New Policy: DBL Camp 2026 lakukan pendekatan sport science
DBL Camp 2026 Terapkan Pendekatan Ilmu Olahraga untuk Meningkatkan Kualitas Student-Athlete
New Policy – Jakarta, Selasa – Pemusatan latihan bagi para atlet basket terbaik di Indonesia, Kopi Good Day DBL Camp 2026, berlangsung secara resmi di area DBL Academy East Jakarta, Genova Asya Commercial Area, Jakarta Timur. Venue baru ini dilengkapi berbagai fasilitas yang mencapai standar internasional, menjadi tempat latihan yang menawarkan lingkungan optimal bagi para peserta. DBL Camp yang telah memasuki penyelenggaraan ke-17 ini, menampung lebih dari 250 siswa-atlet yang dipilih melalui kompetisi Honda DBL with Kopi Good Day 2025-2026, yang digelar di 31 kota serta 22 provinsi di seluruh Indonesia.
Pelatihan pada DBL Camp 2026 kini berbasis pendekatan sport science, yang akan membuka kesempatan bagi para peserta terbaik untuk melanjutkan pembelajaran dan pertandingan di luar negeri. Ini adalah langkah penting dalam memperkuat metode pelatihan, mengingat keberhasilan seorang atlet tidak hanya bergantung pada keahlian teknik tetapi juga pada evaluasi fisik yang lebih mendalam. Dalam keterangan resminya, Azrul Ananda, pendiri DBL Indonesia, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini memiliki ciri khas khusus, yaitu mengintegrasikan riset sport science ke dalam seluruh rangkaian kegiatan.
“DBL Camp tahun ini istimewa karena peserta akan menjalani serangkaian latihan di tiga lapangan yang seluruhnya memiliki standar FIBA level 1. Lebih dari itu, pelaksanaan tahun ini menjadi momen untuk melakukan riset sport science,” kata Azrul.
Riset sport science ini diwujudkan melalui peralatan pengukuran terbaru dari Vald Performance, yang menyediakan sistem analisis kinerja fisik secara lebih rinci. Alat-alat ini mencakup Nordbord, Force Frame, dan Force Decks. Nordbord digunakan untuk mengevaluasi kekuatan otot hamstring di kedua kaki, serta mengidentifikasi bagian tubuh yang lebih kuat atau rentan cedera. Force Frame, di sisi lain, mengukur kekuatan isometrik kaki, sekaligus membandingkan ketahanan otot antara bagian kiri dan kanan tubuh. Force Decks, sebagai peralatan tambahan, mampu menilai tinggi lompatan, tenaga saat mendarat, serta durasi masa layang (air time) dalam gerakan melompat. Penggunaan alat-alat ini memperkaya metode pengukuran yang sebelumnya hanya fokus pada tinggi lompatan dan kecepatan.
Dalam DBL Camp 2026, metode pengukuran juga diperbarui dengan penggunaan Yo-Yo Test menggantikan Beep Test yang diadopsi sebelumnya. Keputusan ini didasari oleh keyakinan bahwa Yo-Yo Test lebih relevan dalam konteks olahraga bola basket. Tes ini mengusung pola kerja yang mirip dengan dinamika permainan, di mana atlet tidak selalu berlari tanpa henti, tetapi memiliki momen recovery seperti saat transisi antara serangan dan pertahanan. Keegan Crawford, salah satu pelatih yang ikut mengawasi DBL Camp 2026, menyetujui penggunaan metode ini.
“Dari sisi fasilitas dan metode pelatihan, DBL Indonesia terus mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia internasional. Hal ini sangat baik bagi para peserta yang berasal dari berbagai daerah,” ujarnya.
Keegan, seorang pelatih yang juga merupakan asisten pelatih tim nasional Australia untuk FIBA Asia Cup Qualifiers 2025, dikenal sebagai ahli dalam pengembangan ketangkasan individu. Ia bergabung dengan DBL Camp 2026 sebagai bagian dari tim pelatih dari World Basketball Academy (WBA) Australia yang diundang khusus untuk membimbing student-athlete Indonesia. Adanya pelatih-pelatih berkaliber internasional ini memperkuat komitmen DBL dalam menghasilkan atlet berkualitas tinggi.
