Special Plan: Dinkes Tanjungpinang: Imunisasi efektif cegah penyebaran campak

inbound6948899374587435550

Dinkes Tanjungpinang: Imunisasi efektif cegah penyebaran campak

Special Plan – Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, menjadi sorotan karena keberhasilan program vaksinasi yang dijalankan oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang dalam mencegah penyebaran penyakit campak. Dalam wawancara terkini, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tanjungpinang, Rustam, menegaskan bahwa hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai lonjakan kasus penyakit tersebut. Dia menjelaskan, capaian ini didorong oleh partisipasi aktif masyarakat yang secara rutin membawa anak-anak ke fasilitas kesehatan untuk menerima vaksinasi.

“Capaian ini tidak terlepas dari partisipasi masyarakat yang secara rutin membawa anak-anak mereka untuk mendapatkan imunisasi di fasilitas kesehatan,” kata Rustam di Tanjungpinang, Sabtu.

Dinkes Tanjungpinang memberikan data bahwa selama tahun 2025, tercatat sepuluh kasus campak dan dua kasus rubella. Jumlah ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, pada tahun 2026, terdapat 26 laporan diduga campak. Sejumlah sampel dari kasus-kasus tersebut telah dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut. Meski demikian, Rustam mengklaim bahwa penyebaran campak di wilayah tersebut tetap terkendali.

Campak, menurut Rustam, adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus akut Morbillivirus. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan dan menunjukkan gejala berupa ruam kemerahan yang menyebar ke seluruh tubuh. Dikatakan bahwa campak sangat menular, sehingga kekebalan tubuh menjadi kunci utama dalam mencegah penyebarannya. Meski lebih sering menyerang anak-anak, penyakit ini juga dapat menjangkit siapa saja yang belum mendapatkan perlindungan vaksin.

Jadwal dan Proses Pemberian Vaksin

Vaksinasi campak, lanjut Rustam, merupakan bagian dari program imunisasi nasional yang diberikan secara bertahap kepada anak-anak. Dosis pertama diberikan saat bayi berusia sembilan bulan, sebagai langkah awal untuk membangun kekebalan tubuh. Setelah itu, dosis penguat atau booster diberikan pada usia 15 hingga 18 bulan, serta dosis ketiga pada usia lima hingga tujuh tahun atau saat anak memasuki kelas satu sekolah dasar.

“Efek samping yang muncul umumnya ringan, seperti demam setelah imunisasi dan merupakan kondisi yang wajar. Tidak menimbulkan efek samping yang berat bagi anak-anak,” tuturnya.

Rustam menekankan bahwa keberhasilan program vaksinasi ini tidak hanya bergantung pada kehadiran pihak berwenang, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam memastikan anak-anak mereka mendapatkan vaksin secara teratur. Ia menjelaskan bahwa kekebalan tubuh anak-anak yang terbentuk melalui tiga dosis utama vaksin campak menjadi pelindung kuat terhadap virus yang menyebar melalui droplet atau kontak langsung.

Selain vaksin campak, pemerintah juga menyediakan berbagai jenis imunisasi lain sesuai dengan tahapan usia anak. Contohnya, vaksin hepatitis B yang diberikan saat bayi baru lahir, serta vaksin untuk mencegah penyakit polio, pertusis, dan diare berat. Dinkes Tanjungpinang menyatakan bahwa layanan imunisasi tersedia setiap bulan di posyandu dan puskesmas. Orang tua dianjurkan untuk memantau jadwal vaksinasi anak mereka melalui buku kesehatan ibu dan anak yang dibagikan oleh petugas kesehatan.

Rustam menambahkan, meskipun jadwal vaksinasi berbeda untuk setiap jenis imunisasi, kehadiran layanan yang teratur di puskesmas dan posyandu memudahkan masyarakat dalam mengakses perlindungan kesehatan. Ia mengatakan, setiap bulan ada jadwal, namun untuk anak-anak, jadwal tersebut disesuaikan dengan tahapan pertumbuhan mereka. Misalnya, vaksin campak diberikan secara bertahap agar efektivitasnya maksimal.

Pentingnya Partisipasi Masyarakat

Dalam menjaga keberhasilan program vaksinasi, partisipasi masyarakat memainkan peran kritis. Rustam mengungkapkan, masyarakat yang aktif mengantarkan anak-anak ke tempat pemberian vaksin membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit. Ia mencontohkan, kehadiran orang tua yang konsisten menjadwalkan vaksinasi membuat progres pencegahan campak lebih optimal.

Kasus campak di Tanjungpinang, meski tidak mencapai angka yang signifikan, tetap menjadi perhatian khusus. Dinkes mencatat bahwa jumlah kasus di tahun 2025 tergolong rendah, namun pada 2026 ada peningkatan yang perlu diwaspadai. Hal ini membuat perlunya penguatan program vaksinasi, serta edukasi masyarakat mengenai manfaat dan jadwal pemberian vaksin.

Vaksin campak, sebagaimana disampaikan Rustam, dianggap sangat efektif dalam mencegah penyakit yang bisa mengakibatkan komplikasi berat, seperti pneumonia atau keracunan. Dengan tiga dosis yang teratur, kekebalan tubuh anak-anak diharapkan bisa mencapai tingkat maksimal. Efek samping yang mungkin muncul, seperti demam ringan, biasanya tidak mengganggu dan bisa ditangani dengan baik.

Rustam juga menyoroti peran posyandu dalam mendukung program vaksinasi. Posyandu, sebagai pusat layanan kesehatan komunitas, menjadi tempat yang strategis untuk menyebarkan informasi dan memastikan kehadiran anak-anak dalam jadwal vaksinasi. Ia menekankan bahwa jadwal imunisasi harus diikuti secara lengkap agar perlindungan terhadap penyakit bisa terjaga.

Edukasi dan Penyebaran Informasi

Menurut Rustam, edukasi berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin. Ia menambahkan, kekebalan tubuh anak-anak yang terbentuk melalui vaksinasi tidak hanya melindungi mereka sendiri, tetapi juga membantu mencegah penyebaran penyakit ke lingkungan sekitar. Ini sangat berharga dalam memutus rantai penularan, terutama di lingkungan yang padat penduduk.

Dinkes Tanjungpinang menyatakan bahwa penggunaan buku kesehatan ibu dan anak memudahkan orang tua dalam mengingat jadwal vaksinasi. Buku ini berisi informasi lengkap tentang jenis vaksin, jadwal pemberian, dan efek samping yang mungkin terjadi. Dengan bantuan buku tersebut, orang tua bisa menjaga konsistensi pengambilan vaksin, sehingga risiko penyakit campak bisa diminimalkan.

Menyusul kenaikan jumlah kasus di 2026, Dinkes Tanjungpinang terus memantau perkembangan epidemiologi penyakit tersebut. Rustam menyampaikan, meskipun angka kasus masih terkendali, upaya