New Policy: Pemerintah Taiwan bidik wisatawan RI yang gemar liburan keluarga

Pemerintah Taiwan Bidik Wisatawan Indonesia yang Senang Liburan Keluarga

New Policy – Jakarta menjadi titik fokus dalam upaya pemerintah Taiwan untuk menarik minat wisatawan dari Indonesia. Dalam sebuah wawancara resmi di Jakarta, Minggu, Direktur Taiwan Tourism Information Center (TTIC), Abe Chou, mengungkapkan bahwa destinasi ini sedang gencar membangun strategi promosi khusus untuk keluarga yang ingin menjelajah ke luar negeri. “Karena kebanyakan orang Indonesia memiliki kebiasaan merencanakan liburan keluarga mulai Mei hingga Oktober, Taiwan ingin menyediakan pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hari,” jelas Chou, dalam pernyataan resmi yang diberikan kepada media.

Event Promosi dan Workshop Pariwisata

Sebagai bagian dari strategi tersebut, TTIC mengadakan serangkaian acara seperti Taiwan Travel Fair yang bertajuk “Taiwan Never Sleeps” di PIK Avenue. Acara ini dirancang untuk menampilkan keunikan destinasi Taiwan dalam satu ruang, mulai dari daya tarik wisata alam hingga aktivitas budaya dan kuliner. Selain itu, pemerintah Taiwan juga menggelar workshop pariwisata di dua kota utama, Jakarta dan Medan, yang berlangsung pada 30 April hingga 7 Mei 2026. Workshop ini diperuntukkan bagi para pelaku industri, asosiasi pariwisata, dan media lokal, dengan harapan membangun kesadaran lebih luas tentang potensi wisata di sana.

Chou menjelaskan bahwa Taiwan memiliki keunggulan unik sebagai tujuan wisata yang selalu aktif. “Selama 24 jam, wisatawan bisa menikmati berbagai pilihan aktivitas, seperti makan malam di warung-warung lokal, berbelanja di pasar malam, hingga mengikuti acara hiburan atau eksplorasi destinasi budaya,” katanya. Menurutnya, keberagaman waktu dan kegiatan ini membuat Taiwan cocok untuk semua anggota keluarga, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.

Pengembangan Wisata Ramah Muslim

Sebagai bentuk penyesuaian, pemerintah Taiwan juga terus mendorong pengembangan lingkungan wisata yang ramah terhadap muslim. Langkah ini mencakup penyediaan makanan halal, ruang salat di pusat transportasi seperti bandara dan stasiun, serta peningkatan fasilitas pendukung lainnya. “Tujuan kami adalah memastikan wisatawan Indonesia, yang mayoritas beragama Islam, dapat merasa aman dan nyaman saat berkunjung ke Taiwan,” tambah Chou.

Strategi ini didukung oleh Delegasi Pariwisata Taiwan yang secara aktif mengadakan kegiatan seperti Taiwan Tourism Workshop. Workshop tersebut dilaksanakan pada 4 Mei di Pullman Jakarta Central Park dan 6 Mei di JW Marriott Hotel Medan. Kegiatan ini dirancang untuk membangun hubungan dengan pelaku pariwisata lokal, sekaligus meningkatkan pemahaman tentang atraksi dan layanan yang ditawarkan Taiwan.

Kota-kota Pusat Target Promosi

Pemilihan Jakarta dan Medan sebagai lokasi utama promosi memiliki alasan strategis. Kedua kota ini dianggap sebagai pusat ekonomi dan pariwisata dengan potensi pertumbuhan yang besar. Chou menegaskan bahwa selain kegiatan promosi biasa, pemerintah Taiwan juga mengupayakan pengembangan kunjungan insentif perusahaan (incentive travel) ke sana. “Kami percaya bahwa pilihan wisata yang melibatkan keluarga dan institusi bisa memberikan dampak lebih luas,” katanya.

Kunjungan wisatawan dari Indonesia ke Taiwan telah menunjukkan peningkatan signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa sebanyak hampir 9 juta perjalanan ke luar negeri dilakukan oleh warga Indonesia pada 2024. Pertumbuhan ini diprediksi akan terus meningkat, terutama dengan berkembangnya kelas menengah yang memiliki daya beli dan minat terhadap liburan keluarga. “Ini menjadi peluang besar bagi Taiwan untuk menarik minat lebih banyak wisatawan,” kata Trust H.J. Lin, PhD, yang menjabat sebagai Delegasi Pariwisata Taiwan.

