New Policy: Siasat untuk memutuskan hubungan yang tidak sehat
Siasat untuk Memutuskan Hubungan yang Tidak Sehat
New Policy – Jakarta – Dalam dunia hubungan manusia, keberhasilan memutus hubungan yang tidak sehat sering kali tergantung pada keberanian dan strategi yang tepat. Psikolog klinis Dra. A. Kasandra Putranto, lulusan Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa meskipun seseorang sudah menyadari bahaya dalam hubungan, proses pemutusan tetap memerlukan perencanaan matang. “Hubungan yang tidak sehat bisa berdampak mendalam, terutama jika sudah mengarah pada sikap dominan, emosional, atau bahkan tindakan kekerasan,” jelasnya dalam wawancara dengan ANTARA, Rabu.
Langkah Utama dalam Memutus Hubungan yang Tidak Sehat
Kasandra menekankan bahwa keamanan diri menjadi faktor utama dalam mengakhiri hubungan yang mengancam. “Jika pasangan terbiasa mengontrol, mengintimidasi, atau membuat korban merasa takut, maka prioritas utama adalah melindungi diri dari dampak negatif,” ujarnya. Ia menyarankan untuk memilih lingkungan yang aman saat mengambil keputusan, seperti bertemu dengan keluarga atau teman dekat. “Dengan adanya dukungan dari orang-orang terpercaya, individu bisa lebih percaya diri dalam menjalani langkah-langkah perubahan,” tambahnya.
Menurut Kasandra, membangun sistem pendukung sebelum memutus hubungan sangat penting. “Korban sering kali merasa kesepian atau terisolasi, sehingga membagi rencana dengan orang terdekat menjadi langkah yang dibutuhkan,” katanya. Ia menyoroti bahwa para pelaku kecenderungan mengontrol sering kali memanipulasi emosi korban agar tetap bergantung. “Korban bisa kehilangan kemampuan membuat keputusan sendiri, bahkan saat sudah menyadari bahwa hubungan tersebut tidak sehat,” tambahnya.
Pentingnya Konseling dalam Proses Pemutusan
Melalui konseling dengan tenaga profesional, Kasandra menyarankan korban bisa memahami dinamika hubungan mereka. “Proses ini membantu meningkatkan kesadaran diri, mengembalikan kepercayaan, dan merencanakan langkah-langkah aman untuk berpisah,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa konseling bisa menjadi wadah untuk mengungkap emosi yang terpendam dan merancang strategi berdasarkan kebutuhan pribadi.
Dalam beberapa kasus, pasangan yang terlibat dalam hubungan tidak sehat sering kali menggunakan teknik manipulasi emosional untuk mempertahankan ikatan. “Mereka bisa mengancam, menjanjikan hal-hal yang menggiurkan, atau memanfaatkan rasa bersalah korban untuk menunda keputusan perpisahan,” jelas Kasandra. Oleh karena itu, korban harus tetap fokus pada tujuan akhir, yaitu keamanan dan kesejahteraan diri sendiri.
Kebutuhan untuk Menetapkan Batasan Jelas
Menurut psikolog tersebut, pentingnya menyampaikan batasan secara jelas dan tegas tidak bisa diabaikan. “Ketika keputusan sudah final, sampaikan secara langsung tanpa menyisipkan harapan yang tidak pasti,” katanya. Ia menegaskan bahwa kejelasan dalam komunikasi bisa mengurangi kemungkinan pasangan melakukan upaya manipulasi lagi.
Kasandra juga menyoroti bahwa dalam proses pemutusan hubungan, korban harus menghindari perdebatan yang memperpanjang waktu. “Perdebatan bisa menjadi alat untuk mengusik ketenangan dan membuat korban ragu,” ujarnya. Ia menyarankan untuk tetap konsisten dengan keputusan, meskipun pasangan berusaha menawarkan alternatif lain. “Korban perlu mengingat bahwa keputusan mereka adalah langkah penting untuk kehidupan yang lebih baik.”
Penyebab Umum Perilaku Kontrol dalam Hubungan
Kasandra menjelaskan bahwa kecenderungan untuk mengontrol sering muncul dari rasa tidak aman atau kebutuhan dominasi. “Para pelaku mungkin merasa tidak cukup percaya pada diri sendiri, sehingga mengontrol menjadi cara untuk menciptakan rasa ketergantungan pada korban,” katanya. Perilaku ini bisa mencakup tindakan seperti membatasi waktu bersosialisasi, mengintimidasi secara verbal, atau memanipulasi dengan penggunaan media sosial.
