kita juga secara perlahan kita perbaiki apa yang memang harus kita perbaiki,” kata dia.

Dalam menunjang swasembada pangan, pemerintah tidak hanya fokus pada revitalisasi irigasi, tetapi juga meningkatkan ketersediaan benih berkualitas, serta modernisasi alat mesin pertanian. “Kita perlu memastikan benih yang baik dan berkualitas, memperkuat sarana produksi, serta membenahi jaringan irigasi agar pembangunan pertanian semakin merata di seluruh wilayah Indonesia,” tambahnya.

Sudaryono memberi contoh bagaimana program ini akan diterapkan di daerah-daerah yang kurang optimal. “Misalnya, kita bagaimana membangun pertanian yang baik, sebaik pertanian yang di tempat lain, di Papua. Membangun pertanian di Papua sebagus pertanian di provinsi lain. Irigasi kita perbaiki, kepastian benih yang baik dan berkualitas kita pastikan dan seterusnya,” bebernya.

Upaya Bersinergi dengan Aspirasi Petani

Program revitalisasi jaringan irigasi bukan hanya sekadar anggaran, tetapi juga merupakan respons langsung terhadap aspirasi masyarakat tani. Sudaryono menjelaskan bahwa dalam perjalanan menuju swasembada, perbaikan sistem irigasi menjadi kunci utama. Tantangan pasokan air yang terus menghambat pertanian, terutama di musim kemarau, menjadi alasan mengapa program ini diperlukan.

Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya mewujudkan keberlanjutan dalam pertanian. “Dengan perbaikan infrastruktur irigasi, kita bisa memastikan pertanian berjalan lebih efisien, terutama di daerah yang masih mengalami kesulitan,” ujarnya. Hal ini diperkuat dengan adanya penyediaan benih berkualitas dan modernisasi alat mesin, yang dianggap sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas produksi.

Dalam keseluruhan rangkaian upaya tersebut, pemerintah berharap mampu menciptakan pertanian yang lebih merata dan sejahtera. “Selain menurunkan impor, kita juga ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani, karena produktivitas yang tinggi akan memberikan manfaat lebih luas,” imbuh Sudaryono. Ia menekankan bahwa program ini adalah bagian dari kebijakan nasional yang terintegrasi, baik dalam ekonomi maupun ketahanan pangan.

Peran Irigasi dalam Ketahanan Nasional

Menurut Sudaryono, peningkatan ketersediaan air melalui revitalisasi irigasi akan memberikan dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar meningkatkan hasil panen. “Dengan irigasi yang memadai, petani tidak hanya bisa memproduksi lebih banyak, tetapi juga mengurangi risiko gagal panen, terutama di wilayah yang rawan cuaca ekstrem,” katanya. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan sebagai bagian dari kedaulatan nasional.

Program revitalisasi yang dimulai pada 2025 dan diperkuat pada 2026, menurut Sudaryono, merupakan langkah awal menuju keberlanjutan pertanian. “Kita tidak ingin hanya mencapai swasembada sementara, tetapi juga memastikan bahwa pertanian bisa berkelanjutan, bahkan di masa depan,” ujarnya. Dengan demikian, pemerintah berharap dapat menciptakan sistem pertanian yang stabil, sekaligus meningkatkan daya tahan ekonomi masyarakat tani.

Dalam konteks ini, Sudaryono menyebutkan bahwa keberhasilan dalam membangun swasembada tidak bisa terlepas dari keberhasilan dalam mengembangkan pertanian yang berkualitas. “Kita perlu memastikan bahwa kebijakan ini mencakup seluruh aspek, mulai dari benih hingga alat mesin, serta akses air yang cukup,” bebernya. Dengan semangat kolaborasi, ia yakin program revitalisasi akan membawa dampak positif yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.