Indonesia Sebagai Pasar Strategis

Lin menambahkan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam rencana pariwisata Taiwan. “Masyarakat Indonesia mulai menunjukkan minat yang tinggi terhadap liburan luar negeri, terutama saat periode libur sekolah memasuki bulan Oktober,” ujarnya. Menurutnya, pemerintah Taiwan sedang fokus pada peningkatan kualitas pelayanan dan promosi yang bisa menjangkau sekitar 280 juta populasi Indonesia. “Dengan ekonomi yang stabil, serta peningkatan daya beli, kami yakin Indonesia akan menjadi pasar utama untuk pariwisata Taiwan di masa depan,” jelas Lin.

TTIC juga memperhatikan kondisi pasar pascapandemi, di mana sektor pariwisata Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. PDB Indonesia pada kuartal II 2025 mencatatkan pertumbuhan sekitar 5 persen, yang menunjukkan bahwa masyarakat semakin percaya diri dalam menghabiskan dana untuk liburan. “Dengan semakin banyak orang Indonesia yang ingin mengeksplorasi dunia, Taiwan siap menjadi destinasi favorit,” kata Lin dalam wawancara terpisah.

Pengalaman Liburan yang Berbeda

Chou menekankan bahwa pengalaman berwisata di Taiwan tidak hanya sekadar liburan biasa, tetapi juga menjadi momen untuk menjelajahi keunikan budaya dan kehidupan yang dinamis. “Kami ingin membantu wisatawan Indonesia merasakan bahwa Taiwan adalah tempat yang penuh dengan peluang dan kejutan,” ujarnya. Dalam konteks ini, kota-kota seperti Taipei, Kaohsiung, dan Yilan menjadi pilihan utama karena menawarkan berbagai pilihan destinasi yang menarik, mulai dari destinasi alam hingga kota modern.

Salah satu keunggulan Taiwan adalah aksesibilitasnya. Dari Jakarta, wisatawan Indonesia bisa mencapai Taiwan dalam waktu kurang dari dua hari, dengan penerbangan langsung yang teratur. Di sisi lain, keberagaman budaya dan makanan yang lezat juga menjadi daya tarik utama. “Wisatawan bisa menikmati makanan dari berbagai daerah di Taiwan, seperti masakan Cina, Jepang, dan Korea yang diadaptasi secara lokal,” tutur Chou. Ia menambahkan bahwa kota-kota besar di Taiwan memiliki akomodasi yang lengkap, mulai dari hotel bintang lima hingga penginapan keluarga, yang bisa memenuhi kebutuhan berbagai segmen wisatawan.

Langkah Terus Dilakukan untuk Meningkatkan Minat

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Taiwan juga terus meningkatkan infrastruktur pariwisata, termasuk peningkatan keamanan, kenyamanan, dan kemudahan akses. Hal ini menjadi langkah kunci untuk memastikan wisatawan Indonesia merasa nyaman dalam perjalanan mereka. “Kami tidak hanya memikirkan atraksi wisata, tetapi juga menghadirkan layanan yang memudahkan segala aspek perjalanan,” ungkap Chou.

Untuk memperkuat kemitraan, TTIC berencana mengadakan kolaborasi dengan institusi pendidikan dan organisasi keluarga. “Kami ingin menciptakan program yang memperkenalkan Taiwan sebagai destinasi pendidikan dan rekreasi yang bisa digunakan oleh keluarga dalam waktu bersamaan,” kata Lin. Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya menarik wisatawan individu, tetapi juga menumbuhkan minat dari seluruh segmen masyarakat, termasuk keluarga yang ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama.

Keberhasilan program promosi ini diharapkan bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dari Indonesia ke Taiwan. Chou menyampaikan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan beberapa inisiatif baru, termasuk pengembangan jalur wisata yang lebih efisien dan pengenalan produk wisata yang lebih inovatif. “Kami ingin memastikan bahwa setiap orang Indonesia yang ingin berlibur merasa bahwa Taiwan adalah pilihan yang tepat,” katanya.

Quotes dari Pemimpin Pariwisata Taiwan

“Wisatawan muslim tidak perlu khawatir. Taiwan berkomitmen menghadirkan pengalaman liburan yang nyaman, aman, dan menyenangkan,” ujarnya.

Dengan semua upaya tersebut, pemerintah Taiwan berharap bisa menciptakan kesan yang mendalam bagi wisatawan Indonesia. “Kami ingin menunjukkan bahwa Taiwan bukan hanya destinasi yang menarik, tetapi juga tempat yang ramah dan menyenangkan,” tutur Chou. Lin menegaskan bahwa Indonesia adalah pasar yang sangat strategis bagi Taiwan, dengan potensi untuk berkembang lebih luas lagi. “Kami optimis bahwa kegiatan ini akan membuka jalan bagi pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan,” ujarnya.