Key Issue: Desainer kebaya Indonesia berbagi tips rambah pasar luar negeri
Strategi Memasuki Pasar Internasional: Desainer Kebaya Berbagi Pengalaman
Key Issue – Kuala Lumpur menjadi saksi bisik dari langkah strategis para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia dalam memperluas jangkauan pasar. Dalam acara peresmian kerja sama kemitraan eksklusif antara Roemah Kebaya Vielga dengan platform ritel dan distribusi Malaysia, Collabstore, desainer kebaya Vielga Wennida memberikan panduan praktis bagi UMKM Indonesia yang ingin menembus pasar internasional.
Identitas dan Media Sosial sebagai Kunci Awal
Vielga, yang dikenal sebagai pendiri brand kebaya lokal, menekankan bahwa identitas kuat adalah fondasi utama sebelum memasuki pasar luar negeri. “Identitas yang jelas sangat penting. Selain itu, kehadiran digital melalui media sosial harus ditingkatkan,” jelasnya dalam wawancara dengan ANTARA. Menurut Vielga, keberhasilan UKM dalam menghadapi persaingan global bergantung pada kesan unik yang bisa diterima oleh konsumen di luar negeri. “Selain orisinalitas, komunikasi yang efektif melalui media sosial akan membantu membangun kesadaran merek secara cepat dan efisien,” tambahnya.
Menurut Vielga, identitas yang kuat merupakan langkah penting. Selain itu, orisinalitas sangat penting. Produk kebaya yang diproduksi harus memiliki ciri khas, sehingga membedakannya dari pesaing di pasar internasional.
Produk kebaya Vielga, yang kini telah merambah pasar Singapura dan Malaysia, memang dikenal karena proses produksi manual yang melibatkan keterlibatan langsung dari perajin. “Kebaya Vielga dibuat secara manual, sehingga setiap produk memiliki sentuhan pribadi dan kesan eksklusif,” ujarnya. Hal ini berbeda dengan kebaya yang diproduksi di negara lain, yang cenderung menggunakan mesin berbasis komputer untuk menghasilkan barang secara massal.
Vielga juga menyoroti pentingnya memahami selera pasar tujuan. Sebagai contoh, untuk menembus pasar Malaysia, ia melakukan penyesuaian desain berdasarkan preferensi konsumen setempat. “Masyarakat Malaysia cenderung menyukai kebaya yang panjang, terutama untuk acara formal. Ini karena mayoritas penduduk Muslim di sana,” terangnya. Penyesuaian tidak hanya berupa gaya, tetapi juga jenis bahan, teknik bordir, serta warna yang menarik.
Masyarakat Malaysia itu mereka suka yang kebaya yang panjang-panjang, karena di sini banyak Muslim. Jadi harus mencocokkan desain dengan style Muslim, lalu menyesuaikan jenis bahan, teknik bordir, hingga warna.
Di sisi lain, Hendra Purnama Iskandar, Menteri Konselor/Koordinator Fungsi Ekonomi Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, memberikan pandangan tentang strategi pemasaran UKM. Dalam acara yang sama, ia menekankan bahwa keberhasilan UKM dalam memasuki pasar asing tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada pemasaran yang tepat. “UMKM bisa masuk dengan catatan buatlah yang terbaik, jangan asal. Produk terbaik bukan berarti paling mahal, tapi sustainability dan packaging menarik,” katanya kepada ANTARA.
Sebagai seorang diplomat dengan pengalaman empat tahun di posisi Menteri Konsuler, Hendra mengungkapkan bahwa KBRI KL secara rutin melakukan peninjauan kebutuhan pasar Malaysia. “Kami sering melihat apa yang dibeli masyarakat Malaysia ketika mereka berkunjung ke Indonesia. Dari situ, tim kami berpikir, mengapa tidak kita hadirkan di sini untuk memperkenalkan produk lokal dan wastra Indonesia,” jelasnya.
Kita lihat warna-warna kebaya Vielga ini, ini kan seperti biasa kita temukan misal di Malaka ya. Jadi betul-betul pelajari selera pasar.
Menurut Hendra, penyesuaian selera pasar adalah langkah kritis. “Jangan memaksakan bahwa apa yang laku di Jakarta atau Bandung pasti laku di Malaysia. Setiap negara memiliki preferensi yang berbeda,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa KBRI KL terus berkomitmen untuk mendukung UKM Indonesia, termasuk Roemah Kebaya Vielga, dalam membangun kemitraan dengan mitra lokal.