Selain itu, Badan Tim Nasional (BTN) Indonesia aktif mengawasi proses latihan peserta DBL Camp. Tujuan utamanya adalah menemukan bakat terbaik dari seluruh Indonesia, yang nantinya bisa menjadi bagian dari tim nasional. Ronny Gunawan, manajer Timnas Basket Indonesia sekaligus legenda basket tanah air, hadir secara langsung dalam acara pembukaan DBL Camp. Kehadirannya menunjukkan dukungan BTN terhadap upaya pengembangan bakat nasional.
DBL Camp 2026 menampung total 135 pemain putra, 135 pemain putri, dan 54 pelatih. Semua peserta ini merupakan student-athlete serta pelatih yang terpilih dari jalur First Team dan Second Team di setiap kota. Untuk memperluas peluang, DBL Indonesia juga menambahkan seleksi melalui jalur Road to DBL Camp 2026 dan program DBL Play Road to DBL Camp 2026. Kedua jalur ini bertujuan mencari bakat yang tidak terlewatkan dari daerah-daerah yang belum memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam kompetisi utama.
Kegiatan DBL Camp 2026 dianggap sebagai salah satu fase penting dalam perjalanan kompetisi liga DBL. Program ini menjadi ajang seleksi untuk membentuk tim elite, yaitu Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026. Para peserta yang berhasil lolos akan mendapatkan pengalaman belajar dan bermain di luar negeri, yang bertujuan menanamkan mindset profesional dan teknik bermain modern. Inisiatif ini sejalan dengan visi DBL untuk membangun ekosistem basket yang lebih kompetitif di Indonesia.
Penerapan pendekatan sport science di DBL Camp 2026 tidak hanya memperbaiki metode pelatihan tetapi juga membuka wawasan baru bagi para peserta. Dengan alat-alat pengukur canggih, para student-athlete bisa mendapatkan data lebih lengkap mengenai kondisi fisik mereka, termasuk potensi cedera dan efektivitas gerakan dalam bermain. Hal ini sejalan dengan konsep sebuah laboratorium olahraga yang mampu memberikan analisis terukur dan terstruktur.
Azrul Ananda menegaskan bahwa data yang dikumpulkan selama DBL Camp akan menjadi dasar untuk merancang program latihan yang lebih tepat. “Hasil pengukuran ini akan memandu pemilihan metode pelatihan, serta memudahkan kita dalam memprediksi risiko cedera dan meningkatkan performa secara keseluruhan,” jelasnya. Dengan sistem ini, pemain tidak hanya dilihat dari kemampuan teknik tetapi juga dari aspek fisiologis yang lebih mendalam, seperti daya tahan kardiovaskular, kekuatan otot, dan kemampuan koordinasi.
Di sisi lain, Keegan Crawford menyoroti penggunaan Yo-Yo Test sebagai perbaikan dari Beep Test. “Yo-Yo Test lebih cocok untuk meniru dinamika permainan basket, di mana atlet harus mengalokasikan energi secara efisien dan memiliki interval recovery,” katanya. Penggantian metode ini diharapkan mampu menghasilkan pemain yang lebih siap dalam kondisi nyata, bukan hanya dalam lingkungan latihan yang terstruktur.
Pelatihan DBL Camp 2026 juga mencakup pelatihan teknik, strategi, dan mental. Para peserta diberi kesempatan untuk berlatih di lapangan FIBA level 1, yang memiliki spesifikasi lengkap untuk menguji kemampuan mereka secara menyeluruh. Penggunaan teknologi mutakhir dalam pengukuran dan pelatihan ini memperlihatkan komitmen DBL untuk menciptakan program yang tidak kalah dengan yang ada di luar negeri.
Sebagai bagian dari pengembangan talenta, DBL Camp 2026 berperan penting dalam membentuk generasi atlet basket Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional. Program ini memperkuat koneksi antara kompetisi lokal dan kebutuhan pembinaan atlet yang lebih profesional. Dengan memadukan
