Komunikasi terbuka hingga literasi bantu anak berani lapor kekerasan

khrisna-edit-1784830188-658ccdc41a

Membangun Keberanian Anak Melaporkan Kekerasan Lewat Komunikasi dan Literasi

Menggalangkebaikan.com – Jakarta – Menurut Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis anak dan remaja, terdapat beberapa pendekatan penting yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dalam melaporkan berbagai bentuk kekerasan. Pendekatan ini mencakup komunikasi yang terbuka serta peningkatan literasi, baik di lingkungan fisik maupun di ruang digital. Psikolog lulusan Universitas Indonesia ini menekankan bahwa menciptakan budaya komunikasi terbuka di dalam rumah tangga merupakan salah satu langkah krusial. Hubungan yang hangat dan responsif antara anak dengan orang tua atau pengasuh dianggap sebagai faktor protektif terkuat dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak-anak.

Mendengarkan Tanpa Menghakimi

Ocha memberikan saran praktis bagi para orang tua untuk meluangkan waktu secara rutin mendengarkan cerita anak-anak mereka setiap hari. Yang terpenting adalah tidak langsung menghakimi, menyalahkan, atau terburu-buru memberikan solusi atas setiap masalah yang diceritakan. Ketika anak terbiasa merasa didengarkan dalam cerita-cerita sederhana sehari-hari, mereka akan lebih percaya bahwa orang tua juga akan mendengarkan ketika mereka menghadapi masalah yang lebih serius. Kepercayaan ini menjadi fondasi kuat bagi anak untuk berani membuka diri.

“Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak setiap hari tanpa langsung menghakimi, menyalahkan, atau terburu-buru memberi solusi,” kata Ocha ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, pada Kamis.

Literasi Digital dan Pendampingan Bertahap

Keberanian anak untuk melaporkan tindakan kekerasan atau perundungan, terutama yang terjadi di ruang digital, juga perlu dibangun melalui literasi dan pendampingan sejak dini. Pendampingan digital ini harus dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan usia dan tingkat kematangan anak. Orang tua disarankan untuk mengajak anak berdiskusi tentang berbagai konten yang mereka temui di ruang digital. Selain itu, penting juga mengajarkan anak tentang menjaga privasi, melindungi data pribadi, serta menjadi waspada terhadap orang asing di dunia maya.

Salah satu aspek penting lainnya adalah membantu anak mengenali tanda-tanda interaksi yang berpotensi membahayakan. Anak juga perlu memahami cara melakukan perlindungan diri di ruang digital, seperti memblokir akun yang tidak diinginkan, melaporkan konten yang merugikan, keluar dari percakapan yang tidak nyaman, serta meminta bantuan orang dewasa ketika diperlukan. Semua keterampilan ini harus diajarkan secara bertahap agar anak mampu menerapkannya dengan percaya diri.

Edukasi Kekerasan dan Peran sebagai Upstander

Ocha juga menyarankan perlunya memberikan anak edukasi mengenai berbagai bentuk kekerasan sejak dini, sesuai dengan tahap perkembangannya. Anak tidak hanya diberitahu apa yang termasuk kekerasan, namun juga perlu memahami langkah yang dapat dilakukan ketika mengalaminya. Lebih dari itu, anak perlu dibekali mengenai apa yang dapat dilakukan ketika mereka melihat temannya menjadi korban. Dalam konteks ini, anak diajak untuk menjadi upstander, yaitu berani mencari bantuan kepada orang dewasa ketika melihat kekerasan terjadi di sekitar mereka.

“Anak juga perlu dibekali mengenai apa yang dapat dilakukan ketika mereka melihat temannya menjadi korban, yaitu bagaimana anak mampu menjadi upstander (yaitu berani mencari bantuan kepada orang dewasa ketika melihat kekerasan),” ujar psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) itu.

Melatih Kemampuan Asertif dan Batasan Diri

Dalam membangun keberanian anak melapor tindak kekerasan, Ocha juga menekankan pentingnya melatih kemampuan asertif dan menjaga batasan diri atau personal boundaries. Anak perlu memahami bahwa mereka berhak mengatakan “tidak” ketika merasa tidak nyaman, meskipun yang melakukan tindakan tersebut adalah orang yang lebih tua atau dikenal. Misalnya, mengenalkan kata “aku tidak mau”, “berhenti”, atau “aku akan memberi tahu mamaku” dapat dilatih melalui permainan peran, diskusi, maupun studi kasus yang sesuai dengan usia anak.

Pendekatan holistik ini memastikan bahwa anak tidak hanya memiliki pengetahuan tentang kekerasan, tetapi juga keterampilan praktis untuk meresponsnya. Dengan kombinasi komunikasi terbuka, literasi digital, dan latihan asertif, anak akan lebih siap menghadapi berbagai situasi yang mungkin mereka hadapi baik di lingkungan sekitar maupun di ruang digital.