Key Discussion: Jawara Beton Lapas Tangerang, di antara pembinaan dan harapan

IMG_3657

Jawara Beton Lapas Tangerang: Dari Penjara ke Perakitan Besi

Key Discussion – Lapas Kelas I Tangerang, Banten, menjadi tempat penjara bagi Serbau Bin Herman (39), yang kerap disapa Abu, dalam menyongsong kebebasannya yang semakin dekat. Tinggal satu tahun lagi, Abu akan kembali ke dunia luar setelah menjalani hukuman penjara selama 12 tahun atas tindak pidana penganiayaan berat. Meski cenderung tertutup ketika membicarakan detail kasus yang mengiringinya ke balik jeruji besi, ia justru bersedia menceritakan pengalaman berharga dalam pembinaan yang dilakukannya.

Pembinaan Konstruksi yang Mengubah Pandangan

Program “Jawara Beton” menjadi bagian penting dari perjalanan Abu di dalam lapas. Ia kini diberikan tanggung jawab sebagai mandor dalam aktivitas perakitan besi, bersama sejumlah warga binaan lainnya. Kepercayaan ini berasal dari latar belakang kerja Abu sebagai pekerja konstruksi sebelum masuk ke penjara. Dengan keahliannya, ia diberi kesempatan mengasah keterampilan lebih dalam.

Bersama rekan-rekan sesama tahanan, Abu telah terlibat dalam program ini selama enam bulan terakhir. Setiap hari, ia dan timnya menghabiskan waktu dari pukul 08.00 hingga 17.30 WIB untuk merakit besi yang akan digunakan dalam proyek konstruksi Jawara Beton. Aktivitas ini menuntut konsentrasi, koordinasi, dan disiplin, sehingga membuat hari-harinya lebih dinamis dibandingkan sebelumnya.

Dari Pertanian ke Konstruksi: Perubahan Pengalaman

Sebelum bergabung dengan program Jawara Beton, Abu pernah terlibat dalam pembinaan pertanian. Meski menawarkan kegiatan rutin, ia merasa kurang terpacu karena jadwal yang tidak terlalu padat. Situasi berbeda ketika ia beralih ke bidang konstruksi. Kini, ia merasakan rutinitas yang lebih berarti dan menantang.

“Sebelumnya, saya hanya berkebun. Tapi sekarang, pekerjaan saya lebih menantang karena bisa berkontribusi langsung,” ujarnya. Dalam program Jawara Beton, setiap hari dihabiskan untuk menyelesaikan target produksi hingga 100 unit besi. Kegiatan ini dilakukan dengan waktu istirahat di siang hari, memastikan keseimbangan antara kerja dan kesehatan.

Manfaat Finansial: Langkah Menuju Hidup Baru

Program ini tidak hanya memberikan pelatihan teknis, tetapi juga penghasilan bulanan. Abu menerima premi sebesar Rp800 ribu per bulan, yang sebagian besar ia tabung dalam rekening pribadinya. Dalam enam bulan terakhir, tabungannya telah mencapai kurang lebih Rp2 juta. Dengan uang tersebut, ia berencana menginvestasikan sebagai modal awal untuk memulai kehidupan baru setelah bebas.

“Uang dari premi ini bisa jadi sumber daya untuk menopang keluarga dan membangun usaha sendiri,” tambahnya. Kebiasaan tabungan ini menjadi bukti bahwa program Jawara Beton membantu warga binaan meraih kemandirian finansial. Selain itu, pengalaman berkerja di balik jeruji besi membuka wawasan baru tentang manajemen waktu dan tanggung jawab.

Harapan untuk Terus Berkontribusi

Abu tidak hanya mengharapkan kebebasan fisik, tetapi juga kesempatan untuk terus berpartisipasi dalam proyek sosial. Ia ingin diberi kepercayaan menjadi mitra pemasyarakatan pasca-bebas, sehingga bisa terus menjalankan peran produktif. “Saya ingin tetap berkontribusi, bahkan setelah keluar dari sini,” tutur Abu.

Program Jawara Beton dirancang sebagai bagian dari upaya mempercepat reintegrasi warga binaan ke masyarakat. Selain melatih keterampilan kerja, aktifitas ini juga memberikan rasa percaya diri dan kebanggaan. Abu menganggap program ini lebih efektif daripada metode pembinaan sebelumnya karena menawarkan tantangan nyata dan hasil konkret.

Proses Perubahan yang Terukur

Selama mengikuti program Jawara Beton, Abu mengalami perubahan sikap dan pola pikir. Ia mulai menyadari bahwa penjara bukan hanya tempat hukuman, tetapi juga tempat belajar untuk menyongsong masa depan. “Saya kini merasa lebih siap untuk kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Program ini juga memperkuat rasa tanggung jawab Abu terhadap diri sendiri dan sesama warga binaan. Melalui kerja sama dalam perakitan besi, ia berinteraksi dengan rekan-rekan yang memiliki latar belakang serupa, menciptakan lingkungan belajar yang saling mendukung. “Kegiatan ini memberi saya teman dan motivasi,” kata Abu.

Rekan-Rekan yang Juga Berubah

Tidak hanya Abu, para warga binaan lainnya juga menunjukkan kemajuan signifikan. Mereka mulai terbiasa dengan pola kerja sehari-hari, meningkatkan kualitas output, dan membangun sikap profesional. Rendahnya tingkat keterlibatan dalam program sebelumnya akhirnya berubah menjadi semangat kerja yang lebih tinggi.

“Sebelumnya, banyak dari kami yang merasa kikuk. Tapi sekarang, semangat berkerja muncul karena ada target dan reward,” ujar Abu. Dengan adanya premi dan pengalaman langsung, para warga binaan mulai memahami bahwa penjara bisa menjadi batu loncatan menuju kehidupan yang lebih baik.

Kontribusi bagi Masyarakat

Jawara Beton tidak hanya bermanfaat bagi warga binaan, tetapi juga bagi masyarakat luas. Produk besi yang dihasilkan dapat digunakan dalam proyek konstruksi umum, memberi kontribusi terhadap kebutuhan infrastruktur. Abu berharap, keberhasilannya di program ini bisa menjadi contoh bagi warga binaan lainnya.

“Saya ingin warga binaan lain juga merasakan manfaat dari program ini,” harapnya. Dengan keahlian yang didapat, ia berharap bisa menjadi pemandu bagi mereka yang ingin memulai dari nol.

Rencana Setelah Bebas

Abu telah menyiapkan rencana untuk reintegrasi ke masyarakat. Ia ingin memanfaatkan tabungan dan keterampilan yang dimilikinya untuk membuka usaha kecil, seperti pengerjaan proyek konstruksi bersama warga binaan. “Saya ingin menunjukkan bahwa penjara bisa jadi tempat perubahan,” tuturnya.

Kegiatan kerja di dalam lapas juga membantu ia membangun jaringan sosial yang bisa dimanfaatkan setelah bebas. Dengan pengalaman berkerja bersama, ia memperoleh kepercayaan diri dan kemampuan mengelola proyek. “Saya ingin menunjukkan bahwa saya bukan hanya pelaku kejahatan, tetapi juga pribadi yang bisa berkontribusi,” pungkas Abu.

“Program Jawara Beton ini bagus menurut saya. Warga binaan jadi punya kegiatan di dalam lapas, sehingga tidak jenuh,” ujar Abu saat ditemui di Lapas Kelas I Tangerang, Selasa (26/5).

Dengan semangat yang terus berkembang, Abu bersama rekan-rekan lainnya