Facing Challenges: Ulama ajak masyarakat jaga persatuan di momentum 1 Muharram

1000012286

Ulama Ajak Masyarakat Jaga Persatuan di Momentum 1 Muharram

Facing Challenges – Di Jakarta, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatussalam di Bekasi, KH Hambali, menghimbau masyarakat untuk menjadikan hari raya Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriah, sebagai kesempatan hijrah kebangsaan. Ia menekankan bahwa momen ini bukan sekadar untuk merayakan pergantian era, tetapi juga sebagai ajang memperkuat persatuan, menjaga kerukunan, serta menumbuhkan harapan positif terhadap masa depan Indonesia. “Momentum 1 Muharram bukan hanya mengingatkan kita untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga mengajak seluruh anak bangsa untuk berhijrah menuju Indonesia yang semakin kuat, bersatu, dan maju,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (15 Juni).

Kegiatan Doa Bersama dan Pawai Obor

Sebagai bagian dari upaya menciptakan kesadaran kolektif, KH Hambali menyampaikan pesan persatuan dan kesatuan umat dalam kegiatan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan pawai 1.000 obor yang digelar di Desa Sukajadi, Bekasi, Senin (15/6) malam. Acara tersebut dirangkaikan dengan pawai obor yang melibatkan ribuan peserta, menggambarkan semangat perubahan dan optimisme menghadapi tantangan baru. Menurut KH Hambali, perayaan ini juga menjadi sarana untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya kolaborasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis.

“Momentum 1 Muharram menuntut kita untuk tidak hanya fokus pada pencapaian pribadi, tetapi juga memperhatikan kepentingan nasional,” tambah KH Hambali. “Di tengah arus informasi yang cepat dan dinamika sosial yang berubah, kita harus lebih waspada dalam menyikapi berbagai isu yang muncul. Hal ini akan menciptakan kekuatan kolektif untuk menghadapi tantangan bersama.”

Kegiatan yang dihadiri ribuan warga tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran bahwa perayaan Tahun Baru Islam bukan sekadar tradisi, tetapi juga alat untuk merenungkan kehidupan bermasyarakat. Pesantren Hidayatussalam, yang berada di Desa Sukajadi, menjadi pusat kegiatan ini, dengan tampilan atraktif dan partisipasi aktif dari berbagai kalangan. Dalam pawai obor, peserta membawa lampu sebagai simbol cahaya kebenaran dan keharmonisan, yang dianggap sebagai tanda keberhasilan hijrah kebangsaan. Acara ini juga menyisipkan momen spiritual melalui doa bersama, yang menjadi sarana untuk merenungkan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

Menurut KH Hambali, dalam era digital saat ini, masyarakat lebih rentan terpengaruh oleh berita-berita yang bisa memicu perpecahan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bijak dalam menyebarluaskan informasi. “Kita harus menjadi penjaga keutuhan bangsa, terutama di tengah kemajuan teknologi yang memudahkan komunikasi,” katanya. Ia menekankan bahwa media sosial bisa menjadi alat untuk memperkuat persatuan, asalkan digunakan dengan hati-hati dan bertanggung jawab.

Dalam konteks ini, 1 Muharram dianggap sebagai momen penting untuk merefleksikan keberhasilan kehidupan bermasyarakat. Pada bulan Muharram, umat Islam dianjurkan untuk beribadah secara lebih intensif, yang juga menjadi peluang untuk mengevaluasi perjalanan sebelumnya dan merencanakan langkah baru. KH Hambali menegaskan bahwa hijrah yang dimaksud tidak hanya berarti perubahan pribadi, tetapi juga perubahan kelembagaan dan kebijakan yang mendorong kesejahteraan bersama. Ia berharap, lewat perayaan ini, masyarakat mampu menumbuhkan semangat gotong royong dan kebersamaan.

Menyambut Tahun Baru Islam, warga Desa Sukajadi mencatatkan partisipasi besar dalam kegiatan pawai obor. Tepat di malam hari, mereka berkumpul untuk membawa obor yang dinyalakan secara bersamaan, menciptakan suasana haru dan semangat kebersamaan. Acara ini juga dimeriahkan oleh pertunjukan seni dan bacaan Al-Qur’an, yang menegaskan nilai-nilai keagamaan dalam memperkuat keutuhan sosial. KH Hambali menuturkan bahwa perayaan ini adalah bentuk ekspresi rasa syukur atas keberkahan yang telah diberikan, serta doa untuk kesejahteraan Indonesia di masa depan.

Dalam wawancara lebih lanjut, KH Hambali menjelaskan bahwa tantangan kebangsaan terus meningkat, terutama di tengah dinamika politik dan ekonomi yang kompleks. Ia menekankan bahwa perayaan 1 Muharram bisa menjadi titik awal untuk menyatukan perbedaan. “Kita harus mengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan hijrah kebangsaan adalah upaya untuk menjadikan keberagaman menjadi kekuatan,” katanya. Ia berharap, lewat momentum ini, masyarakat mampu melupakan prasangka dan fokus pada visi bersama untuk kemajuan Indonesia.

Selain doa bersama dan pawai obor, acara juga diisi oleh pemutaran film pendek yang menampilkan kisah perjuangan para ulama dalam membangun kesadaran kebangsaan. Video tersebut menyoroti pentingnya peran keagamaan dalam memperkuat persatuan. KH Hambali menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen pesantren untuk berkontribusi pada pembangunan nasional, terlepas dari peran sosial atau politik yang diperlukan.

Kehadiran ribuan peserta dalam kegiatan ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap upaya menjaga persatuan. Pawai obor yang berjalan sepanjang jalan desa tersebut juga menegaskan bahwa kebersamaan bisa terwujud melalui kerja keras dan kerja samaterhadap kepentingan umum. KH Hambali menutup wawancaranya dengan mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas dalam perayaan keagamaan.

Momem 1 Muharram, sebagai awal tahun baru Islam, dirayakan dengan berbagai cara yang beragam, tetapi intinya adalah semangat hijrah. Dalam konteks kebangsaan, hijrah tersebut diartikan sebagai perubahan perilaku, sikap, dan kebijakan yang mendukung persatuan. KH Hambali menegaskan bahwa tantangan terbesar kebangsaan adalah perpecahan akibat informasi yang tidak jelas, sehingga masyarakat perlu lebih selektif dalam menyikapi isu yang beredar.

Dengan melalui kegiatan doa bersama dan pawai obor, KH Hambali berharap masyarakat bisa merenungkan nilai-nilai keagamaan yang menjadi fondasi keutuhan bangsa. Ia menilai, keberagaman budaya dan agama di Indonesia adalah anugerah, yang perlu dijaga agar tidak terkorbankan oleh perbedaan. “Mari kita bangun kesadaran bahwa hijrah adalah proses terus-menerus, bukan sekadar acara tahunan,” pungkasnya.