Facing Challenges: Tim SAR evakuasi jasad empat ABK korban gas beracun di perairan Kalsel

Tim SAR Berhasil Mengevakuasi Empat ABK Korban Gas Beracun di Perairan Kalsel

Facing Challenges – Banjarmasin menjadi lokasi utama operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang mengevakuasi empat anak buah kapal (ABK) dari kapal TB Samudra Jaya 1. Keempat korban meninggal diduga akibat terpapar gas beracun di ruang terbatas kapal, tepatnya di perairan Sungai Tunjang, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kejadian tersebut dilaporkan oleh anggota Ditpolair Polda Kalsel, Bripka Priyo, pada Rabu (6/5) sekitar pukul 17.20 Wita. Informasi ini menjadi dasar bagi tim SAR gabungan untuk segera melakukan tindakan darurat.

Koordinasi Tim SAR di Lokasi Kejadian

Kepala Operasi Kantor SAR Banjarmasin, I Putu Sudayana, menjelaskan bahwa setelah menerima laporan, pihaknya memulai pengorganisasian operasi. Tim yang dikirim melibatkan beberapa instansi, seperti Ditpolair Polda Kalsel, Polair Polres Barito Kuala, Polsek Cerbon, TNI AL Banjarmasin, Karantina, serta KSOP Sungai Putting. Mereka bergerak menuju lokasi kejadian untuk mengevakuasi para korban yang berada dalam ruang sempit yang disinyalir mengandung gas berbahaya.

“Dalam upaya menangani situasi tersebut, Kantor SAR Banjarmasin mengirimkan tim gabungan yang terdiri dari Ditpolair Polda Kalimantan Selatan, Polair Polres Barito Kuala, Polsek Cerbon, TNI AL Banjarmasin, Karantina, dan KSOP Sungai Putting menuju lokasi kejadian untuk melakukan evakuasi,” ujar Putu.

Kantor SAR Banjarmasin menegaskan bahwa tim tiba di lokasi sekitar pukul 19.10 Wita. Saat itu, mereka langsung mempersiapkan strategi evakuasi yang aman. Ruang tempat korban terjebak disebutkan berpotensi berisiko karena kandungan gas beracun yang memicu bahaya bagi personel penyelamat. Seluruh anggota tim harus mengenakan alat pelindung yang tepat untuk menghindari paparan gas selama proses evakuasi berlangsung.

Detail Proses Evakuasi dan Korban

Operasi dimulai pada pukul 19.30 Wita dengan menggunakan peralatan khusus seperti Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) dan gas detector. Peralatan ini penting untuk menjamin keselamatan para penyelamat di lingkungan berpotensi beracun. Proses evakuasi memakan waktu sekitar dua jam, dengan empat korban ditemukan dan diangkat secara bertahap.

“Proses evakuasi dimulai pada pukul 19.30 Wita menggunakan peralatan keselamatan khusus berupa Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) dan gas detector ntuk melindungi personel dari paparan gas beracun selama operasi berlangsung,” katanya.

Di antara keempat korban, S (27 tahun) berhasil ditemukan pada pukul 20.49 Wita, lalu ZMH (34 tahun) di pukul 21.51 Wita. Dua jam setelahnya, HHA (28 tahun) dievakuasi pada Kamis, pukul 00.20 Wita. Sedangkan korban terakhir, TRZ (38 tahun), ditemukan dalam kondisi meninggal di lokasi kejadian. Dengan demikian, seluruh korban berhasil diangkat dalam waktu kurang dari 12 jam setelah insiden terjadi.

Tantangan dan Langkah Keselamatan dalam Operasi

I Putu Sudayana menyatakan bahwa operasi SAR menghadapi tantangan serius, terutama karena kondisi ruang yang sempit dan tingginya risiko paparan gas beracun. Meski demikian, seluruh personel tetap bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan untuk meminimalisasi kerugian tambahan. Tim terus memantau situasi hingga kondisi menjadi stabil.

Menurut Putu, kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Ia menekankan bahwa setiap aktivitas di ruang terbatas harus dilengkapi dengan protokol yang ketat. Contohnya, penggunaan alat pendeteksi gas dan perlindungan pernapasan menjadi wajib agar risiko paparan beracun bisa dihindari.

“Setiap aktivitas di ruang terbatas wajib dilengkapi prosedur keselamatan ketat, termasuk penggunaan alat pendeteksi gas dan perlindungan pernapasan guna mencegah kejadian serupa yang dapat menimbulkan korban jiwa,” kata Putu.

Operasi SAR terhadap keempat ABK tersebut berakhir pada Rabu (6/5) sekitar pukul 00.40 Wita, setelah semua jasad korban berhasil dikeluarkan dari kapal. Seluruh anggota tim SAR kembali ke kesatuan masing-masing setelah tugas selesai. Proses evakuasi menunjukkan koordinasi yang baik antarinstansi dan kesiapan personel dalam menghadapi situasi darurat.

Kasus keempat ABK yang meninggal ini menjadi peringatan bagi industri pelayaran. Dalam ruang terbatas, seperti tangki bahan bakar atau area kapal yang tidak terlalu ventilasi, potensi bahaya gas beracun sangat tinggi. Sementara itu, korban meninggal meninggalkan dampak psikologis dan emosional bagi keluarga, serta mendorong pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan di sektor perkapalan.

Kantor SAR Banjarmasin juga menekankan pentingnya pendidikan keselamatan kerja bagi para ABK. Mereka diwajibkan memahami risiko yang ada saat melakukan tugas di kapal. Selain itu, penegakan aturan wajib untuk diterapkan setiap kali ada aktivitas di ruang tertutup, seperti penggunaan alat pelindung diri dan pengukuran kualitas udara sebelum masuk. Dengan langkah-langkah tersebut, harapan besar untuk mencegah insiden serupa terjadi di masa mendatang.

Sebagai catatan tambahan, kapal TB Samudra Jaya 1 beroperasi di perairan Kalsel yang cukup dinamis. Ruang terbatas di kapal bisa menjadi sumber insiden kecelakaan jika tidak diawasi secara ketat. Sebagai akibat dari kejadian ini, para ABK dan perusahaan pelayaran diminta untuk mengadakan evaluasi terhadap sistem keselamatan yang diterapkan. Upaya ini bertujuan untuk memperkuat sistem pengamanan dan mengurangi risiko kematian akibat paparan gas beracun di lingkungan kerja maritim.

Insiden ini juga memicu diskusi tentang keberlanjutan keamanan di sektor perkapalan. Pihak yang terlibat, termasuk pemerintah, perusahaan, dan lembaga keselamatan, harus bekerja sama untuk menyempurnakan protokol dan mengurangi efek samping dari aktivitas kapal yang dilakukan di ruang terbatas. Dengan penerapan yang lebih ketat, diyakini kejadian serupa bisa dihindari di masa mendatang.