Special Plan: Ketua ICCD tegaskan pentingnya sistem ekonomi berbasis keadilan

IMG-20260607-WA0001

Ketua ICCD Bangun Ekonomi Berkeadilan Melalui Special Plan

Special Plan adalah strategi kunci yang dituangkan oleh Ketua Kamar Dagang dan Pembangunan Islam (ICCD) Abdullah Saleh Kamel dalam upaya memperbaiki sistem ekonomi global. Dalam sebuah keterangan pers yang diterima di Jakarta, Ahad, Kamel menegaskan pentingnya mengembangkan model ekonomi yang menekankan keadilan, produktivitas, dan manfaat bagi seluruh masyarakat. Ia menyoroti bahwa dunia saat ini membutuhkan perubahan struktural untuk mengembalikan etika pada proses modal, yang selama ini sering diabaikan. “Special Plan bertujuan mengubah cara modal bekerja, dari alat pemerasan menjadi instrumen pelayanan,” kata Kamel, yang juga menyampaikan kritik terhadap ketidakseimbangan ekonomi global.

“Special Plan memperkuat prinsip Islam bahwa kekayaan harus dibagi secara adil, bukan ditimbun atau dimonopoli.”

Kamel mengingatkan bahwa kelemahan ekonomi modern terletak pada konversi modal menjadi komoditas negatif, yang merugikan kelompok rentan. Ia menekankan bahwa dalam KTT Ekonomi Islam di Istanbul (3–6 Juni), tema “Capital in the Islamic Economy: Structuring Wealth for Sustainable Development” menjadi fokus utama Special Plan. Acara tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh seperti Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdoğan, Syekh Dr. Saleh bin Abdullah bin Humaid, dan penasihat Istana Kerajaan Arab Saudi. Kamel menambahkan bahwa kekayaan yang terkonsentrasi di tangan kelompok terkaya memperparah ketimpangan, sementara masyarakat miskin kesulitan memperoleh akses ke sumber daya.

Special Plan dan Peran CSR

Kamel juga mengkritik praktik tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dalam konteks Special Plan. Menurutnya, kontribusi CSR hanya mencakup sebagian kecil dari kebutuhan untuk memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas bisnis. “CSR sering digunakan sebagai alat penutup kesan positif, tetapi tidak mengatasi dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan manusia,” jelas Kamel. Ia menekankan bahwa prinsip Islam mengharuskan pencegahan mudarat, namun ekonomi modern justru memperburuk masalah ini karena tidak mengintegrasikan nilai-nilai keadilan.

Produktivitas, Zakat, dan Keseimbangan Ekonomi

Dalam KTT tersebut, Kamel mengungkapkan tiga pilar utama Special Plan. Pertama, modal harus produktif dan menciptakan kekayaan untuk pertumbuhan ekonomi. Kedua, uang tidak boleh dianggap sebagai komoditas spekulatif karena praktik riba mengubahnya menjadi alat negatif. Ketiga, kekayaan harus dibagi secara adil melalui zakat, sedekah, dan wakaf sebagai bentuk modal sosial. “Special Plan mencakup kebutuhan mengembalikan fungsi uang sebagai alat pelayanan bersama, bukan instrumen pemerasan,” tegasnya.

Kamel menyebutkan bahwa kekayaan yang terkonsentrasi di tangan satu persen paling kaya menciptakan ketimpangan yang mendalam. “Special Plan berfokus pada peningkatan kualitas hidup seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa ketergantungan pada model ekonomi kapitalis terus memperkuat ketidakseimbangan struktural, sementara peningkatan utang negara memperburuk situasi.

Konsentrasi Kekayaan dan Dampaknya

Special Plan diusung Kamel sebagai solusi untuk mengurangi dampak konsentrasi kekayaan. Ia mengatakan bahwa dominasi perusahaan multinasional dalam sektor teknologi semakin mengendalikan pasar global, mengurangi peluang pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat umum. “Special Plan menekankan kebutuhan memperbaiki distribusi kekayaan, agar semua lapisan masyarakat bisa berkembang secara adil,” tambah Kamel. Ia juga menyoroti bahwa media sosial yang digunakan secara berlebihan oleh anak-anak muda mengubah pola konsumsi dan memperparah ketimpangan.

Langkah Strategis dalam Special Plan

Kamel menegaskan bahwa Special Plan membutuhkan kebijakan yang menekankan etika modal dan keadilan. “Kita harus mengubah sistem ekonomi yang berorientasi keuntungan menjadi model yang berfokus pada pelayanan kebutuhan bersama,” katanya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan Special Plan tergantung pada integrasi prinsip Islam dalam pengambilan keputusan ekonomi. “Special Plan menggabungkan nilai-nilai produktivitas, keadilan, dan keseimbangan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan,” ujar Kamel, yang juga menyoroti peran zakat dalam mendorong keadilan.

Special Plan diharapkan bisa menjadi pedoman bagi negara-negara dalam membangun sistem ekonomi yang lebih sehat. Kamel menyampaikan bahwa konsentrasi kekayaan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. “Dengan Special Plan, kita bisa menciptakan struktur ekonomi yang tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi juga masyarakat luas,” pungkasnya. Strategi ini, menurut Kamel, adalah langkah penting untuk mencapai keadilan dalam perjalanan pembangunan global.