Kemendag: Industri pengolahan dominasi ekspor RI di awal 2026

Kemendag: Sektor Industri Pengolahan Ungguli Ekspor RI di Awal Tahun 2026

Kemendag – Dalam laporan terbaru yang diterbitkan oleh Kemendag, sektor industri pengolahan berperan dominan dalam mendorong pertumbuhan ekspor Indonesia selama tiga bulan pertama tahun 2026. Menurut data yang dirilis oleh Kemendag, kontribusi sektor ini mencapai 82,25 persen dari total nilai ekspor nasional, menunjukkan dominasi signifikan dalam pemasukan dagang. Dalam periode Januari-Maret 2026, total ekspor mencapai 54,98 miliar dolar AS, naik 3,96 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 52,89 miliar dolar AS. Pertumbuhan ini menunjukkan kemajuan yang kuat, terutama dalam industri yang mengolah bahan baku menjadi produk siap pakai.

Pertumbuhan Ekspor Berasal dari Sektor Kunci

Sektor industri pengolahan, seperti bahan logam, kimiawi, dan elektronik, menjadi pendorong utama peningkatan ekspor. Kemendag menyebutkan bahwa naiknya harga komoditas global, terutama untuk bahan-bahan seperti nikel, aluminium, dan bahan kimia organik, berkontribusi besar terhadap hasil positif ini. Ekspor nikel mencatatkan pertumbuhan terbesar sebesar 60,60 persen, diikuti oleh timah yang tumbuh 49,09 persen, serta aluminium dengan kenaikan 40,97 persen. Bahan kimia organik dan anorganik juga mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 21,44 persen dan 14,46 persen, yang membantu menjaga stabilitas kinerja sektor non-migas.

Fluktuasi di Sektor Pertanian dan Pertambangan

Berbeda dengan sektor industri pengolahan, pertanian dan pertambangan mengalami penurunan dalam kontribusi ekspor. Kemendag mencatatkan bahwa sektor pertanian mengalami kontraksi sebesar 32,18 persen, terutama karena penurunan permintaan untuk komoditas seperti kopi, teh, dan rempah-rempah. Di sisi lain, sektor pertambangan juga menurun 11,17 persen, yang dipengaruhi oleh perubahan harga di pasar internasional. Meski demikian, keberhasilan sektor industri pengolahan membantu menjaga total ekspor tetap positif.

Menurut Budi Santoso, Menteri Perdagangan RI, keberhasilan sektor industri pengolahan mencerminkan kinerja strategi pemerintah dalam memperkuat sektor manufaktur dan memanfaatkan potensi ekspor. Kemendag telah bekerja sama dengan berbagai instansi untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar ekspor. Dukungan ini terbukti efektif dalam meningkatkan nilai ekspor non-migas yang mencapai 63,60 miliar dolar AS pada Januari-Maret 2026.

Ekspor ke Pasar Baru Memberi Dukungan

Sebagai bagian dari upaya Kemendag, pertumbuhan ekspor non-migas juga didorong oleh ekspor ke pasar-pasar baru. Negara-negara seperti Spanyol, Mesir, Tiongkok, Thailand, dan Belanda menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan Spanyol mencatatkan kenaikan 38,86 persen, Mesir sebesar 25,43 persen, serta Tiongkok 17,49 persen. Kemendag berupaya memperluas akses pasar ke kawasan nontradisional, termasuk Asia Tengah, Afrika Utara, Asia Timur, Amerika Selatan, dan Afrika Barat. Peningkatan ekspor ke daerah-daerah ini mencerminkan diversifikasi strategi diplomatik dan ekonomi.

Kinerja Bulan Maret: Peningkatan Bulanan di Tengah Tahunan yang Turun

Dalam bulan Maret 2026, Kemendag mencatatkan pertumbuhan ekspor sebesar 1,62 persen dibandingkan Februari. Namun, secara tahunan, ekspor masih mengalami penurunan sebesar 3,10 persen. Pertumbuhan bulanan ini didorong oleh kenaikan ekspor migas yang mencapai 18,60 persen. Meski demikian, sektor non-migas juga menunjukkan peningkatan 0,75 persen, yang membantu menjaga total pemasukan dagang nasional tetap stabil.

Strategi Kemendag untuk Meningkatkan Ekspor Non-Migas

Kemendag terus mengambil langkah strategis untuk memperkuat ekspor non-migas. Dalam laporan terkini, kontribusi sektor ini terus meningkat, terutama karena optimisasi regulasi, penguatan jaringan distribusi, serta peningkatan kualitas produk. Budi Santoso mengungkapkan bahwa ekspor bijih logam, terak, dan abu mengalami lonjakan mencolok sebesar 8.055,36 persen, sementara aluminium tumbuh 112,99 persen. Selain itu, Kemendag juga sedang mengevaluasi peluang pasar ekspor yang belum tergarap secara maksimal.

Selama tiga bulan pertama 2026, Kemendag melaporkan bahwa ekspor non-migas terus menjadi pilar utama perekonomian. Dengan total nilai ekspor mencapai 63,60 miliar dolar AS, sektor ini membantu mencegah kontraksi ekspor secara keseluruhan. Meski ekspor migas menurun tajam sebesar 10,58 persen, Kemendag berkomitmen untuk meningkatkan daya saing produk non-migas melalui inovasi dan peningkatan efisiensi produksi. Fokus pada diversifikasi pasar dan kualitas produk dinilai sebagai kunci untuk mencapai target ekspor tahunan yang lebih tinggi.