Special Plan: Jacksen Tiago tekankan penguatan mental pesepak bola putri MLSC
Jacksen Tiago tekankan penguatan mental pesepak bola putri MLSC
Special Plan – Kudus, Jawa Tengah – Di tengah ajang MLSC All-Stars 2026 yang digelar di Kudus, Jawa Tengah, pada hari Sabtu, Jacksen Ferreira Tiago, pelatih kepala MilkLife Soccer Challenge (MLSC), menyoroti peran penting penguatan mental bagi para pemain putri yang dilatih dalam program ini. Dalam wawancara dengan awak media, Jacksen mengatakan bahwa selama beberapa kunjungan ke berbagai daerah, ia menyadari bahwa aspek mental dan emosional menjadi fondasi utama dalam membentuk atlet unggulan untuk tim nasional putri Indonesia.
Mental sebagai Kunci Pengembangan
Menurut Jacksen, banyak pihak terbiasa fokus pada peningkatan taktik atau teknik saat membangun tim sepak bola. Namun, dari pengalaman mengamati pemain muda, ia menemukan bahwa pengembangan mental memiliki dampak lebih besar. “Kadang kita berpikir harus benahi taktikal, kita harus begini, begitu, tetapi kalau kesan saya dalam beberapa kali kunjungan ke berbagai tempat itu adalah penguatan aspek mental atau emosional,” ujarnya.
“Para pemain ini kadang mereka cuma membutuhkan kata-kata yang bisa membuat mereka merasa nyaman, tenang, dan sebagainya,” katanya.
Dalam pandangan Jacksen, mental pemain putri memegang peran kritis karena mereka menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan rekan sebaya laki-laki. Banyak dari mereka memiliki latar belakang kehidupan yang beragam, mulai dari tekanan keluarga hingga ekspektasi sosial. “Mereka sedang mencari figur yang tidak hanya menjadi panutan, tetapi juga tempat mereka bisa melupakan segala kekhawatiran,” tambahnya.
Kemajuan Bakat Pesepak Bola Putri
Jacksen menegaskan bahwa sejumlah talenta menonjol telah muncul dari berbagai tim yang tergabung dalam MLSC All-Stars. Berbagai pemain yang dianggap memiliki potensi besar, seperti Ika Wonda, penyerang yang mewakili Solo, Sabrina Dwi Ristiyana, gelandang dari Kudus, Rayna Picessa, pemain Tangerang, serta Hafizah Lubna, bek yang berasal dari Jakarta, menunjukkan kemampuan yang memperlihatkan masa depan cerah.
Ia menjelaskan bahwa para atlet muda ini tidak hanya memperlihatkan kemampuan teknis yang memadai, tetapi juga kemauan untuk terus berkembang. “Beberapa di antaranya menunjukkan kemampuan di atas rata-rata yang ke depan bisa menjadi andalan untuk timnas,” tutur Jacksen.
Menurutnya, keberhasilan program MLSC berada di tangan para pelatih yang mampu memberikan dukungan emosional. “Mereka perlu figur yang bisa membangun kepercayaan diri dan menekankan pentingnya disiplin,” lanjutnya. Dengan pendekatan ini, Jacksen optimis bahwa para pemain muda akan terus berkembang secara komprehensif.
Strategi Masa Depan dan Tantangan
Dalam upaya mencapai tujuan membangun timnas putri Indonesia, Jacksen menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pelatih. “Tugas selanjutnya adalah memberikan pelatihan yang lebih baik agar atlet muda kategori U12 bisa berkembang optimal,” jelasnya.
Menurut Jacksen, program MLSC tidak hanya berfokus pada teknik dan taktik, tetapi juga pada aspek psikologis. “Kalau kita konsisten membina mereka, saya rasa akan menjadi kuncinya untuk membawa timnas kita ke panggung dunia,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa selama berpartisipasi dalam program ini, ia menyaksikan perubahan signifikan pada pemain. “Sejak bergabung, saya menyimpulkan bahwa pembinaan mental adalah prioritas utama,” katanya. Dalam konteks ini, Jacksen berpendapat bahwa mental pemain perempuan memiliki sifat yang lebih menonjol dibandingkan aspek fisik atau taktik.
Dukungan dari Masyarakat dan Pengembangan Berkelanjutan
Menurut Jacksen, keberhasilan pembinaan tidak hanya bergantung pada pelatih, tetapi juga pada lingkungan sekitar. “Para pemain perlu dukungan dari keluarga, sekolah, serta komunitas lokal agar bisa berkembang lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program MLSC berkomitmen untuk menciptakan sistem yang seimbang antara pembinaan fisik dan mental. “Fisik adalah fondasi, tetapi mental adalah pelengkap yang memastikan mereka bisa menghadapi tekanan kompetitif,” katanya.
Dalam wawancara, Jacksen juga menyebutkan bahwa keberhasilan di masa depan akan tergantung pada keseriusan semua pihak. “Kita harus konsisten, kreatif, dan terus mencari solusi untuk memperkuat mental para atlet,” tegasnya.
Konteks Persaingan dan Harapan Besar
Sebagai mantan pelatih Persipura Jayapura, Jacksen membawa pengalaman berharga dalam membangun tim sepak bola. “Saya melihat bahwa MLSC memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan atlet putri di Indonesia,” katanya.
Dalam perjalanan pembinaannya, Jacksen menyadari bahwa kepercayaan diri dan ketahanan mental menjadi faktor kunci dalam menghadapi kompetisi. “Mereka perlu terbiasa dengan tekanan, tetapi tetap fokus pada tujuan jangka panjang,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antar tim dalam program ini. “Dengan saling berbagi metode dan pengalaman, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk semua pemain,” katanya.
Keseluruhan program MLSC diharapkan mampu menanamkan semangat juang dan kerja keras pada para pemain muda. Jacksen berharap, setelah melalui proses pembinaan yang terstruktur, para atlet putri bisa menunjukkan performa terbaiknya di kancah nasional maupun internasional. “Kita harus memberikan peluang dan dukungan yang setara dengan atlet laki-laki,” tutupnya.
