Desak Made bawa pulang satu-satunya medali dari Wujiang bagi Indonesia

Desak Made bawa pulang satu-satunya medali dari Wujiang bagi Indonesia

Desak Made bawa pulang satu satunya – Jakarta – Dalam ajang World Climbing Series Wujiang 2026 yang berlangsung di China, atlet panjat tebing wanita Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi, menjadi penampil terbaik dan satu-satunya kontingen yang mengantarkan medali untuk Merah Putih. Berjuang di kategori speed individu putri, ia berhasil meraih perunggu setelah mengalahkan wakil Polandia Natalia Kalucka di babak perebutan tempat ketiga atau small final. Waktu yang dicatatkan Desak adalah 6,17 detik, sedangkan lawannya mencatatkan 6,39 detik. Hasil ini mencerminkan upaya maksimal dalam kompetisi yang sangat ketat.

Kontribusi Desak Made memperlihatkan ketahanan dan konsistensi atlet Indonesia dalam ajang internasional. Meski tidak mendapatkan medali emas, perunggu yang diperolehnya tetap berarti sebagai capaian signifikan. Dalam perjalanan ke babak final, ia harus melewati beberapa babak eliminasi sebelum menghadapi Natalia Kalucka. Desak juga sempat bertanding melawan rekan senegara, Rajiah Sallsabillah, di babak 16 besar. Pada pertandingan itu, waktu 6,36 detik yang ia catatkan mengantarkan keberhasilan, sementara Rajiah tercatat dengan 6,53 detik.

Perjuangan Desak tidak berhenti di babak perempat final. Ia melanjutkan laga melawan atlet Amerika Serikat, Isis Rothfork, dan kembali memperlihatkan kemampuan luar biasa dengan waktu 7,61 detik. Lawannya gagal menorehkan catatan waktu, sehingga Desak lolos ke semifinal. Namun, babak itu justru menjadi puncak perjalanan kejuarannya. Di semifinal, ia tumbang menghadapi Aleksandra Kalucka, atlet Polandia yang akhirnya menjadi pemenang medali emas. Waktu 6,33 detik yang Desak catatkan tidak cukup mengalahkan lawannya yang mencatatkan 6,09 detik.

Keberhasilan Desak Made dalam turnamen ini menjadi sorotan karena kemungkinan besar ia menjadi satu-satunya atlet Indonesia yang mengantarkan medali di lomba tersebut. Kemenangan perunggu ini menjadi penghargaan untuk usaha dan latihan yang telah ia tekuni. Sementara itu, medali emas diraih oleh Aleksandra Kalucka, yang menundukkan Elizaveta Ivanova dalam babak final. Ivanova, seorang atlet netral individu (AIN), tidak menggunakan bendera atau lagu kebangsaan negaranya saat bertanding. AIN mayoritas berasal dari Rusia dan Belarus, yang berpartisipasi tanpa identitas nasional.

Babak small final dan big final di Wujiang 2026 memperlihatkan perbedaan tingkat keberhasilan atlet. Dalam small final, Desak Made berhasil mengalahkan Natalia Kalucka, sementara dalam big final, Aleksandra Kalucka menang atas Ivanova. Meski waktu yang dicatatkan Aleksandra lebih cepat, kemenangan itu menjadi bukti dominasi tim Polandia dalam lomba tersebut. Bagi Indonesia, Desak Made tetap berperan penting karena ia menjadi harapan utama di kompetisi yang menampilkan para atlet internasional.

Keberhasilan Desak tidak terlepas dari persiapan yang matang dan dukungan dari tim pelatih. Dalam babak kualifikasi, ia telah menunjukkan kemampuan yang konsisten, hingga akhirnya memasuki babak putaran final. Keberhasilannya di babak 16 besar dan perempat final menunjukkan bahwa ia mampu bertahan hingga fase akhir. Meski di semifinal, ia harus mengakui keunggulan Aleksandra Kalucka, perunggu ini tetap menjadi pencapaian bersejarah bagi Indonesia.

Dalam turnamen ini, Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing (PP FPTI) mengirim sembilan atlet disiplin speed. Kesembilan atlet tersebut terdiri dari lima pemain putra dan empat putri. Meski hanya Desak Made yang mampu meraih medali, partisipasi lainnya tetap berperan dalam memperkuat eksistensi Indonesia di panggung dunia. Sementara itu, pihak organisasi mengapresiasi keberhasilan atlet dalam menghadapi tantangan yang ada, sekaligus menegaskan komitmen untuk terus memperbaiki prestasi di level internasional.

Desak Made, berusia 25 tahun, menyatakan bahwa medali perunggu menjadi penghargaan yang berarti bagi dirinya dan tim. “Ini bukan hanya hasil individu, tetapi juga kerja keras seluruh tim,” katanya dalam wawancara pasca-turnamen. Ia berharap pengalaman ini bisa menjadi dasar untuk mengarungi kompetisi lebih besar. Sementara itu, para atlet lainnya terus berupaya menghadapi kesulitan dalam menembus babak final.

Dalam babak kualifikasi, Desak menunjukkan kemampuan yang stabil, h