Kapolri: Laboratorium 1,2 ton sabu di Aceh dikendalikan ahli kimia
Daftar Isi
Kapolri Ungkap Laboratorium 1,2 Ton Sabu di Aceh Dikendalikan Ahli Kimia
Menggalangkebaikan.com – Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengungkapkan bahwa laboratorium narkoba yang memproduksi sekitar 1,2 ton sabu-sabu di Aceh diduga dikendalikan oleh ahli kimia berpengalaman dari jaringan internasional. Laboratorium tersebut ditemukan di kawasan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, dalam sebuah bangunan toko yang digunakan untuk mengolah metamfetamin cair menjadi sabu-sabu kristal.
Menurut Kapolri, pola produksi di lokasi tersebut menunjukkan keterlibatan jaringan terorganisasi dengan kemampuan teknis khusus. Pengolahan metamfetamin cair menjadi kristal sabu-sabu diduga dilakukan oleh orang-orang yang memahami proses kimia dan cara menjalankan laboratorium rahasia.
“Dari prosesnya, laboratorium sabu-sabu di Pidie, Aceh, tersebut menunjukkan bahwa dikelola jaringan dengan ahli kimia berpengalaman,” kata Suyudi di Pidie, Jumat.
Pengiriman Metamfetamin Cair dari China ke Aceh
Kapolri menjelaskan, pengungkapan laboratorium narkoba itu bermula dari informasi mengenai pengiriman ratusan kilogram metamfetamin cair dari China ke Aceh pada Februari 2026. Barang terlarang tersebut kemudian diketahui masuk ke Aceh pada Mei 2026.
Dalam perkembangan penyelidikan, aparat mendeteksi dua warga negara China berinisial LJ (45) dan XM (42) datang ke Aceh untuk melakukan survei. Keduanya diduga berperan sebagai ahli kimia atau peracik yang mengolah metamfetamin cair menjadi sabu-sabu berbentuk kristal.
Kapolri menyebut LJ dan XM masuk ke Aceh melalui Malaysia dan berada di wilayah tersebut selama 10 hari. Selama berada di Aceh, keduanya diduga melakukan survei untuk mendukung kegiatan jaringan narkotika tersebut sebelum kembali ke Malaysia pada awal Juni 2026.
Setelah itu, jaringan yang terkait dengan kedua warga negara China tersebut kembali terdeteksi mengirimkan metamfetamin cair ke Aceh dengan berat hampir satu ton. Cairan itu dimasukkan ke dalam kaleng berwarna hijau sebagai upaya mengelabui petugas.
Perjalanan Tersangka dan Penggerebekan di Sejumlah Lokasi
Kapolri mengatakan LJ dan XM kemudian terdeteksi melakukan perjalanan dari China ke Kuala Lumpur pada pertengahan Oktober 2026. Di Malaysia, keduanya bertemu dengan P, seorang warga negara Indonesia. Selama berada di negara tersebut, LJ dan XM juga mendapat bantuan akomodasi dari MN, warga negara Indonesia.
Setelah itu, LJ, XM, dan MN terdeteksi mendarat di Banda Aceh. Mereka dijemput seseorang berinisial RI, lalu melanjutkan perjalanan menuju sebuah toko di Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Aceh. Dari hasil penelusuran tim gabungan, lokasi tersebut diduga berkaitan dengan kegiatan jaringan narkotika.
“Kemudian LJ dan XM beserta MN terdeteksi mendarat di Banda Aceh. Mereka dijemput seseorang berinisial RI. Dari Banda Aceh, mereka menuju sebuah toko di Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Aceh,” kata Kapolri.
Tim gabungan juga menerima informasi bahwa LJ menghubungi seseorang berinisial LX yang diduga sebagai bos jaringan narkotika. Dalam komunikasi itu, LJ dilaporkan menyampaikan bahwa proses produksi metamfetamin cair menjadi kristal telah dimulai.
Informasi berikutnya menunjukkan LJ dan XM berada di toko yang dijadikan laboratorium rahasia di kawasan Mutiara Timur. Aparat juga mendapatkan laporan mengenai sejumlah barang bukti yang dikeluarkan dari lokasi tersebut sebelum dilakukan penindakan.
11 Orang Ditangkap dalam Operasi Serentak
Kapolri mengatakan penggerebekan dilakukan secara bersamaan dengan penindakan di empat lokasi lain di Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe. Dalam operasi gabungan tersebut, petugas menangkap 11 orang, termasuk dua warga negara China.
Di lokasi laboratorium, tim gabungan menemukan 20 drum metamfetamin cair dan 500 kilogram sabu-sabu. Total barang bukti yang diamankan memiliki berat kotor sekitar 1,2 ton. Barang bukti tersebut memperlihatkan skala besar operasi produksi narkoba yang berhasil diungkap aparat.
Selain para tersangka yang telah diamankan, Kapolri menyatakan tim gabungan masih mengejar sejumlah pihak lain. Mereka antara lain Z yang diduga berperan sebagai pengatur lapangan, serta ES, Z, BR, dan SS.
Dampak Pengungkapan Laboratorium Sabu di Aceh
Kapolri menilai pengungkapan laboratorium produksi sabu-sabu tersebut telah menyelamatkan sekitar 6 juta jiwa dari ancaman penyalahgunaan narkotika. Penindakan ini juga disebut dapat menghemat uang negara hingga Rp120 triliun yang berpotensi digunakan untuk proses rehabilitasi pengguna narkoba.
Menurut Suyudi, kasus tersebut menjadi peringatan serius karena Indonesia tidak hanya dipandang sebagai pasar narkoba, tetapi juga berpotensi menjadi sasaran lokasi produksi. Karena itu, Kapolri menekankan perlunya kolaborasi antara aparat, pemerintah, dan masyarakat untuk mencegah peredaran narkoba.
“Ancaman narkoba ini begitu nyata sehingga dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat dan menjadi benteng mencegah narkoba. Kasus ini menjadi alarm bahwa Indonesia bukan lagi sekadar pasar, tetapi juga target memproduksi narkoba,” kata Kapolri.
FAQ Pengungkapan Laboratorium Sabu di Aceh
Berapa barang bukti yang ditemukan dalam penggerebekan?
Tim gabungan menemukan 20 drum metamfetamin cair dan 500 kilogram sabu-sabu. Total berat kotor barang bukti yang diamankan mencapai sekitar 1,2 ton.
Berapa orang yang ditangkap dalam operasi tersebut?
Sebanyak 11 orang ditangkap dalam operasi serentak di sejumlah lokasi di Aceh. Dua di antaranya merupakan warga negara China.
Mengapa kasus ini menjadi perhatian Kapolri?
Kasus ini menunjukkan dugaan keterlibatan jaringan internasional dan ahli kimia dalam produksi narkotika. Kapolri menilai pengungkapan tersebut menjadi alarm atas ancaman Indonesia sebagai target produksi narkoba.