Key Strategy: Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi

Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi

Tema Riset

Key Strategy – Dalam situasi ekonomi Indonesia yang dinamis, konsumsi rumah tangga menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan laporan terbaru, sektor ini memberikan kontribusi lebih dari 54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menegaskan perannya yang kritis dalam menjaga momentum perekonomian. Untuk memastikan aktivitas konsumsi tetap stabil, akses pembiayaan yang inklusif dan terjangkau menjadi kunci. Kebutuhan ini terpenuhi oleh industri pinjaman daring (pindar), yang kian populer di tengah masyarakat.

Peran AdaKami

Studi terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkap bahwa pindar, khususnya layanan AdaKami, berperan sebagai alat bantalan keuangan bagi masyarakat. Platform ini membantu individu dalam menghadapi risiko finansial, sekaligus memastikan kelangsungan konsumsi rumah tangga. Dalam konteks ketidakpastian ekonomi, pinjaman daring dianggap sebagai solusi yang lebih cepat dan efisien dibandingkan metode konvensional.

“Bagi AdaKami, temuan ini menegaskan bahwa layanan kami telah menjadi bantalan keuangan yang membantu masyarakat mengelola arus kas secara lebih terukur, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” ujar Valentina Juveline, Direktur Keuangan AdaKami. Menurutnya, pengelolaan risiko yang baik serta tata kelola digital memungkinkan pemberdayaan finansial bagi kalangan yang sebelumnya kesulitan mendapatkan dana.

Pandangan OJK

Deputi Direktur Direktorat Pengawasan Usaha Pembiayaan Berbasis Teknologi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Anjar Sumarjati, memberikan dukungan terhadap peran pindar dalam mendukung masyarakat. Ia menekankan bahwa industri ini berkontribusi signifikan dalam menjembatani kebutuhan pembiayaan yang selama ini tidak terjangkau oleh lembaga keuangan tradisional. “Dengan beroperasi di bawah pengawasan OJK, pindar memberikan opsi finansial yang lebih fleksibel dan aman,” tambahnya.

Kasus Praktis

Prani Sastiono, peneliti LPEM FEB UI, mengungkap data menarik dalam riset tersebut. Sebanyak 24,51% peminjam AdaKami menyatakan bahwa tanpa pinjaman, mereka terpaksa menguras tabungan atau menjual aset produktif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal ini terjadi khususnya saat menghadapi kejadian tak terduga seperti PHK, sakit berat, atau kehilangan anggota keluarga. “Pinjaman ini tidak hanya sebagai sumber dana, tetapi juga sebagai alat perlindungan terhadap kemiskinan finansial,” jelasnya.

“Dengan pengelolaan risiko yang lebih baik, rumah tangga yang menghadapi pengeluaran tak terduga tidak harus meminjam pada rentenir atau sumber lain dengan bunga tinggi. Mereka bisa menjaga kestabilan tabungan dan menghindari penurunan kualitas hidup jangka panjang,” tambah Prani. Contoh nyata dari manfaat ini adalah ketika seniman terpaksa menjual alat musiknya atau fotografer mengorbankan kameranya. Pinjaman dari AdaKami memungkinkan mereka mempertahankan sumber penghasilan sekaligus mengurangi dampak ekonomi.

Pengaruh Pinjaman

Menurut analisis LPEM FEB UI, keberadaan pindar seperti AdaKami memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Studi ini menyoroti bahwa metode pembiayaan digital lebih efektif dalam mengatasi krisis finansial ketimbang pendekatan tradisional. Dengan proses yang cepat dan transparan, pengguna bisa mengakses dana dalam waktu singkat, bahkan saat kondisi ekonomi memburuk. “Tidak ada alasan untuk mengabaikan kemudahan teknologi dalam menghadapi tekanan finansial,” lanjut Valentina.

Kolaborasi dan Perkembangan

Temuan riset ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara industri pindar, otoritas keuangan, dan masyarakat. Dengan pendekatan inklusif, layanan seperti AdaKami bisa menjadi pilar dalam menjaga stabilitas ekonomi. Perusahaan ini didirikan pada 2018 sebagai platform fintech lending berizin, di bawah pengawasan OJK. Kehadirannya memastikan bahwa pembiayaan digital tidak hanya efisien tetapi juga memiliki mekanisme perlindungan yang memadai.

Akses terhadap pinjaman daring juga memungkinkan kelompok yang sebelumnya dianggap “terlupakan” dalam sistem keuangan mendapatkan dukungan. Misalnya, pekerja harian yang mengalami pemutusan hubungan kerja bisa menggunakan dana pinjaman untuk menunggu peluang baru. Sementara itu, usaha mikro yang menghadapi kesulitan kredit bisa tetap beroperasi dengan bantuan dana dari platform ini.

Pertumbuhan Industri

Dalam jangka panjang, LPEM FEB UI menyoroti bahwa industri pindar perlu terus diperkuat melalui transparansi dan kehati-hatian. Tantangan utama adalah menyeimbangkan kecepatan akses dana dengan risiko kredit. “Perlu ada harmonisasi antara kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan industri,” tegas Prani. Dengan manajemen risiko yang baik, pindar tidak hanya menjadi pilihan praktis tetapi juga alat pembelajaran bagi masyarakat dalam mengelola uang.

Studi ini juga menyoroti perlu adanya kerja sama lintas sektor untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap layanan fintech. Misalnya, kolaborasi dengan lembaga pendidikan, organisasi sosial, dan pemerintah bisa memperluas pengetahuan tentang keuangan inklusif. Selain itu, inovasi dalam teknologi dan regulasi perlu terus dilakukan agar industri ini bisa bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.

Indonesia, dengan populasi sekitar 270 juta orang, memiliki potensi besar dalam menyediakan akses keuangan untuk kalangan yang belum terlayani. Pinjaman daring menawarkan solusi yang efektif dan adaptif, terutama di tengah perubahan ekonomi yang cepat. Dengan jumlah pemakai yang terus meningkat, peran AdaKami dan industri sejenis menjadi semakin penting dalam memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.