Solution For: Kapolres: 104 warga Distrik Manggelum mengungsi takut gangguan KKB

1002325923

Kapolres: 104 Warga Distrik Manggelum Mengungsi Akibat Ancaman KKB

Solution For – Jayapura – Kapolres Boven Digoel, Ajun Komisaris Besar Polisi Wisnu Putra Perdana, mengungkapkan bahwa sebanyak 104 orang warga Distrik Manggelum terpaksa mengungsi ke Tanah Merah karena kekhawatiran terhadap gangguan keamanan yang dilakukan oleh kelompok KKB. Wisnu, yang dihubungi dari Jayapura, Papua, pada hari Minggu, menjelaskan bahwa para pengungsi, termasuk anak-anak, saat ini sudah berada di ibu kota Kabupaten Boven Digoel setelah melarikan diri dari kampung halamannya menggunakan perahu motor.

Situasi di Distrik Manggelum yang Memicu Evakuasi

Menurut Kapolres, situasi keamanan di Distrik Manggelum menjadi tidak stabil setelah kelompok KKB melakukan serangkaian aksi yang menciptakan ketegangan. “Kedatangan KKB menyebabkan kondisi wilayah tersebut menjadi tidak kondusif, terutama karena mereka dilaporkan membakar fasilitas kesehatan,” kata Wisnu. KKB, yang merupakan kelompok kriminal bersenjata, dikenal aktif di daerah tersebut selama beberapa bulan terakhir, dengan ancaman serangan yang meningkat drastis. Kondisi ini membuat warga lokal merasa tidak aman, sehingga memutuskan untuk meninggalkan kampung mereka dan berpindah ke lokasi yang lebih aman.

“Kedatangan KKB menyebabkan kondisi wilayah tersebut menjadi tidak kondusif, terutama karena mereka dilaporkan membakar fasilitas kesehatan,” kata Wisnu.

Perjalanan ke Tanah Merah dan Dukungan Petugas

Sebelum tiba di Tanah Merah, para pengungsi sempat berhenti di Distrik Kouh, di mana personel keamanan setempat membantu menjamin keselamatan selama perjalanan mereka. Setibanya di Tanah Merah pada hari Sabtu (6/6), warga Distrik Manggelum langsung disambut oleh petugas Polres Boven Digoel dengan pelayanan kemanusiaan. Kapolres menjelaskan bahwa mereka ditampung di aula Mapolres Boven Digoel, tempat yang disediakan untuk menjaga kebutuhan dasar para pengungsi.

Sejumlah warga mengungkapkan bahwa keberadaan KKB telah memengaruhi rutinitas harian mereka. “Kami terpaksa meninggalkan rumah karena takut akan serangan yang bisa terjadi kapan saja,” ujar salah satu warga. Dalam perjalanan ke Tanah Merah, para pengungsi mengalami beberapa hambatan, termasuk jalan yang terisolasi dan gangguan dari aktivitas KKB. Namun, bantuan dari petugas keamanan di Distrik Kouh membantu mengurangi risiko selama perpindahan.

Pelayanan Kesehatan dan Koordinasi dengan Instansi Terkait

Kapolres menyebutkan bahwa petugas kesehatan telah melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan para pengungsi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan tidak ada warga yang mengalami cedera atau penyakit akibat dari perjalanan kecil mereka. Selain itu, pihak kepolisian juga berupaya memastikan kebutuhan pangan dan air minum tersedia untuk mengatasi krisis akibat kekhawatiran terhadap ancaman keamanan.

Mengenai upaya memulihkan situasi, Kapolres menegaskan bahwa Polres Boven Digoel terus berkoordinasi dengan Pemkab Boven Digoel, Kodim, serta instansi terkait. “Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan keamanan, keselamatan, dan kebutuhan dasar para pengungsi dapat terpenuhi secara optimal,” jelasnya. Pihak kepolisian juga bekerja sama dengan TNI guna menangani keamanan wilayah dan memastikan gangguan dari KKB berkurang.

“Kami juga terus berkoordinasi dengan TNI dan Pemda Boven Digoel terkait masalah keamanan di Distrik Manggelum agar kembali kondusif sehingga masyarakat bisa pulang ke kampung halamannya dan menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman,” kata Kapolres.

Histori KKB dan Dampak pada Masyarakat

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) telah lama menjadi ancaman bagi warga Distrik Manggelum. Sejak beberapa bulan terakhir, kelompok ini dikenal melakukan serangan terhadap fasilitas publik, seperti klinik dan pusat layanan kesehatan. Tindakan mereka tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga mengurangi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang vital. Selain itu, kehadiran KKB juga memicu peningkatan kewaspadaan dan pengurangan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.

Wisnu menambahkan bahwa kondisi keamanan yang tidak stabil ini menyebabkan banyak warga memutuskan untuk mengungsi. “Kedatangan KKB tidak hanya menyebabkan peningkatan kecemasan, tetapi juga membuat beberapa warga merasa terancam secara fisik,” katanya. Pemkab Boven Digoel, bersama dengan Kodim dan kepolisian, berupaya keras untuk memulihkan keadaan dengan memperkuat pengawasan di wilayah rawan dan mengambil langkah-langkah pencegahan serangan yang lebih efektif.

Kesiapan untuk Kembali ke Kampung Halaman

Saat ini, para pengungsi sedang menunggu kondisi wilayah Distrik Manggelum stabil agar bisa kembali ke kampung halamannya. Kapolres menyatakan bahwa pihaknya sedang berupaya mengembalikan keadaan normal dengan memastikan bahwa semua fasilitas kesehatan dan keamanan telah diperbaiki. “Kami berharap situasi akan segera membaik sehingga warga bisa kembali ke rumah dengan tenang,” ujar Wisnu.

Koordinasi antarinstansi juga melibatkan tim khusus yang diberi tugas untuk memantau kegiatan KKB. Tim ini akan melakukan investigasi dan memperketat pemeriksaan terhadap pergerakan anggota KKB di sekitar Distrik Manggelum. Selain itu, pihak kepolisian juga berencana membangun posko darurat di daerah terdampak untuk memberikan perlindungan lebih lanjut kepada warga yang terkena dampak.

Upaya Pemulihan dan Tanggung Jawab Pemerintah

Kapolres menjelaskan bahwa pemerintah daerah dan kepolisian berkomitmen untuk menjamin kebutuhan mendasar para pengungsi. “Kami tidak hanya memberikan perlindungan keamanan, tetapi juga memastikan bahwa warga memiliki akses terhadap makanan, obat-obatan, dan layanan pendidikan,” tuturnya. Dalam rangka memperkuat dukungan, Pemkab Boven Digoel juga mengalokasikan dana darurat untuk membantu masyarakat yang terdampak.