Main Agenda: IHSG menguat ikuti bursa global dipicu sinyal perdamaian AS-Iran

ihsg-ditutup-melemah-ke-posisi-5.941-2798952

Main Agenda: IHSG Menguat Ikuti Bursa Global Dipicu Sinyal Perdamaian AS-Iran

Main Agenda – Jakarta, Jumat (11/6) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini mencatat kenaikan, didorong oleh optimismenya pasar global terhadap kemungkinan tercapainya perjanjian perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. IHSG dibuka dengan kenaikan 74,38 poin atau 1,26 persen, mencapai level 5.960,27. Sementara itu, Indeks LQ45 yang terdiri dari 45 saham unggulan juga bergerak naik, 9,97 poin atau 1,70 persen, ke 596,81.

Kesepakatan Damai Menjadi Pendorong Utama

Konflik antara AS dan Iran belakangan ini memberikan dampak signifikan pada pasar keuangan global. Main Agenda menyoroti bahwa sinyal perdamaian dari kedua belah pihak memicu harapan investasi yang lebih besar. Presiden AS Donald Trump mengatakan pembahasan perjanjian telah mencapai kesepakatan, dengan penandatanganan diperkirakan terjadi dalam waktu dekat. Kedua pihak juga sepakat membuka kembali Selat Hormuz setelah konflik berlangsung, yang menjadi fokus utama bagi ketidakstabilan pasokan energi.

“Main Agenda menunjukkan bahwa investor global memandang potensi kestabilan geopolitik sebagai penopang utama, meski situasi masih dinamis,” ujar Liza Camelia Suryanata, kepala peneliti Kiwoom Sekuritas, dalam laporannya di Jakarta.

Kondisi Ekonomi Global yang Berdampak

Di samping sinyal perdamaian AS-Iran, Main Agenda juga mencerminkan pergeseran dinamika pasar global lainnya. European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 2,25 persen, mengiringi revisi proyeksi inflasi Eurozone. Proyeksi inflasi Eurozone diramalkan mencapai 3,0 persen pada 2026, 2,3 persen pada 2027, dan 2,0 persen pada 2028. Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi dipangkas ke 0,8 persen, mencerminkan ketidakpastian ekonomi yang terus berlanjut.

Secara bersamaan, pasar keuangan global memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed setidaknya satu kali sebelum akhir tahun. Pemantauan utama terpusat pada rapat Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed pada 17 Juni 2026. “Main Agenda menunjukkan bahwa perjanjian damai tetap menjadi faktor penopang, tetapi kenaikan bunga di AS dan Eropa bisa mengalihkan fokus investor,” tambah Liza.

Ketegangan Pascapembahasan Perdamaian

Konflik antara AS dan Iran belum sepenuhnya berakhir, meski ada kemajuan dalam pembahasan perdamaian. Main Agenda menyebutkan bahwa ketegangan masih terjadi, yang memicu perhatian pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi global, terutama dari Selat Hormuz. Minyak Brent turun 4,5 persen ke level 88,91 dolar AS per barel, sementara harga minyak WTI mengalami penurunan 4,2 persen menjadi 86,26 dolar AS per barel.

Perkembangan Bursa Global Hari Ini

Pada hari Kamis (11/6), bursa saham Eropa menguat secara keseluruhan. Euro Stoxx 50 naik 0,93 persen, FTSE 100 Inggris meningkat 0,48 persen, dan Indeks DAX Jerman serta CAC 40 Prancis juga mencatat kenaikan. Di AS, Wall Street memperlihatkan penguatan yang signifikan, dengan Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1,86 persen, S&P 500 menguat 1,75 persen, serta Nasdaq Composite naik 3,29 persen.

Bursa Asia pada hari yang sama juga mengalami kenaikan. Indeks Nikkei Jepang menguat 3,76 persen ke 66.629,00, indeks Shanghai naik 1,10 persen ke 4.030,98, dan Hang Seng Hong Kong mencatat kenaikan 1,05 persen. Main Agenda menyoroti bahwa kestabilan geopolitik dan kebijakan moneter yang konsisten menjadi faktor kunci bagi kenaikan pasar.

Kondisi Pasar Domestik dan Arus Dana Asing

Dari segi pasar dalam negeri, Main Agenda menunjukkan bahwa investor asing masih menarik dana secara bersih. Pada hari Jumat, arus dana asing mencapai Rp61 miliar, mengakumulasi net sell selama tahun 2026 hingga Rp78,5 triliun. “Main Agenda menyebutkan bahwa ketidakpastian ekonomi domestik dan global masih menghambat kepercayaan investor terhadap aset Indonesia,” jelas Liza.

Ketidakstabilan sosial dan politik di Indonesia, seperti rencana aksi demonstrasi mahasiswa, juga menjadi sorotan. Main Agenda menekankan bahwa arus dana asing akan tetap selektif hingga faktor-faktor tersebut teratasi. “Perubahan ini menunjukkan bahwa investor global masih menunggu titik stabilisasi, terutama terkait pelemahan rupiah dan risiko persepsi yang masih terasa,” tambahnya.