Special Plan: Pakar: Pembangunan transportasi publik tingkatkan ekonomi daerah

IMG-20260612-WA0021

Pakar Transportasi: Infrastruktur Angkutan Umum Dorong Peningkatan Ekonomi Wilayah

Special Plan –

Tangerang, Banten – Pakar bidang transportasi, Piter Abdullah, menekankan bahwa pengembangan sistem angkutan umum yang terpadu memiliki peran signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, peningkatan kualitas transportasi publik bukan hanya sekadar memudahkan mobilitas, tetapi juga menjadi pendorong untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah. “Untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, salah satu langkah penting adalah menyediakan transportasi umum yang optimal, karena hal ini sangat berkontribusi terhadap kemudahan akses dan kualitas hidup warga,” ujar Piter dalam pernyataan yang diterima di Tangerang, Jumat.

Ketergantungan Pendapatan pada Transportasi

Sebagai wujud strategi pembangunan, Piter menyoroti bahwa penyediaan sarana angkutan massal yang memadai bisa menjadi fondasi awal bagi pemerintah daerah untuk mengurangi beban kehidupan penduduk. Ia menjelaskan bahwa di Jakarta, sebagian besar masyarakat membutuhkan dana signifikan untuk memenuhi kebutuhan transportasi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pendapatan minimum provinsi mencapai Rp5,7 juta, tetapi sekitar 25 hingga 30 persen dari jumlah tersebut dialokasikan hanya untuk biaya perjalanan.

Analisis Pengeluaran Komuter Jabodetabek

Dalam studi BPS, terungkap bahwa sebanyak 28,6 persen pekerja komuter di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) menghabiskan minimal Rp25 ribu per hari untuk transportasi, yang setara dengan Rp750 ribu per bulan. Sementara itu, 14,7 persen komuter lainnya mengeluarkan antara Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari, dan hanya 8,2 persen yang membutuhkan biaya di bawah Rp5.000 per hari. Piter menambahkan, angka ini menunjukkan betapa besar pengaruh transportasi terhadap perekonomian daerah, terutama bagi lapisan masyarakat yang bergantung pada perjalanan sehari-hari.

Manfaat Perlintasan Angkutan Massal

Keberadaan infrastruktur angkutan massal seperti stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) dan Lintas Raya Terpadu (LRT) ternyata tidak hanya mengurangi biaya transportasi, tetapi juga memicu dinamika ekonomi di sekitarnya. Piter menjelaskan bahwa titik-titik perlintasan tersebut menjadi pusat aktivitas ekonomi, dengan meningkatkan akses ke pasar, pusat perbelanjaan, dan tempat kerja. “Dengan transportasi yang nyaman dan terjangkau, masyarakat tidak hanya bisa menghemat pengeluaran, tetapi juga mengalihkan dana ke sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, dan gaya hidup,” tambahnya.

Perlu Reproduksi di Wilayah Lain

Bukan hanya Jakarta, Piter menekankan bahwa manfaat dari pembangunan angkutan umum harus diterapkan secara merata di seluruh daerah Indonesia. “Dampak positif ini tidak boleh terbatas pada kota besar, melainkan harus diwujudkan di tingkat kabupaten dan kota,” ujar dia. Ia menambahkan, pemerintah daerah perlu memiliki komitmen politik yang kuat untuk memastikan proyek transportasi tetap berjalan meski ada perubahan kepemimpinan.

Pengembangan Infrastruktur Jangka Panjang

Menurut Piter, meski membutuhkan investasi besar, pembangunan infrastruktur transportasi jangka panjang memiliki return yang signifikan. Peningkatan kemudahan akses memungkinkan masyarakat lebih banyak berpartisipasi dalam pasar kerja, sehingga meningkatkan pendapatan dan kontribusi pajak. “Pertumbuhan ekonomi yang tercipta dari angkutan umum bisa berdampak pada berbagai sektor, mulai dari usaha kecil hingga industri besar,” kata dia.

Kebutuhan Kemitraan dan Skema Keuangan

Untuk mengatasi keterbatasan anggaran, Piter menyarankan penerapan skema Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang lebih luas. Ia juga menekankan pentingnya penerbitan obligasi daerah sebagai sumber pendanaan tambahan. “Dengan model ini, pemerintah bisa menggandeng swasta untuk mengurangi beban finansial,” jelasnya. Namun, ia menyoroti bahwa kepastian hukum tetap menjadi faktor kunci untuk menarik minat investor, mengingat adanya risiko perubahan kebijakan saat pergantian kepemimpinan terjadi.

Dampak Berantai yang Luas

Piter Abdullah memprediksi bahwa efek berantai dari pembangunan angkutan umum akan terasa jauh lebih luas dari sekadar meningkatkan kecepatan dan efisiensi transportasi. “Perubahan ini akan mengubah dinamika perekonomian wilayah yang dilewati, termasuk memicu pertumbuhan usaha lokal dan meningkatkan daya beli masyarakat,” katanya dalam pernyataan yang sama. Ia mencontohkan bahwa keberadaan stasiun MRT atau LRT bisa menjadi pemicu keberlanjutan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan menciptakan akses yang lebih baik ke konsumen dan sumber daya.

Langkah Strategis untuk Kesejahteraan

Dalam penjelasannya, Piter menyatakan bahwa investasi dalam transportasi umum adalah langkah strategis untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif. “Pemda harus memprioritaskan angkutan massal sebagai bagian dari kebijakan pembangunan jangka panjang, karena manfaatnya tidak hanya terbatas pada kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” ujarnya.

Keyakinan pada Potensi Pembangunan

Menurut Piter, efek berantai dari peningkatan infrastruktur transportasi akan menghasilkan perubahan mendasar. “Peningkatan aksesibilitas akan mempercepat proses perekonomian, memicu inovasi, dan menurunkan biaya hidup warga,” katanya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini bergantung pada komitmen yang konsisten dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, serta masyarakat.

Kesimpulan

Peran transportasi umum sebagai penggerak perekonomian tidak bisa dipandang remeh. Piter Abdullah menegaskan bahwa pemerintah daerah harus mengambil langkah nyata untuk mengembangkan sistem angkutan yang terpadu, dengan memperhitungkan kebutuhan masyarakat dan potensi ekonomi yang tersembunyi. “Dengan angkutan yang baik, masyarakat tidak hanya lebih sejahtera, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” tutupnya.

“Melihat dari efek berantainya, saya optimis dampaknya besar sekali. Yang akan kita ubah dampaknya tidak terbatas pada hal yang terkait dengan transportasi itu sendiri, tapi dia akan mengubah daerah yang dilewati,”

Demikian pendapat Piter Abdullah, yang menyoroti bahwa pembangunan transportasi publik adalah kunci untuk mewujudkan kemakmuran yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia.