Special Plan: Peduli kesehatan, Dinkes Kota Madiun cek kualitas udara rumah warga

Peduli Kesehatan, Dinkes Kota Madiun Lakukan Pengecekan Kualitas Udara Rumah Warga

Special Plan – Kota Madiun, Jawa Timur, menjadi salah satu daerah yang rutin memperhatikan kondisi lingkungan rumah tangga masyarakat melalui kegiatan surveilans kualitas udara dalam ruang (SKUDR). Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Madiun melakukan surveilans ini dengan tujuan mengidentifikasi kontaminan udara yang dapat memicu penyakit pernapasan serta menjamin kualitas lingkungan yang sehat bagi warga. Kepala Sub Koordinator Pengelolaan Kesehatan Lingkungan Kerja dan Olahraga Dinkes PPKB, Retno Dwi Wahyuni, menjelaskan bahwa surveilans ini diadakan secara serentak oleh enam puskesmas yang ada di Kota Madiun. “Ini adalah upaya surveilans kualitas udara dalam ruang dan dampak kesehatan terhadap masyarakat,” ujar Retno saat melakukan pengukuran di Kelurahan Patihan, wilayah kerja Puskesmas Ngegong, Jumat lalu. Hasil yang diperoleh nantinya akan dibandingkan dengan standar mutu udara yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

Standar Mutu Udara Dalam Ruang

Retno menambahkan, kegiatan SKUDR berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2023 tentang Kesehatan Lingkungan. Dalam peraturan tersebut, terdapat parameter kualitas udara dalam ruang yang wajib diukur, seperti suhu, kelembapan, pencahayaan, kebisingan, laju ventilasi, dan partikulat debu. “Standar baku mutu udara dalam ruang berlaku untuk suhu antara 18–30 derajat Celsius, kelembapan 40–60 persen, tingkat kebisingan maksimal 55 desibel, serta pencahayaan minimal 60 lux,” kata Retno. Ia menekankan pentingnya mematuhi standar ini karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan kenyamanan penduduk.

Proses Pengecekan dan Fokus Area

Pengecekan kualitas udara dilakukan dengan menggunakan alat sanitarian kit oleh petugas kesehatan lingkungan dari puskesmas. Setiap puskesmas mengambil 30 sampel rumah warga yang dipilih berdasarkan indikator tertentu, seperti wilayah dengan angka kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) tinggi, area padat penduduk, atau tempat dekat jalur transportasi umum serta industri. “Kami memilih rumah yang diperkirakan berpotensi mengalami penurunan kualitas udara, baik karena letak fisik maupun aktivitas sehari-hari warga,” jelas Retno. Pemeriksaan dilakukan di tiga titik ruangan, yaitu ruang tamu, kamar tidur, dan dapur, untuk memastikan kondisi udara di berbagai zona aktivitas dalam rumah.

Kontaminan dan Dampak pada Kesehatan

Dinkes PPKB Kota Madiun menyadari bahwa udara dalam ruang bisa menjadi sumber paparan polutan yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang asma. Retno menyoroti bahwa partikulat debu, misalnya, sering kali berasal dari aktivitas rumah tangga, seperti pemanasan dengan kompor batu bara, penggunaan bahan bakar minyak tanah, atau kebiasaan menumpuk sampah di dalam rumah. “Indikator seperti kelembapan dan suhu juga penting karena jika terlalu tinggi, bisa memperburuk kondisi udara,” terangnya. Selain itu, kebisingan dari alat elektronik atau aktivitas di sekitar rumah juga menjadi perhatian.

Surveilans Rutin dan Peran Puskesmas

Dinas Kesehatan menyatakan bahwa SKUDR dilaksanakan dua kali setahun sebagai bagian dari upaya pencegahan risiko penyakit akibat lingkungan. “Puskesmas terlibat secara aktif dalam menyebarluaskan data dan memberikan edukasi kepada warga,” ujar Retno. Ia menjelaskan bahwa selain memantau kualitas udara, surveilans ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kebersihan dan lingkungan rumah. “Hasil surveilans akan diolah menjadi rekomendasi untuk tindakan perbaikan, baik di tingkat pemerintah daerah maupun individu,” lanjutnya. Dengan demikian, pemerintah kota berupaya mengurangi paparan polutan yang berdampak negatif pada kesehatan.

Keterlibatan Masyarakat dan Hasil yang Diharapkan

Retno menekankan bahwa partisipasi masyarakat sangat penting dalam memastikan keberhasilan surveilans. “Kami meminta warga memperhatikan kondisi rumah mereka dan melaporkan gejala kesehatan akibat udara yang tidak sehat,” tuturnya. Pemerintah juga berharap kegiatan ini dapat mendeteksi dini masalah kualitas udara yang bisa memicu penyakit kronis, seperti asma atau gangguan pernapasan lainnya. “Dengan adanya data yang akurat, kita bisa mengambil langkah-langkah tepat waktu untuk memperbaiki lingkungan rumah,” kata Retno. Selain itu, hasil surveilans ini diharapkan bisa menjadi dasar dalam merancang kebijakan lingkungan yang lebih efektif.

Langkah Penguatan dan Peningkatan

Kota Madiun terus memperluas program SKUDR sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup masyarakat. Retno menjelaskan bahwa surveilans ini tidak hanya fokus pada parameter fisik, tetapi juga mengintegrasikan penilaian terhadap kondisi sosial dan ekonomi warga. “Beberapa rumah mungkin mempunyai keterbatasan teknis dalam ventilasi, sehingga perlu pendekatan yang lebih adaptif,” ujarnya. Selain itu, Dinkes PPKB juga menggandeng organisasi lokal dan kelompok kerja untuk memastikan kegiatan ini berjalan optimal. “Kami berharap masyarakat merespons positif karena ini berdampak langsung pada kesehatan mereka,” tambah Retno.

Pentingnya Kesadaran Kesehatan Lingkungan

Retno menyebut bahwa surveilans kualitas udara dalam ruang merupakan bagian dari pendekatan holistik dalam memperbaiki kesehatan masyarakat. “Kita tidak hanya fokus pada penyakit yang terlihat, tetapi juga mencegah risiko yang mungkin tersembunyi di lingkungan rumah,” jelasnya. Ia menambahkan, kesadaran tentang dampak udara dalam ruang sangat berperan dalam mencegah penyakit menular atau kronis. “Dengan adanya data dari surveilans, kita bisa mengidentifikasi area yang memerlukan intervensi lebih lanjut,” ujarnya. Pemerintah daerah juga berencana meningkatkan fasilitas sanitasi dan pengurangan emisi polutan di tingkat kelurahan.

Pembelajaran dari Surveilans SKUDR

Dinkes PPKB Kota Madiun memanfaatkan hasil surveilans untuk menyusun rekomendasi perbaikan yang disesuaikan dengan kebutuhan tiap wilayah. Retno menjelaskan bahwa data dari rumah warga di Kelurahan Patihan, misalnya, menunjukkan kebutuhan tambahan untuk memperbaiki sistem ventilasi. “Ini menunjukkan bahwa surveilans tidak hanya sekadar mengukur, tetapi juga memberikan solusi berdasarkan realitas di lapangan,” ujarnya. Dengan mem