Key Issue: Indonesia hadirkan inovasi pertanian cerdas pada Konferensi FAO Roma

WhatsApp-Image-2026-07-02-at-14.56.55

Indonesia Sajikan Inovasi Pertanian Cerdas di Konferensi FAO Roma

Key Issue – Di tengah gelaran Konferensi Global FAO tentang Pertanian Cerdas di Roma, Italia, Indonesia menjadi sorotan dengan memperkenalkan sejumlah inovasi terkini dalam bidang pertanian. Acara ini diselenggarakan pada Rabu, 1 Juli, di Foods Lab, FAO Museum, dan diikuti oleh Duta Besar RI untuk Italia dan PBB, Junimart Girsang, bersama tim penyelenggara dari KBRI Roma serta Kantor Perwakilan FAO di Indonesia. Pameran kuliner yang menjadi bagian dari acara, berjudul “Flavours of the Archipelago: From Smart Farms to Diverse Foods”, menampilkan perpaduan antara kekayaan budaya dan teknologi modern dalam mengembangkan sistem pangan yang lebih tangguh.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat. Dengan populasi sekitar 290 juta orang, keberlanjutan pertanian menjadi prioritas utama. Dalam wawancara khususnya, Dubes Junimart Girsang menekankan bahwa keberagaman budaya dan tradisi Indonesia mencerminkan kekayaan sumber daya alam serta keahlian lokal dalam pertanian. “Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menciptakan sistem pangan yang adaptif dan inovatif,” ujarnya, Kamis.

“Keanekaragaman Indonesia yang luar biasa tercermin dalam kekayaan budaya dan tradisinya, termasuk dalam tradisi kuliner dan pertanian kita,” kata Dubes Junimart Girsang. Ia menjelaskan bahwa pertanian cerdas bukan hanya sekadar teknologi, tetapi juga cara menggabungkan warisan lokal dengan pendekatan modern untuk menghasilkan makanan yang lebih bervariasi sekaligus menjamin keberlanjutan.

Menurut Girsang, inovasi pertanian di Indonesia tidak melupakan akar tradisi. “Kita percaya bahwa tradisi dan inovasi dapat saling melengkapi,” tuturnya. Ia menyoroti beberapa solusi yang dikembangkan, seperti penggunaan teknologi informasi (IoT) dalam monitering pertanian, metode pertanian terpadu, serta pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien. “Dengan teknologi ini, petani bisa mengoptimalkan produksi sambil menjaga lingkungan,” tambahnya.

Direktur Divisi Produksi dan Perlindungan Tanaman FAO, Yurdi Yasmi, menyoroti beberapa tantangan yang dihadapi sektor pertanian global. Ia menyebutkan bahwa perubahan iklim dan degradasi tanah serta air menjadi ancaman serius. “Selain itu, kenaikan biaya alat pertanian seperti pupuk dan benih juga menghambat kemajuan sektor ini,” jelas Yasmi. Ia menekankan bahwa konferensi ini bertujuan untuk mengidentifikasi solusi yang mampu mengatasi masalah tersebut, baik melalui kolaborasi internasional maupun penerapan lokal.

Indonesia memilih untuk menghadirkan contoh nyata dari inovasi pertanian yang telah diujicoba di beberapa daerah. Dalam pameran tersebut, pengunjung dapat melihat bagaimana teknologi seperti drone untuk pemantauan tanaman, sistem irigasi berbasis sensor, dan penggunaan energi terbarukan dalam pertanian skala kecil. “Kita ingin menunjukkan bahwa pertanian cerdas bisa diakses oleh semua petani, terlepas dari ukuran lahan mereka,” kata salah satu peserta acara.

Selain teknologi, inovasi ini juga memperhatikan aspek sosial. Girsang menyebutkan bahwa partisipasi tenaga kerja lokal menjadi kunci keberhasilan. “Dengan melibatkan masyarakat dalam proses inovasi, kita bisa memastikan bahwa solusi ini relevan dengan kebutuhan sehari-hari mereka,” katanya. Hal ini sejalan dengan visi FAO untuk menciptakan pertanian yang inklusif dan berkelanjutan. Konferensi ini menjadi platform bagi negara-negara berkembang untuk berbagi pengalaman dan menggali potensi lokal mereka.

Tantangan Global dan Solusi Lokal

Yasmi menambahkan bahwa keberlanjutan pertanian tidak hanya tentang produksi, tetapi juga distribusi dan konsumsi. “Kita harus menghadapi perubahan iklim, keterbatasan lahan, serta fluktuasi harga bahan bakar dan pupuk,” katanya. Di sisi lain, ia berharap inovasi dari Indonesia bisa menjadi inspirasi bagi negara-negara lain. “Sistem agripangan kita mencerminkan keberagaman bahan baku, teknik, dan pendekatan yang berbeda, tetapi sama-sama efektif,” ujarnya.

Kebutuhan pangan yang meningkat memaksa Indonesia terus mencari cara baru untuk meningkatkan produktivitas. Pada acara ini, pihak FAO mengapresiasi upaya pemerintah Indonesia dalam menstimulasi pertanian berbasis teknologi. “Ini bukan hanya tentang pertanian, tetapi juga keberlanjutan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat,” katanya. Dengan adanya pertanian cerdas, pemerintah berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.

Upaya Meningkatkan Kualitas Makanan

Indonesia juga menekankan pentingnya diversifikasi makanan sebagai bagian dari inovasi pertanian. Dalam pameran, berbagai jenis makanan lokal yang diproduksi dari pertanian cerdas ditampilkan, seperti sayuran berbasis hidroponik, ikan yang dipelihara dengan teknik modern, serta buah-buahan yang dikembangkan untuk tahan lama. “Dengan teknologi ini, kita bisa menghasilkan makanan yang lebih sehat dan bervariasi,” jelas salah satu penyelenggara acara.

Konferensi ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk membangun kemitrahan global. Girsang menegaskan bahwa kolaborasi dengan negara lain sangat penting dalam menghadapi tantangan pertanian di masa depan. “Dengan saling berbagi pengetahuan, kita bisa mengatasi masalah yang sama secara bersama,” katanya. Selain itu, inovasi ini juga bertujuan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya alam, termasuk air dan tanah, yang menjadi dasar pertanian.

Dubes Girsang menutup wawancaranya dengan menyoroti pentingnya kearifan lokal dalam pertanian. “Kita tidak perlu mengganti tradisi, tetapi memperkuatnya dengan teknologi,” katanya. Ia menambahkan bahwa pameran ini memberikan gambaran bagaimana Indonesia bisa menjaga kekayaan tradisinya sambil tetap inovatif. “Kita ingin menunjukkan bahwa pertanian cerdas adalah jalan untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Dengan berbagai inovasi yang dipamerkan, Indonesia mengharapkan Konferensi FAO ini menjadi langkah awal dalam mendorong pertanian global menuju keberlanjutan. Selain teknologi, pihak Indonesia juga menyoroti pentingnya pendidikan dan pelatihan bagi petani dalam mengadopsi solusi baru. “Kita harus memastikan bahwa petani memiliki keterampilan untuk mengoperasikan teknologi ini secara efektif,” ujar Yasmi. Dengan perpaduan antara tradisi dan inovasi, Indonesia berkomitmen untuk membangun sistem pertanian yang kuat, tangguh, dan adaptif terhadap tantangan global.