Important Visit: Hendra tak khawatir jalani cuci darah karena dijamin BPJS Kesehatan

Hendra Tak Khawatir Jalani Cuci Darah karena Dijamin BPJS Kesehatan

Important Visit – Manado – Hendra Kaligis, seorang warga dari area Motoling, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, mengungkapkan ketenangannya menjalani prosedur hemodialisis. Ia merasakan langsung manfaat yang diberikan oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). “Kehadiran JKN ini tidak hanya memudahkan akses ke layanan medis, tetapi juga menjadi pelindung bagi pasien penyakit kronis yang membutuhkan perawatan berkelanjutan,” jelas Hendra, Selasa lalu.

Menurut Hendra, gejala penyakitnya mulai terasa sejak akhir tahun 2018. Pada masa itu, kondisi tubuhnya mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ia kerap merasa mual, tubuh terasa lemah, wajah tampak pucat, sulit tidur, serta tekanan darah yang terus meningkat. Gejala tersebut mendorongnya untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. “Saya awalnya mengira itu hanya kelelahan biasa, tapi setelah diperiksa, hasilnya justru mengejutkan,” ungkapnya.

Dalam pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, dokter menemukan bahwa kadar kreatinin dalam darah Hendra mencapai angka 4, jauh di atas ambang normal yang sekitar 1,3. Temuan ini mengarah pada diagnosis gangguan serius pada fungsi ginjal. Dokter menduga penyebab utamanya terkait hipertensi, kadar asam urat, serta tingginya kolesterol dan trigliserida. Sejak saat itu, ia wajib menjalani kontrol rutin setiap bulan, sekaligus mengikuti berbagai terapi sesuai rekomendasi medis.

Apalagi dalam tiga tahun terakhir, Hendra telah menerima pengobatan intensif. Meski kondisinya sedikit membaik, kadar kreatinin yang turun dari 3,5 menjadi 3,2 masih dianggap tinggi. Dalam upaya mengatasi masalah tersebut, dokter akhirnya menyarankan tindakan hemodialisis. Proses ini memang tidak mudah, baik secara fisik maupun secara finansial. Pasien biasanya menjalani dua sesi cuci darah per minggu, artinya delapan kali dalam sebulan. Setiap sesi diperkirakan memakan biaya sekitar Rp1,3 juta, belum termasuk pengeluaran untuk obat, vitamin, serta konsultasi berkala.

“Kalau tidak ada JKN, mungkin saya sudah kesulitan melanjutkan pengobatan. Biayanya sangat besar dan tidak mungkin saya tanggung sendiri,” kata Hendra.

Hendra mengaku sangat berterima kasih atas perlindungan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan. Ia tidak perlu mengkhawatirkan beban biaya besar karena seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh program ini. Prinsip gotong royong menjadi fondasi utama JKN, di mana peserta yang sehat membantu peserta yang sedang sakit. Hal ini memastikan setiap individu memiliki akses yang sama untuk mendapatkan layanan kesehatan yang memadai.

Dalam perjalanan hidupnya, Hendra merasakan prinsip gotong royong tersebut secara nyata. Ia menjelaskan bahwa JKN tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga menjadi penunjang utama bagi masyarakat yang mengalami kondisi serius. “Kita tidak pernah tahu kapan sakit datang. Jadi lebih baik kita siap dari sekarang dengan memastikan JKN tetap aktif,” pesannya.

Peran BPJS Kesehatan dalam Membantu Pasien Kronis

BPJS Kesehatan, sebagai penyelenggara JKN, memainkan peran penting dalam memberikan akses layanan kesehatan kepada semua lapisan masyarakat. Proses pendaftaran dan pembayaran iuran cukup sederhana, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya secara langsung. Bagi Hendra, hal ini sangat berarti karena tanpa adanya JKN, ia mungkin tidak mampu menghadapi biaya pengobatan yang terus-menerus.

Proses cuci darah sendiri membutuhkan persiapan yang matang. Pasien harus menjalani pemantauan rutin sebelum masuk ke prosedur, termasuk pengecekan kadar kreatinin, tekanan darah, serta kondisi umum tubuh. Dalam satu sesi cuci darah, darah pasien dialirkan ke mesin untuk membersihkan racun atau zat berlebih yang menghambat fungsi ginjal. Proses ini berlangsung sekitar 3-4 jam dan membutuhkan kepercayaan diri serta konsistensi pasien.

Untuk Hendra, JKN memastikan ia tidak perlu mengeluarkan dana tambahan. Ia menjelaskan bahwa setiap bulan, biaya pengobatan dan perawatan berjalan lancar tanpa hambatan. “JKN memberi saya kepastian bahwa saya bisa terus menjalani perawatan, bahkan meski butuh waktu lama,” tambahnya.

Di sisi lain, Hendra menekankan pentingnya keaktifan peserta JKN. Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan pembayaran iuran secara berkala. “Kita tidak bisa memprediksi kapan sakit akan datang. Jadi, lebih baik kita sudah bersiap sejak dini,” terang Hendra.

Bagi pasien seperti Hendra, JKN menjadi jembatan antara kesulitan ekonomi dan kesehatan. Kehadiran program ini tidak hanya meringankan beban keuangan, tetapi juga memberikan kepercayaan bahwa perawatan medis akan terus tersedia ketika dibutuhkan. Dengan adanya BPJS Kesehatan, pemerintah dan masyarakat bersama-sama berkomitmen untuk menjaga kesehatan warga, termasuk mereka yang mengalami kondisi kronis.

Hendra juga berharap masyarakat lebih memahami manfaat JKN. Ia menegaskan bahwa peserta aktif tidak hanya mendapatkan perlindungan sendiri, tetapi juga membantu sesama. “JKN adalah sistem yang saling menguntungkan. Kita semua bisa menjadi bagian dari solusi,” pungkas Hendra. Dengan semangat gotong royong, ia yakin banyak orang lain akan merasakan manfaat yang sama, terutama dalam situasi darurat kesehatan.