Latest Program: RPB Desa Loleng siap pasok pakan murah peternak di Kaltim

IMG_2976

RPB Desa Loleng Hadirkan Solusi Pangan Murah untuk Peternak dan Nelayan Kaltim

Latest Program – Di Kabupaten Kutai Kartanegara, Rumah Produksi Bersama (RPB) Pakan Ternak Desa Loleng telah resmi beroperasi, siap menjamin pasokan bahan makanan berkualitas dengan harga terjangkau untuk masyarakat peternak dan pengusaha perikanan di Kalimantan Timur. Pendirian RPB ini diharapkan bisa mengurangi beban biaya produksi para pelaku usaha lokal sekaligus meningkatkan keberlanjutan rantai pasok pangan di wilayah tersebut.

Komitmen Gubernur Rudy Mas’ud untuk Ketahanan Pangan

Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, dalam acara peresmian RPB tersebut mengungkapkan bahwa keberadaan fasilitas ini memiliki misi strategis untuk memperkuat ketahanan pangan daerah serta mengangkat margin keuntungan sektor pertanian dan perikanan. Ia menekankan pentingnya pakan ternak yang murah dan berkualitas sebagai bagian dari upaya pengembangan industri pangan lokal. “Saya sangat berharap RPB ini bisa menjadi solusi penting dalam meningkatkan ketahanan pangan, terutama melalui penyediaan bahan makanan untuk ternak dan budidaya perikanan seperti pelet apung,” kata Rudy Mas’ud usai meresmikan RPB Pakan Ternak Desa Loleng di Kota Bangun.

“Dengan adanya RPB ini, kita bisa memastikan kebutuhan pakan tidak lagi bergantung pada impor. Ini adalah langkah konkret untuk membangun ekosistem pangan yang mandiri dan berkelanjutan,” ujar Rudy Mas’ud.

Efisiensi Produksi dengan Sistem Alternatif

Untuk memaksimalkan efisiensi operasional, RPB Desa Loleng mengadopsi sistem produksi berputar. Dalam dua minggu pertama, mesin-mesin di fasilitas ini difokuskan pada pembuatan pakan ternak, sementara dua minggu berikutnya dialihkan untuk memproduksi pakan ikan berbentuk pelet apung. Pola ini dirancang agar sumber daya bahan baku bisa dimanfaatkan secara optimal, sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk yang dihasilkan.

Rudy Mas’ud juga menjelaskan bahwa harga produk RPB ini ditargetkan lebih murah 20-30 persen dibandingkan produk sejenis yang dijual di pasar umum. “Komitmen kami adalah menawarkan pakan yang terjangkau tanpa mengorbankan kualitas. Ini akan memberi dampak langsung pada penghematan biaya produksi para peternak dan nelayan,” tambahnya.

Produksi Masih Berada di Tahap Awal

Secara aktual, tingkat produksi RPB Desa Loleng saat ini baru mencapai 10 persen dari kapasitas maksimalnya. Jumlah ini setara dengan 20 ton per bulan, sementara kapasitas penuh diperkirakan mencapai 200 ton. Meski masih dalam tahap awal, pemerintah daerah menjamin akan terus memantau proses produksi dan menyesuaikan strategi operasional sesuai kebutuhan pasar.

“Jika serapan pasar meningkat signifikan dan produksi bisa ditingkatkan, kami akan segera menambah unit mesin baru di RPB ini,” tutur Rudy Mas’ud. Target pengembangan ini dirancang untuk mempercepat proses industrialisasi pangan di tingkat desa, sekaligus menciptakan peluang kerja baru bagi warga sekitar.

Investasi dan Lokasi Strategis

Proyek RPB Desa Loleng didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kaltim Tahun Anggaran 2025, dengan total investasi sebesar Rp8,3 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk dua sektor utama, yaitu pembangunan fisik gedung sebesar Rp6,2 miliar, serta pembelian alat dan mesin seharga Rp2,1 miliar. Lokasi pabrik ini di atas lahan seluas 10.566 meter persegi, yang dianggap sangat strategis karena memiliki aksesibilitas tinggi terhadap bahan baku lokal.

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Kaltim, melalui Kepala Dinas Heni Purwaningsih, menambahkan bahwa pilihan Desa Loleng sebagai lokasi RPB berdasarkan ketersediaan bahan baku yang melimpah di sekitarnya. “Kami memanfaatkan sumber daya lokal seperti jagung, bungkil sawit, Crude Palm Oil (CPO), tepung ikan, dan tepung kepala udang untuk memproduksi pakan berkualitas tinggi,” jelas Heni Purwaningsih.

“Dengan pendekatan ini, kita bisa mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor sekaligus memperkuat keberlanjutan ekonomi daerah,” ujar Heni Purwaningsih.

Dukungan untuk Program Nasional Makan Bergizi Gratis

Kehadiran RPB Desa Loleng juga diproyeksikan bisa mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu inisiatif strategis pemerintah nasional. Dengan biaya produksi yang lebih rendah, produktivitas daging ayam dan ikan di Kaltim diharapkan meningkat, sehingga pasokan bahan baku protein bisa lebih stabil dan terjangkau. Hasil panen yang melimpah nantinya akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan program MBG di Kalimantan Timur.

Rudy Mas’ud menegaskan bahwa RPB ini menjadi wadah pengembangan industri pangan yang berdampak luas. “Dengan bahan baku lokal yang dimanfaatkan secara efisien, kita bisa memastikan produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas tanpa mengorbankan keekonomian masyarakat,” tutur gubernur dalam pidatonya.

Potensi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Kehadiran RPB Desa Loleng diperkirakan tidak hanya memberi manfaat ekonomi langsung kepada peternak dan nelayan, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Heni Purwaningsih menambahkan bahwa fasilitas ini akan mendorong percepatan industrialisasi di tingkat daerah, sekaligus menciptakan rantai pasok yang lebih solid.

“Kami yakin RPB ini akan menjadi tulang punggung pengembangan ekonomi lokal. Selain itu, penggunaan bahan baku lokal juga membantu mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat,” jelas Heni Purwaningsih.

Menurut Rudy Mas’ud, keberhasilan RPB ini bergantung pada kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat sekitar. “Kami akan terus berkoordinasi agar RPB bisa berjalan optimal dan memberi dampak positif dalam jangka panjang,” pungkasnya. D