New Policy: Mentrans pastikan ada keterwakilan anak transmigran di TEP 2026
Mentrans pastikan ada keterwakilan anak transmigran di TEP 2026
New Policy – Jakarta, Selasa – Menteri Transmigrasi (Mentrans), M Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan bahwa calon peserta Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 akan memperhatikan representasi keturunan transmigran. Ia mengungkapkan bahwa dari 10.539 pendaftar, sebanyak 394 orang, atau sekitar 4 persen, berasal dari kalangan keturunan transmigran. Angka ini menunjukkan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memastikan adanya perwakilan dari kelompok tersebut dalam program tahunan ini.
Prioritas untuk Keturunan Transmigran
Menteri Iftitah menjelaskan bahwa keterwakilan keturunan transmigran bukanlah kebijakan yang sembarangan. Meski kelompok ini akan diberikan prioritas, seleksi tetap berdasarkan standar kualifikasi yang ketat. “Tidak hanya karena mereka keturunan transmigran, lalu pasti diterima. Pasti ada standarnya,” katanya dalam wawancara. Ia menekankan bahwa program ini bertujuan untuk memilih peserta yang paling layak secara akademik dan fisik, terlepas dari latar belakang mereka.
“Kalau misalkan dari semua anak transmigran (yang mendaftar) tidak ada sama sekali yang memenuhi syarat, maka nanti ada keterwakilan. Jadi, kami juga tetap memberikan kuota keterwakilan,” tambah Iftitah.
Ia menambahkan, jika seluruh 394 pendaftar keturunan transmigran memenuhi kriteria yang ditentukan, kuota mereka tidak akan dikurangi. “Justru itu adalah keberkahannya, justru mereka menjadi super prioritas (untuk diterima sebagai peserta TEP),” lanjutnya. Keputusan ini diambil sebagai upaya untuk menggali potensi generasi muda dari daerah transmigrasi dan mendorong partisipasi aktif mereka dalam pengembangan daerah.
Proses Seleksi oleh Kampus Mitra
Seleksi untuk menentukan 1.200 peserta TEP 2026 akan dijalankan oleh beberapa universitas mitra. Lembaga pendidikan yang terlibat termasuk Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Airlangga (Unair), IPB University, Universitas Brawijaya (Unibraw), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Proses ini melibatkan tiga tahap utama: administrasi, wawancara, serta pengecekan kesehatan.
Iftitah menyebutkan bahwa seleksi administrasi akan mengevaluasi dokumen dan data yang diserahkan oleh pendaftar, sementara wawancara bertujuan mengukur kemampuan komunikasi dan keinginan untuk berkontribusi. Pemeriksaan kesehatan dilakukan untuk memastikan peserta memiliki kondisi fisik yang memadai. Seluruh rangkaian seleksi dijadwalkan berlangsung hingga awal Juni 2026, dengan hasil akhir diperkirakan sebelum akhir bulan tersebut.
Menurut Iftitah, jumlah peserta yang lolos seleksi akan mencapai sekitar 1.200 orang. Namun, jika terdapat calon yang memiliki nilai yang sama, pihaknya akan memberikan kelebihan kepada peserta dengan latar belakang keluarga transmigran. “Karena mereka memiliki latar belakang yang lebih dekat dengan daerah transmigrasi, mereka akan menjadi pilihan utama dalam situasi seperti ini,” jelasnya.
Program Pelatihan dan Penugasan
Selanjutnya, peserta yang lolos seleksi akan mengikuti pelatihan di kampus mitra. Pelatihan ini mencakup empat aspek utama: program pengabdian masyarakat, pengenalan lingkungan tempat penugasan, serta keterampilan survival dan tanggap darurat. Aspek kedua dan ketiga dipilih karena keterwakilan keturunan transmigran diperkirakan akan lebih mengerti kondisi lokal dan mampu menghadapi situasi kritis yang mungkin terjadi.
Setelah selesai pelatihan, peserta akan ditugaskan ke 53 kawasan transmigrasi yang telah ditentukan. Jumlah total peserta TEP 2026 adalah 1.400 orang, yang terdiri dari 1.200 peserta yang lolos seleksi dan 200 kuota keterwakilan yang disiapkan sebagai cadangan. Iftitah menegaskan bahwa penugasan akan dilakukan secara terstruktur, dengan masing-masing peserta didampingi oleh ketua tim yang berpengalaman.
Menurut rencana, pembekalan terhadap peserta akan dilakukan sekitar akhir Juli 2026. “Sekitar akhir Juli itu juga, mungkin tanggal 31 Juli, nanti akan kami lepas ke 53 kawasan transmigrasi,” ujarnya. Pembekalan ini bertujuan memastikan peserta siap menghadapi tugas mereka, termasuk memahami kebutuhan masyarakat di lokasi penugasan serta keterampilan dasar dalam pemeliharaan lingkungan.
Program TEP 2026 diharapkan mampu menjadi wadah pengembangan diri bagi generasi muda transmigran, sekaligus menjembatani kesenjangan antara daerah asal dan daerah penempatan. Dengan adanya keterwakilan yang signifikan, Iftitah yakin program ini akan memberikan dampak positif terhadap perbaikan kualitas hidup masyarakat transmigran. “Keterwakilan ini bukan hanya simbol, tapi langkah konkret untuk memastikan mereka merasakan manfaat langsung dari kebijakan transmigrasi,” tuturnya.
Sebagai tambahan, Iftitah menyoroti pentingnya pendidikan dan pelatihan sebagai fondasi bagi keberhasilan program. Ia mengatakan bahwa setiap peserta akan memperoleh pengetahuan praktis tentang manfaat transmigrasi dan peran mereka dalam memperkuat keberlanjutan daerah penempatan. “Program ini juga berusaha menginspirasi anak muda untuk terlibat dalam proyek sosial yang berdampak jangka panjang,” imbuhnya.
Dengan adanya 394 peserta keturunan transmigran, Mentrans menargetkan peningkatan partisipasi generasi muda dalam kegiatan pengabdian. Angka ini merupakan refleksi dari upaya pemerintah untuk memperkuat keberagaman dalam program nasional. Iftitah menuturkan bahwa keberhasilan TEP 2026 tergantung pada kerja sama yang baik antara lembaga pendidikan, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Dalam rangka memastikan keberlanjutan program, Mentrans juga berencana memperluas jumlah kawasan transmigrasi yang ditugaskan. Ia menjelaskan bahwa ini dilakukan untuk mencakup lebih banyak daerah yang membutuhkan bantuan dari generasi muda. “Kami ingin memastikan bahwa setiap kawasan transmigrasi memiliki representasi peserta yang memadai, agar manfaat program bisa dirasakan secara merata,” tutur Iftitah. Penguatan ini juga diharapkan dapat mempercepat proses integrasi masyarakat transmigran dengan lingkungan sekitar.
Menyambut TEP
