Menghadapi Tantangan: China bantah suplai senjata untuk perang ke Iran
China Bantah Suplai Senjata Untuk Perang ke Iran
Dalam konferensi pers di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa pemerintah Tiongkok tidak mengirimkan senjata ke Iran. Pernyataan ini ditujukan untuk menyanggah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan menaikkan tarif 50 persen terhadap barang impor dari Tiongkok jika terbukti menyuplai senjata kepada Iran.
“China secara konsisten menjalankan kebijakan ekspor senjata yang bijaksana dan bertanggung jawab. Kami mengikuti aturan ekspor serta kewajiban internasional secara ketat. Laporan yang menyebutkan Tiongkok memasok senjata ke Iran merupakan hasil buatan,” ujar Guo Jiakun.
Blokade Selat Hormuz yang diterapkan Trump dianggap memperburuk konflik dan merugikan hubungan internasional. Guo Jiakun menambahkan bahwa blokade ini menimbulkan tekanan tambahan pada perjanjian gencatan senjata sementara yang telah diumumkan. “AS meningkatkan pasukan militer dan melakukan penguncian jalur laut, sehingga hanya akan memperparah ketegangan dan merusak keseimbangan yang sudah tercapai,” katanya.
Kemampuan Militer Iran Juga Ditingkatkan
Menurut laporan tambahan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran bersiap memanfaatkan kemampuan militer baru jika perang dengan AS dan Israel berlanjut. “Kami belum menampilkan seluruh potensi, dan jika konflik berlanjut, kami akan mengungkap kemampuan yang belum diketahui oleh lawan,” ujar Jubir IRGC, Hossein Mohebbi.
“Kemampuan pasukan Iran telah meningkat, termasuk rudal, drone, dan senjata-senjata modern. Kami memiliki persediaan amunisi dan peralatan militer yang memadai untuk melanjutkan operasi ofensif dan defensif di masa depan,” papar Reza Talaeinik, Jubir Kementerian Pertahanan Iran.
Konflik antara Iran, AS, dan Israel sejak 28 Februari 2026 telah menimbulkan kenaikan harga minyak global. Selain itu, perang ini telah menyebabkan kematian lebih dari 1.400 orang dan merusak fasilitas Iran sebesar 270 miliar dolar AS. Selat Hormuz, yang menjadi jalur pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak, produk petroleum, serta gas alam cair (LNG) dunia, juga menjadi target utama blokade yang diberlakukan AS.
China Dorong Perjanjian Lengkap
Guo Jiakun menekankan bahwa gencatan senjata permanen diperlukan untuk menciptakan kondisi damai. “Kami mendorong pihak-pihak terkait agar menjunjung perjanjian sementara, mengutamakan negosiasi damai, dan mengambil langkah konkret untuk mempercepat stabilisasi situasi,” tambahnya.
Sementara itu, pada 8 April 2026, AS dan Iran sepakat menghentikan sementara konflik di Selat Hormuz. Namun, perundingan di Islamabad pada 10 April gagal menyelesaikan perselisihan utama. Pada 12 April, Komando Pusat (CENTCOM) AS mengumumkan rencana untuk memblokade jalur maritim mulai 13 April pukul 14.00 waktu lokal, sesuai arahan Trump.

