Dokter Tifa jalani rawat inap akibat GERD kambuh dan stres tinggi

InShot_20260620_001945959

Dokter Tifa Jalani Rawat Inap Akibat GERD Kambuh dan Stres Tinggi

Dokter Tifa jalani rawat inap akibat – Jakarta, Jumat malam – Tersangka dalam kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terkait keaslian ijazah Presiden ketiga Republik Indonesia, Tifauzia Tyassuma atau lebih dikenal sebagai Dokter Tifa, memasuki ruang rawat inap di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Pemicu kondisi ini, menurut pengacara Tifa, Refly Harun, adalah kambuhnya penyakit gastroesophageal reflux disease (GERD) yang dideritanya sejak lama. “GERD adalah salah satu dari berbagai penyakit yang dialami Dokter Tifa. Kondisi ini memburuk karena dia tidak makan sejak pagi hari dan terus-menerus menghadapi tekanan psikologis tinggi,” jelas Refly dalam pernyataannya.

Penyebab Kondisi Dokter Tifa

Menurut Refly, kondisi kesehatan Tifa semakin memburuk setelah menghadapi serangkaian aktivitas yang memakan banyak energi. Kombinasi kelelahan fisik dan tekanan mental membuatnya harus menggunakan kursi roda setelah pemeriksaan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Polri. “Kebutuhan untuk menjalani persiapan seminar hasil disertasinya juga berkontribusi pada kondisi yang tidak nyaman ini,” tambahnya.

Dokter Tifa sebelumnya telah menjalani proses pemeriksaan kesehatan secara teratur. Namun, dalam waktu singkat, kondisinya memburuk sehingga tim medis memutuskan untuk memberinya perawatan inap. Refly menjelaskan bahwa penyakit GERD yang dialami tersangka ini bersifat kronis dan membutuhkan pemantauan intensif. “GERD sering kali memicu rasa sakit dada, kelelahan, dan rasa tidak nyaman yang berkepanjangan,” ucapnya.

Proses Seminar dan Tekanan Psikologis

Persiapan seminar hasil disertasinya tidak hanya melibatkan pekerjaan fisik, tetapi juga tekanan psikologis yang besar. Refly menyatakan bahwa rangkaian kegiatan tersebut memperparah kondisi Dokter Tifa, terutama di tengah persiapan untuk menghadapi pemeriksaan di lingkungan kepolisian. “Dokter Tifa harus segera menjalani pemeriksaan akibat kasus yang menimpanya, meskipun ia telah berusaha mengatur waktu secara maksimal,” katanya.

Kondisi yang terjadi di RS Polri Kramat Jati menjadi fokus utama tim medis. Selama rawat inap, Dokter Tifa diberikan pengobatan untuk mengendalikan gejala GERD yang kambuh. Refly juga menyebutkan bahwa tekanan emosional dari proses penyelidikan ini berdampak signifikan pada kesehatannya. “Dokter Tifa tidak hanya menghadapi kesulitan fisik, tetapi juga krisis mental akibat beban yang terus meningkat,” terang Refly.

Kondisi Roy Suryo dan Penyakit Umum

Di sisi lain, Refly tidak merinci penyakit yang dialami tersangka lain dalam kasus yang sama, yaitu Roy Suryo. Menurut pengacara tersebut, penyakit Roy cukup umum dan tergolong tidak spesifik. “Banyak orang di Indonesia mengalami kondisi serupa, sekitar 30 persen dari populasi masyarakat,” kata Refly. Ia menambahkan bahwa kondisi Roy tidak selalu terkait langsung dengan kasus fitnah yang dibawa ke pengadilan.

Roy Suryo dan Dokter Tifa saat ini masih menjalani perawatan di RS Polri Kramat Jati. Mereka diterima oleh pihak rumah sakit pada Jumat malam, sekitar pukul 17.55 WIB. Pemeriksaan kesehatan mereka dilakukan dengan pengawalan dari Polda Metro Jaya, yang menunjukkan bahwa kondisi mereka dianggap memerlukan pengawasan ketat.

Detik-detik Penangkapan dan Pengawalan

Dokter Tifa ditangkap oleh aparat kepolisian pada Jumat sekitar pukul 06.47 WIB di apartemennya. Sementara itu, Roy Suryo ditangkap oleh penyidik Polda Metro Jaya pada Jumat pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Keduanya kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati dalam kondisi yang terlihat cukup memburuk.

Saat turun dari kendaraan tahanan, Roy Suryo mengepalkan tangan sambil mengucapkan, “Siap.” Tindakan ini menunjukkan sikap percaya dirinya meski dalam kondisi yang tidak nyaman. Tak lama kemudian, Dokter Tifa turun dari mobil tahanan dengan mengenakan rompi berwarna oranye. “Kondisi kesehatan keduanya terlihat cukup memburuk, tetapi mereka tetap berusaha mempertahankan semangat dalam menghadapi penyelidikan,” tutur Refly.

Pengaruh Fitnah terhadap Kesehatan Akademisi

Menurut Refly, kasus fitnah dan pencemaran nama baik yang menimpa Dokter Tifa serta Roy Suryo memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan mental keduanya. “Kasus ini bukan hanya mengganggu pekerjaan, tetapi juga kehidupan pribadi mereka,” ujarnya. Selain itu, Refly juga menyebutkan bahwa kesibukan dalam menghadapi proses penyelidikan membuat keduanya tidak sempat merawat diri secara optimal.

Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi dan Aktivis sebelumnya mengungkapkan bahwa Roy Suryo ditangkap pada Jumat pagi. Dalam pernyataannya, tim tersebut menjelaskan bahwa Roy telah diproses secara resmi oleh penyidik Polda Metro Jaya. Sementara itu, Tim Pembela Dokter Tifa memastikan bahwa Tifauzia Tyassuma ditangkap di apartemennya pada Jumat sekitar pukul 06.47 WIB.

Pengembangan Kasus dan Kondisi Saat Ini

Kondisi kesehatan Dokter Tifa dan Roy Suryo masih dalam pemantauan intensif di RS Polri Kramat Jati. Selama rawat inap, tim medis terus memantau perkembangan penyakit mereka, terutama GERD yang dialami Tifa. “Kami berharap kondisi mereka akan membaik seiring berjalannya waktu,” kata Refly.

Kasus ini terus berkembang, dengan keduanya dinyatakan dalam kondisi kritis namun tetap memperjuangkan hak mereka. Selain itu, Refly juga menyatakan bahwa kelelahan akibat persiapan seminar dan aktivitas penyelidikan memperparah kondisi kesehatan Tifa. “Dokter Tifa sempat menggunakan kursi roda setelah pemeriksaan di IGD, menunjukkan bahwa tekanan yang dialaminya cukup berat,” ujarnya.

Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di RS Polri Kramat Jati pada Jumat malam membawa keduanya ke kondisi yang membutuhkan perawatan intensif. Roy Suryo tiba di rumah sakit mengenakan pakaian yang cukup sederhana, sementara Dokter Tifa terlihat lebih terpukul oleh kondisi fisik dan mentalnya saat ini. “Kami berharap semua proses kesehatan ini dapat segera selesai dan keduanya kembali dalam kondisi prima,” tutup Refly.