Facing Challenges: DPP PDIP: Buruh pilar penting pembangunan nasional

DPP PDIP: Buruh sebagai Pilar Penting dalam Pembangunan Nasional

Facing Challenges – Jakarta – Dalam perayaan Hari Buruh Internasional 2026, Mercy Chriesty Barends, Ketua DPP PDIP Bidang Tenaga Kerja dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, menggarisbawahi pentingnya buruh sebagai bagian dari fondasi pembangunan bangsa. Ia menegaskan bahwa 1 Mei, yang ditetapkan sebagai hari libur nasional sejak 2013, adalah bentuk penghargaan negara terhadap kontribusi kaum buruh dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan sosial. “Libur nasional 1 Mei menunjukkan bahwa buruh tidak hanya sebagai elemen ekonomi, tetapi juga sebagai pilar yang menopang keberhasilan bangsa ini,” jelas Mercy di GOR Otista, Jakarta Timur, pada hari Minggu.

Perjuangan Buruh dalam Gerakan Kebangsaan

Acaran tersebut dihadiri oleh sejumlah buruh dari sektor informal, seperti tenaga kerja rumah tangga (ART), pengemudi ojek online, tukang cuci, pengamen, serta pekerja lainnya yang sering kali tidak mendapatkan perlindungan penuh. Dalam pidatonya, Mercy menekankan bahwa PDIP memiliki visi politik yang jelas dalam mendukung hak-hak buruh Indonesia. “Perjuangan buruh merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya menciptakan keadilan sosial, yang sejak awal menjadi tujuan utama bangsa Indonesia,” ujarnya.

“Kemerdekaan sejati bukan hanya tentang politik, tetapi juga ekonomi. Tidak boleh ada penindasan manusia terhadap manusia, dan eksploitasi buruh oleh pemilik modal harus diakhiri,”

Mercury mengingatkan kembali ajaran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang mengemukakan bahwa kemerdekaan sejati mencakup kebebasan ekonomi. “Soekarno pernah menekankan bahwa bangsa bebas ketika rakyatnya pun memiliki kemerdekaan dalam mengatur kehidupan ekonomi tanpa diskriminasi atau penekanan yang berlebihan,” tambahnya. Pernyataan ini dianggap sebagai dasar pemikiran PDIP dalam memperjuangkan kesejahteraan buruh.

Menurut Mercy, perayaan Hari Buruh bukan sekadar upacara tahunan, tetapi simbol dari sejarah perjuangan sosial yang panjang. “Buruh telah memperjuangkan hak-hak dasar mereka, seperti jam kerja yang wajar, upah yang layak, serta perlindungan pekerjaan yang pasti,” kata dia. Di Indonesia, ia menyoroti bahwa perjuangan buruh sudah dimulai sejak masa kolonial, ketika pekerja mengalami berbagai bentuk penderitaan, termasuk kerja paksa dan upah yang tidak sesuai dengan standar manusiawi.

Komitmen PDIP untuk Masa Depan Buruh

Dalam acara tersebut, Mercy juga menyampaikan apresiasi terhadap peran buruh sebagai tulang punggung industri, penggerak ekonomi, dan penjaga kehidupan keluarga. “Dari tangan-tangan kalian, roda perekonomian bangsa terus berjalan. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa tantangan masih banyak menghiasi kehidupan buruh saat ini,” imbuhnya. Ia menyoroti isu seperti upah yang belum memadai, ketidakpastian dalam pekerjaan, dan tekanan ekonomi yang terus meningkat.

Mercury berharap PDIP dapat terus berdiri bersama buruh dalam memperjuangkan keadilan. “Partai ini lahir dari perjuangan rakyat, dan menjadi tempat untuk mengayomi wong cilik, termasuk mereka yang bekerja keras,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa perjuangan buruh bertujuan agar kemajuan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pengusaha, tetapi juga diperbagikan kepada pekerja. “Kita ingin industri berkembang seiring dengan kesejahteraan buruh yang lebih baik,” tambahnya.