Ia juga menyebut bahwa korban dalam hubungan ini sering kali mengalami penurunan rasa percaya diri yang signifikan. “Korban bisa merasa bahwa mereka tidak layak untuk hidup mandiri, bahkan jika sudah memutuskan untuk pergi,” jelas Kasandra. Hal ini terjadi karena psikologis dari hubungan yang tidak sehat menanamkan pola pikir bahwa perubahan akan memicu ketidakstabilan emosional.
Contoh Praktis untuk Memutus Hubungan
Menggunakan contoh nyata, Kasandra mengatakan bahwa korban bisa memulai dengan berkomunikasi secara terbuka dengan pasangan. “Sebelum memutus hubungan, jadilah jujur tentang kebutuhan dan perasaan Anda,” katanya. Ia juga menyarankan untuk mempersiapkan rencana, seperti menetapkan jadwal bertemu keluarga atau mengatur dana darurat. “Keputusan yang diambil harus didukung oleh strategi konkret agar tidak tergagalkan oleh tekanan dari pasangan.”
Menurut Kasandra, kunci sukses dalam pemutusan hubungan adalah mempertahankan keteguhan pada tujuan. “Jangan biarkan pasangan membawa Anda ke dalam lingkaran pemikiran yang membuat Anda merasa bersalah atau takut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa fase awal perpisahan bisa menantang, tetapi dengan persiapan yang matang, korban bisa mempercepat proses dan mengurangi konflik emosional.
Langkah-Langkah untuk Menghindari Manipulasi Emosional
Sebagai tindak lanjut, Kasandra mengatakan bahwa korban perlu memahami cara pasangan menggunakan emosi untuk menahan korban. “Pasangan bisa menyebarkan kebohongan, menciptakan perasaan ‘kita terjebak bersama’, atau bahkan mengancam akan menyakitkan korban jika tetap bertahan,” jelasnya. Oleh karena itu, korban sebaiknya bersiap dengan fakta dan bukti-bukti yang bisa membantu menguatkan keputusan mereka.
Dalam keadaan darurat, Kasandra menyarankan untuk segera mencari bantuan dari orang terdekat atau lembaga khusus. “Jika pasangan mulai berperilaku agresif atau mengancam keamanan diri, maka perlu adanya campur tangan eksternal,” katanya. Ia juga menyebut bahwa dukungan dari komunitas atau kelompok bantuan bisa memberikan ruang untuk korban memulihkan diri secara bertahap.
Analisis Perilaku dalam Hubungan yang Tidak Sehat
Kasandra menegaskan bahwa hubungan yang tidak sehat tidak hanya tentang fisik, tetapi juga emosional dan psikologis. “Kontrol yang terus-menerus dapat menghambat pertumbuhan pribadi korban, membuat mereka merasa terjebak dalam siklus yang berulang,” katanya. Perilaku ini sering kali dimulai dari kecil, seperti memberi saran yang selalu diterima, hingga berkembang menjadi dominasi penuh.
Dalam proses pemutusan, Kasandra menyarankan untuk mencatat tanda-tanda bahaya sejak awal. “Korban perlu mengamati pola perilaku, seperti perubahan temperamen pasangan atau penurunan kepercayaan diri diri sendiri,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya menerima dukungan dari orang-orang sekitar, karena keputusan besar seperti memutus hubungan memerlukan persetujuan penuh dari lingkungan sosial.
Selain itu, Kasandra menambahkan bahwa memutus hubungan sehat dilakukan dengan pola pikir yang jernih. “Korban harus mengingat bahwa mereka tidak sendirian, dan semua langkah yang diambil adalah bagian dari proses pemulihan,” katanya. Ia juga menyarankan untuk membangun kembali hubungan dengan diri sendiri, agar keputusan yang diambil tidak hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga pada kesejahteraan jangka panjang.
Kesimpulan dan Saran Akhir
Menyimpulkan, Kasandra mengatakan bahwa mengakhiri hubungan tidak sehat adalah keputusan yang membutuhkan keberanian, persiapan, dan dukungan. “Korban perlu yakin