Kemitraan dengan Collabstore, platform ritel Malaysia, menjadi contoh konkret dari upaya ini. Hendra menyebut bahwa kerja sama tersebut adalah bagian dari strategi lebih luas untuk meningkatkan eksposur produk kebaya Indonesia. “Kerja sama seperti ini membantu memperkuat hubungan ekonomi antara Indonesia dan Malaysia, sekaligus membangun jaringan yang bisa berdampak jangka panjang,” ujarnya.
Proses Manual dan Inovasi Lokal
Vielga menjelaskan bahwa kebaya yang diproduksi secara manual memberikan nilai tambah. “Setiap kebaya Vielga dibuat dengan cara tradisional, sehingga hasilnya tidak pernah terulang. Ini membuatnya lebih personal dan bernilai tinggi,” katanya. Proses manual ini juga memerlukan waktu lebih lama, tetapi menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan unik.
Dalam perjalanan menembus pasar internasional, Vielga mengakui tantangan yang dihadapi. “Ada perbedaan gaya, budaya, dan kebiasaan masyarakat di setiap negara. Misalnya, di Malaysia konsumen lebih memilih kebaya dengan desain modern, sementara di Indonesia lebih tradisional,” katanya. Untuk mengatasi ini, ia berusaha menciptakan desain yang bisa disesuaikan tanpa mengorbankan karakteristik asli.
Ini bener-bener dikerjakan personal. Ada satu kebaya yang dikerjakan sampai tiga orang. Untuk mengerjakan kebaya kerancang bolong-bolong misalnya, itu manual.
Kerja sama dengan Collabstore, yang merupakan platform ritel Malaysia, menjadi bukti bahwa Vielga berhasil menyesuaikan kebaya dengan selera pasar tujuan. “Kolaborasi ini memberikan peluang untuk memperkenalkan karya lokal ke audiens yang lebih luas,” jelasnya. Hendra pun mengapresiasi langkah ini, karena membantu membangun identitas nasional melalui produk ekonomi kreatif.
Lebih jauh, Hendra mengungkapkan bahwa KBRI KL terus berupaya memberikan dukungan kepada UKM Indonesia. “Selama ini kami melihat apa yang diminati masyarakat Malaysia ketika mereka berkunjung ke Indonesia. Dari sana, kita bisa memperkenalkan wastra dan inovasi lokal secara lebih efektif,” katanya. Ia berharap keberhasilan Roemah Kebaya Vielga dapat menjadi contoh bagi UKM lainnya.
Dalam konteks global, Vielga mengingatkan bahwa adaptasi produk harus dilakukan secara cerdas. “UKM harus berani berubah, tetapi tetap menjaga inti kreativitasnya. Jika tidak, produk akan kehilangan daya tarik di pasar luar negeri,” ujarnya. Menurutnya, kunci sukses adalah keseimbangan antara inovasi dan keaslian. “Selama ini, banyak UMKM yang terjebak pada tradisi, tapi kita juga perlu terbuka terhadap perubahan agar bisa bertahan dalam persaingan global,” tambahnya.
KBRI KL juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat kreativitas dengan membuka peluang kerja sama yang lebih luas. “Kami percaya bahwa produk lokal, seperti kebaya, bisa menjadi ikon nasional yang dikenal dunia. Dengan penyesuaian yang tepat, UKM Indonesia bisa bersaing di pasar internasional,” katanya. Hendra berharap dukungan pemerintah dan institusi seperti KBRI KL bisa mempercepat proses ekspor produk kebaya ke negara-negara lain.
Keberhasilan Vielga dalam merambah pasar Malaysia dan Singapura menjadi inspirasi bagi UKM Indonesia lainnya. “Mereka bisa belajar dari pengalaman ini, karena setiap langkah yang diambil membutuhkan kesabaran dan strategi yang tepat,” imbuh Vielga. Menurutnya, proses ekspor bukan hanya tentang kualitas produk, tetapi juga tentang komunikasi yang baik dan kesesuaian dengan budaya lokal.
Dalam rangka memperkuat keberadaan UKM Indonesia di pasar internasional,