Dalam perayaan ini, hadir pula sejumlah tokoh PDIP, seperti Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Wakil Sekretaris Jenderal Adian Napitupulu, Sri Rahayu, serta Wakil Bendahara Umum Yuke Yurike. Ketua DPP PDIP yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, juga turut hadir. Di samping itu, beberapa pengurus DPP PDIP lainnya, seperti Charles Honoris, Bintang Puspayoga, Sadarestuwati, Wiryanti Sukamdani, dan Ribka Tjiptaning, memberikan dukungan penuh.

Mercury juga mengajak seluruh pihak untuk memperkuat solidaritas dalam menghadapi berbagai tantangan. “Persatuan adalah kunci agar suara buruh terdengar dan keadilan sosial bisa terwujud,” kata dia. Ia menegaskan bahwa masa depan buruh Indonesia harus semakin cerah, termasuk dengan adanya akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak buruh. “Kita ingin mereka tidak lagi hidup dalam ketidakpastian, tetapi memiliki peluang untuk berkembang secara ekonomi dan pendidikan,” ujarnya.

Kepentingan Buruh dalam Kebijakan Nasional

Dalam pidatonya, Mercy menyampaikan bahwa peran buruh tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai ideologi PDIP yang berpijak pada kepentingan rakyat kecil. “Kita percaya bahwa setiap individu, termasuk buruh, memiliki hak untuk hidup layak dan merdeka,” jelasnya. Ia menyoroti bahwa kesejahteraan buruh bukan hanya kepentingan lokal, tetapi juga bagian dari keberhasilan pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Mercury menambahkan bahwa perjuangan buruh Indonesia harus diiringi dengan kebijakan yang inklusif. “PDIP akan terus menjadi pelindung bagi buruh, baik dalam hal hukum, sosial, maupun ekonomi,” kata dia. Ia menekankan pentingnya pemerintah dan lembaga-lembaga seperti PDIP mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi kerja buruh. “Kita ingin buruh tidak hanya menjadi bagian dari proses produksi, tetapi juga memiliki kekuasaan untuk menentukan nasib mereka sendiri,” jelasnya.

Perayaan Hari Buruh 2026 ini juga menjadi momen untuk meninjau kembali kebijakan pembangunan yang berpijak pada keadilan. Mercy menegaskan bahwa PDIP tidak akan membiarkan buruh terabaikan dalam agenda nasional. “Kita ingin setiap kebijakan memiliki dampak yang menyentuh masyarakat yang tidak mampu, termasuk buruh yang bekerja di sektor informal,” ujarnya. Dengan demikian, kesejahteraan buruh dianggap sebagai indikator keberhasilan pembangunan yang sejati.

Perspektif Masa Depan dan Keberlanjutan

Di akhir pidatonya, Mercy mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan mendorong perubahan yang lebih baik. “Kita memiliki harapan bahwa anak-anak buruh dapat menikmati pendidikan yang berkualitas, sehingga masa depan mereka lebih cerah,” kata dia. Ia menegaskan bahwa perjuangan buruh tidak hanya tentang meningkatkan upah, tetapi juga menciptakan sistem yang adil dan manusiawi.

Perayaan yang dihadiri oleh ratusan buruh ini dianggap sebagai bentuk penguatan kesadaran kolektif tentang pentingnya keadilan sosial. “PDIP percaya bahwa buruh adalah bagian dari kekuatan nasional, dan keberhasilan pembangunan tidak mungkin tercapai tanpa peran mereka,” pungkas Mercy. Ia menutup pidatonya dengan harapan bahwa kebijakan pemerintah akan lebih berpijak pada kebutuhan rakyat, termasuk mereka yang bekerja di lini depan.

Dalam rangkaian acara ini, sejumlah tokoh politik dan masyarakat sipil juga berbicara tentang peran buruh dalam mendorong kemajuan ekonomi. Mereka menyoroti bahwa buruh tidak hanya sebagai penggerak produksi, tetapi juga sebagai penjaga kestabilan sosial. “Tanpa buruh, industri tidak akan berjalan, dan perekonomian akan stagnan,” ujar salah satu peserta. Dengan demikian, peringatan Hari Buruh 2026 dianggap sebagai momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mewujudkan keadilan ekonomi.

Selain itu, Mercy juga menyoroti pentingnya kebijakan perlindungan