Special Plan: Menhub pisahkan angkutan logistik atasi kemacetan Ketapang-Gilimanuk

7F7FBBDB-7ED5-4DBB-B850-2E83BA07604B

Menhub Terapkan Special Plan Pisahkan Logistik dan Penumpang untuk Atasi Kemacetan Ketapang-Gilimanuk

Special Plan – Kemacetan yang terjadi di sekitar area pelabuhan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk kini dihadapi dengan strategi baru berupa Special Plan yang digagas oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi. Upaya ini bertujuan memisahkan layanan angkutan logistik dari penumpang, serupa dengan kebijakan yang telah diterapkan di jalur Merak-Bakauheni. Dudy menjelaskan bahwa pemisahan ini dilakukan untuk meningkatkan kelancaran operasional pelabuhan tersebut, khususnya mengurangi penumpukan kendaraan yang memperparah antrean di masa-masa puncak.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu lalu, Dudy mengatakan bahwa Special Plan ini merupakan langkah antisipatif yang diharapkan mampu mengoptimalkan penggunaan fasilitas Celukan Bawang. “Kita ingin menciptakan sistem yang terpisah, sehingga arus lalu lintas tidak lagi terkonsentrasi di satu titik,” terangnya. Hal ini diperlukan karena kerusakan Dermaga Bulusan terus memengaruhi kapasitas pengangkutan, menyebabkan peningkatan volume kendaraan yang memperburuk situasi.

“Dengan pemisahan layanan, kapasitas angkutan logistik dan penumpang bisa dikelola secara lebih efektif. Ini akan mempercepat proses bongkar muat dan mengurangi keterlambatan yang terjadi saat jam sibuk,” ujar Dudy Purwagandhi.

Menurut Menhub, penerapan Special Plan tidak hanya memerlukan koordinasi internal Kementerian Perhubungan, tetapi juga kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bali dan pelaku usaha. Ia menuturkan bahwa keterlibatan gubernur Bali telah menjadi bagian penting dalam merealisasikan rencana ini. “Kolaborasi ini akan memastikan peningkatan kapasitas dermaga dan pengelolaan yang lebih terstruktur,” tambahnya. Pihaknya juga berharap pelaku swasta seperti Pelindo (Perseroan Terbatas Pelabuhan Indonesia) dapat turut berkontribusi dalam mewujudkan solusi jangka panjang.

Penyebab Keterlambatan dan Tantangan Terkini

Kemacetan di Ketapang-Gilimanuk belakangan ini dipicu oleh sejumlah faktor, salah satunya kerusakan Dermaga Bulusan yang memaksa sebagian besar layanan penyeberangan dialihkan ke dermaga ASDP Indonesia Ferry. “Kondisi ini membuat kapasitas penyeberangan menjadi terbatas, terutama untuk truk-truk besar yang kesulitan memasuki dermaga utama,” jelas Dudy. Selain itu, pengurangan kapasitas akibat hambatan operator kapal juga memperparah masalah, sehingga Special Plan diharapkan menjadi penyelesaian yang lebih komprehensif.

Dudy menekankan bahwa keterbatasan kapasitas di dermaga ASDP menjadi hambatan utama. “Karena itu, kita perlu memperbaiki fasilitas Celukan Bawang agar bisa menangani volume yang lebih besar, baik untuk logistik maupun penumpang,” tambahnya. Pemisahan layanan ini juga bertujuan mengurangi konflik antara pengemudi truk dan mobil pribadi, yang sering terjadi saat arus lalu lintas mencapai puncak.

Dalam menangani tantangan ini, Menhub mengungkapkan bahwa peningkatan infrastruktur menjadi prioritas. “Selain pemisahan fungsi, kita juga sedang memperbaiki dermaga Bulusan agar bisa kembali beroperasi secara optimal,” kata Dudy. Ia menambahkan bahwa penyelesaian perbaikan tersebut diperkirakan bisa selesai sebelum musim mudik Lebaran 2027, sehingga Special Plan dapat diimplementasikan secara bertahap.

Target Penerapan dan Strategi Masa Depan

Menurut Dudy, Special Plan akan dimulai sebelum periode angkutan Lebaran 2027 sebagai persiapan menghadapi lonjakan mobilitas. “Ini bukan hanya untuk mengatasi kemacetan saat ini, tetapi juga untuk menciptakan sistem penyeberangan yang lebih modern dan efisien,” katanya. Strategi ini didukung oleh perbaikan infrastruktur dan kolaborasi antar instansi, yang menjadi kunci keberhasilan pengelolaan jalur tersebut.

Menhub juga mengungkapkan bahwa pemisahan layanan akan memperkuat kapasitas penyeberangan. “Dengan dua titik pengelolaan yang terpisah, masing-masing akan memiliki kapasitas sesuai kebutuhan. Ini akan memastikan pengangkutan logistik dan penumpang berjalan lebih lancar,” terangnya. Harapan utama dari kebijakan ini adalah mencegah kemacetan berulang dan meningkatkan kenyamanan bagi pengguna jasa serta pengemudi.

Dudy berharap penerapan Special Plan dapat menjadi contoh terbaik dalam pengelolaan pelabuhan penyeberangan di Indonesia. “Dengan sistem ini, kita bisa mengatasi masalah yang sering terjadi di jalur lain, seperti di Gilimanuk, dan menjadikannya sebagai model untuk area serupa,” pungkasnya. Ia juga menyebutkan bahwa selain dermaga, pihaknya sedang mengevaluasi kemungkinan tambahan kapal serta peningkatan kapasitas angkutan darat untuk mengimbangi kebutuhan logistik dan penumpang.