Key Strategy: Andalan Artha Primanusa pacu jasa kontraktor batu bara dan nikel
Andalan Artha Primanusa pacu jasa kontraktor batu bara dan nikel
Ekspansi Usaha dan Konsistensi Eksekusi
Key Strategy –
Jakarta – PT Andalan Artha Primanusa terus mendorong pertumbuhan usaha dalam bidang kontraktor pertambangan, baik untuk batu bara maupun nikel, mengingat potensi industri pertambangan nasional yang tetap kuat di masa depan. Menurut Gahari Christine, Direktur Utama perusahaan tersebut, kunci keberhasilan dalam sektor pertambangan tidak hanya terletak pada sumber daya alam, tetapi juga pada keandalan dalam menjalankan proyek di lapangan. “Kontraktor memiliki peran kritis dalam menjaga produktivitas dan efisiensi operasional, terutama saat industri menghadapi tantangan berubahnya kebutuhan pasar,” jelasnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Kemitraan Strategis dan Penyediaan Solusi End-to-End
Gahari menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan melalui penguatan hubungan kerja sama strategis. Fokus utama dilakukan pada pemberian solusi yang komprehensif, mulai dari tahap eksplorasi hingga pengelolaan wilayah pertambangan setelah produksi selesai. “Kemitraan ini memastikan dukungan yang terukur untuk memenuhi permintaan industri secara berkelanjutan,” katanya.
Operasional PT Andalan Artha Primanusa saat ini meliputi wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, serta Halmahera Timur. Perusahaan menggandeng beberapa mitra utama, termasuk Grup Harum Energy, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan Grup Petrindo, untuk memperkuat kapasitas eksekusi. “Kerja sama dengan PT Satria Bahana Sarana di wilayah operasi PTBA menjadi contoh nyata dari pengembangan strategis yang dilakukan,” tambah Gahari.
Penambangan Batu Bara dan Kontrak Baru di 2026
Memasuki tahun 2026, Gahari menyebutkan bahwa perusahaan akan fokus pada pengembangan lebih lanjut, dengan menargetkan penambahan kontrak baru di sektor batu bara. Beberapa mitra yang akan terlibat antara lain PT Daya Bumindo Karunia, PT Intan Bumi Persada, dan PT Arkara Prathama Energi. “Ini adalah langkah strategis untuk mengamankan pangsa pasar di tengah dinamika industri yang terus berubah,” ujarnya.
Sejak awal tahun 2026, PT Andalan Artha Primanusa telah berhasil mengembangkan bisnis di bidang nikel. Pencapaian ini terbukti melalui perjanjian kontrak pengembangan dan operasi penambangan bersama PT Position di Maluku Utara. “Diversifikasi ini membuka peluang baru untuk berkontribusi pada kebutuhan hilirisasi energi di Indonesia,” jelas Gahari.
Tren Industri dan Dukungan dari RUPTL
Menurut Gahari, stabilitas prospek industri pertambangan terus dijaga seiring transisi komoditas dan peningkatan hilirisasi energi. Hal ini membuat konsumsi batu bara dan nikel tetap meningkat, menjadi penopang utama kebutuhan pembangkit listrik. “RUPTL 2025-2034 menunjukkan bahwa permintaan listrik nasional diperkirakan tumbuh sekitar 5,3 persen per tahun,” tambahnya.
Data dari dokumen RUPTL tersebut juga memperkuat proyeksi pertumbuhan industri nikel. Saat ini, Indonesia telah menguasai 67 persen pangsa pasar global, dan diharapkan mampu meningkatkan kekuasaan tersebut menjadi 74 persen pada 2035. “Kenaikan pangsa pasar ini mencerminkan kepercayaan investor dan konsumen terhadap kemampuan Indonesia dalam mengelola sumber daya nikel secara efektif,” ujarnya.
Stabilitas Produksi Energi Konvensional
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan energi konvensional juga tetap stabil meski ada percepatan program hilirisasi nasional. Tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) sekitar delapan persen menjadikan produksi nikel global diperkirakan mencapai 5,0 juta metrik ton pada 2035. “Kestabilan ini menjadi dasar bagi perseroan untuk terus berkontribusi pada industri pertambangan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang,” tutur Gahari.
Kontribusi Kontraktor dalam Transisi Energi
Menurut Gahari, perusahaan siap memanfaatkan peluang besar di sektor pertambangan untuk menjawab kebutuhan energi nasional. “Peran kontraktor seperti Andalan Artha Primanusa menjadi semakin strategis, terutama dalam menunjang transisi energi Indonesia ke arah yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Dengan menggabungkan keahlian dalam pengelolaan pertambangan dan keberlanjutan eksekusi, perusahaan berharap dapat memperkuat posisi sebagai mitra utama industri. “Kami percaya bahwa keberhasilan ini akan memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur energi di Indonesia,” tambahnya.
Peluang dan Tantangan di Masa Depan
Dalam pernyataannya, Gahari menekankan pentingnya adaptasi terhadap dinamika pasar. “Perusahaan akan terus berinovasi dan memperluas jaringan kerja sama untuk menjawab tantangan kompetitif dan kebutuhan industri yang semakin kompleks,” katanya.
Memasuki era transisi energi, peran kontraktor pertambangan diharapkan tidak hanya terbatas pada penyediaan bahan baku, tetapi juga pada pendukung pengembangan teknologi dan infrastruktur. “Andalan Artha Primanusa siap menjadi mitra yang andal dalam semua aspek tersebut,” tutur Gahari.
Dengan fondasi yang kuat dan rencana strategis yang matang, perusahaan yakin dapat terus berkontribusi pada industri pertambangan nasional. “Kami optimis bahwa keberlanjutan eksekusi dan kolaborasi strategis akan membawa dampak positif yang berkelanjutan,” pungkasnya.
