IMO Imbau kapal sekitar Selat Hormuz terapkan “kewaspadaan maksimum”
IMO Imbau kapal sekitar Selat Hormuz terapkan “kewaspadaan maksimum”
IMO Imbau kapal sekitar Selat Hormuz – London – Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengungkapkan bahwa kapal-kapal yang beroperasi di sekitar Selat Hormuz harus tetap meningkatkan kehati-hatian. Pernyataan ini dikeluarkan setelah adanya laporan bahwa Amerika Serikat (AS) melakukan operasi untuk “mengarahkan” kapal-kapal yang terjebak keluar dari area strategis tersebut. IMO mengatakan bahwa mereka menyadari laporan tersebut, tetapi belum memiliki informasi lebih rinci. Juru bicara IMO mengingatkan bahwa organisasi tersebut terus mendorong kapal-kapal agar bersikap waspada secara maksimal di wilayah tersebut.
“Kami telah menerima laporan mengenai operasi AS, tetapi masih menunggu detail tambahan. Kami memastikan bahwa kapal-kapal harus tetap menerapkan kehati-hatian penuh di Selat Hormuz,” ujar juru bicara IMO.
Dalam pernyataan resmi yang diberikan kepada Xinhua, IMO mengingatkan bahwa ancaman terhadap perjalanan kapal di kawasan tersebut tidak boleh diabaikan. Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak global, sering kali menjadi target serangan oleh pihak-pihak yang ingin mengganggu alur logistik internasional. Meski AS menyatakan bahwa mereka sedang berupaya memastikan keselamatan kapal, IMO tetap meminta kewaspadaan maksimal sebagai langkah pencegahan.
Presiden AS, Donald Trump, pada Minggu (3/5) mengungkapkan rencana untuk memulai operasi fasilitasi transit pada Senin (4/5) untuk memandu kapal-kapal yang terjebak melewati Selat Hormuz. Operasi ini diharapkan dapat mempercepat pergerakan kapal dan mengurangi risiko konflik di wilayah perairan tersebut. Namun, pernyataan ini langsung direspons oleh komando militer Iran yang memperingatkan bahwa pasukan asing, khususnya dari AS, akan menjadi sasaran serangan jika mencoba mendekati atau memasuki zona strategis tersebut.
Menurut sumber militer Iran, perairan Selat Hormuz adalah area yang sangat sensitif, dan setiap kehadiran angkatan laut luar negeri akan dianggap sebagai ancaman. Komentar ini menggambarkan ketegangan yang terus meningkat antara Iran dan AS dalam konteks keamanan maritim. Sebelumnya, Iran telah beberapa kali menunjukkan kekuatan militer mereka, termasuk penggunaan rudal dan drone untuk memantau serta melindungi kawasan tersebut.
Sebagai tanggapan, Organisasi Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi bahwa AS telah menetapkan zona keamanan tambahan di sebelah selatan Skema Pemisahan Lalu Lintas Selat Hormuz. Tujuan dari langkah ini adalah untuk memperkuat pengawasan terhadap perjalanan kapal dan mencegah gangguan dari pihak tertentu. Namun, UKMTO tetap memperingatkan bahwa tingkat ancaman keamanan maritim di kawasan tersebut masih dalam kategori “kritis”.
“Meski AS telah memperketat pengawasan, aktivitas militer regional yang berlangsung terus-menerus membuat risiko keamanan tetap tinggi,” kata UKMTO dalam pernyataannya.
Strategi AS untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz bukanlah hal baru. Sejak beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat terus menunjukkan kehadirannya di wilayah tersebut, terutama setelah konflik dengan Iran memanas. Dengan operasi fasilitasi transit ini, AS ingin memastikan bahwa alur minyak dan bahan bakar tetap lancar, terlepas dari tekanan politik dan militer dari negara-negara lain.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan terpenting di dunia, terletak di antara Teluk Persia dan Laut Arab. Setiap hari, ratusan kapal minyak melewati area ini, dan gangguan terhadap keamanan di sini dapat menyebabkan dampak besar bagi pasar energi global. Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa insiden penembakan rudal terhadap kapal-kapal asing telah terjadi, termasuk yang melibatkan perusahaan-perusahaan minyak Barat.
IMO, sebagai badan global yang bertugas mengatur standar keselamatan dan keamanan di laut, memberikan nasihat tersebut sebagai upaya untuk melindungi para pengguna jasa pelayaran. Juru bicara IMO menyatakan bahwa mereka memantau situasi dengan cermat dan siap memberikan bantuan jika diperlukan. Namun, mereka menekankan bahwa kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama.
Kebijakan maksimal waspada yang dianjurkan IMO mencakup berbagai langkah, seperti meningkatkan pengawasan radar, melakukan simulasi darurat, dan memastikan komunikasi antar-kapal tetap lancar. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meminimalkan risiko serangan terhadap kapal, baik oleh pesawat tempur, drone, maupun senjata laut yang dioperasikan oleh pihak tertentu.
Dalam konteks ini, UKMTO mengungkapkan bahwa AS telah menerapkan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat, termasuk penggunaan kapal-kapal penjagaan dan sistem pelacak satelit. Meski demikian, UKMTO memperingatkan bahwa ancaman terhadap perjalanan kapal tidak hanya berasal dari kekuatan militer AS, tetapi juga dari aktivitas Iran yang terus-menerus memantau dan menargetkan kapal-kapal yang melintasi wilayahnya.
Kebijakan kewaspadaan maksimal oleh IMO juga mengingatkan para pemilik kapal untuk melakukan pemeriksaan tambahan terhadap peralatan navigasi dan sistem komunikasi mereka. Selain itu, kapal harus memiliki rencana darurat yang siap dijalankan jika terjadi keadaan darurat. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengurangi kerawanan dan memastikan perjalanan kapal tetap aman meski situasi di Selat Hormuz terus memanas.
Sebagai upaya menjaga keterbukaan, IMO juga mengajak semua pihak untuk berkomunikasi lebih intensif dan membangun kepercayaan bersama. Mereka menekankan bahwa perairan Selat Hormuz adalah ruang publik yang harus dilindungi oleh semua negara. Dengan memperkuat kewaspadaan, para pelaku pelayaran dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga keselamatan maritim di kawasan tersebut.
Dengan berbagai tindakan yang diambil oleh AS dan kekhawatiran dari Iran, situasi di Selat Hormuz terus menjadi fokus perhatian internasional. Perangkat kewaspadaan maksimal yang dianjurkan IMO diharapkan dapat menjadi pedoman untuk menghadapi dinamika kompleks yang terjadi di wilayah perairan ini. Jika tidak direspons secara tepat, risiko keamanan bisa meningkat, yang berdampak pada stabilitas ekonomi global.
