Key Strategy: DJPb: Neraca dagang internasional di Kalsel surplus Rp16,48 triliun
DJPb: Neraca Dagang Kalsel Tercatat Surplus Rp16,48 Triliun
Key Strategy – Banjarmasin, Kamis – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kalimantan Selatan (DJPb Kalsel) melaporkan bahwa neraca perdagangan internasional provinsi tersebut menunjukkan kelebihan mencapai sekitar Rp16,48 triliun hingga Mei 2026. Angka ini didorong oleh peningkatan ekspor yang tetap mengalami pertumbuhan signifikan dan stabil selama awal tahun. Kinerja sektor eksternal Kalsel dinilai masih kuat meski menghadapi dinamika yang berubah di pasar global.
Kinerja Ekspor dan Impor
Kepala Kantor Wilayah DJPb Kalsel, Catur Ariyanto Widodo, mengungkapkan bahwa surplus perdagangan pada Mei 2026 tumbuh 6,19 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini juga melampaui angka April 2026 dengan kenaikan 14,45 persen. Capaian tersebut mencerminkan kegiatan perdagangan luar negeri yang tetap dinamis sepanjang awal tahun.
“Surplus perdagangan pada Mei 2026 mencerminkan perdagangan internasional Kalimantan Selatan yang terus berkembang,” ujar Catur Ariyanto Widodo.
Sementara itu, ekspor Kalimantan Selatan mencatatkan total sekitar Rp19,81 triliun, naik 7,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini dominan didorong oleh volume pengiriman batu bara yang menjadi komoditas utama daerah. Batu bara menyumbang lebih dari 50 persen dari total ekspor, menunjukkan peran strategisnya dalam perekonomian provinsi.
Di sisi lain, impor Kalimantan Selatan juga mengalami kenaikan 16,1 persen secara tahunan. Namun, nilai impor hanya mencapai Rp3,33 triliun. Kenaikan impor terutama berasal dari permintaan tinggi terhadap minyak petroleum untuk memenuhi kebutuhan industri dan aktivitas ekonomi lokal.
Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Sejalan dengan dinamika perdagangan yang positif, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan I 2026 mencapai 5,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi daerah tetap berjalan stabil dan mampu mempertahankan momentum yang terbentuk sejak awal tahun.
“Pertumbuhan ekonomi yang stabil mengindikasikan Kalsel masih mampu menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi meski ada tekanan dari lingkungan global,” kata Catur.
Menurut Catur, kombinasi surplus perdagangan yang kuat dan pertumbuhan ekonomi positif menjadi fondasi penting untuk mendorong kinerja perekonomian daerah. Hal ini juga didukung oleh konsolidasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang hingga akhir Mei 2026 mencatat surplus sebesar Rp984,86 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa ruang fiskal daerah masih terjaga, memberikan kepastian untuk mendanai berbagai program pembangunan.
Perspektif Kebijakan dan Prospek
DJPb Kalsel menyebutkan bahwa surplus APBD menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pengelolaan keuangan daerah. Peningkatan ini menunjukkan efisiensi pengeluaran dan penerimaan pajak yang optimal, serta kemampuan daerah dalam mengelola dana untuk mendukung pembangunan jangka panjang.
“Surplus APBD dan surplus perdagangan membentuk fondasi kuat bagi Kalimantan Selatan untuk memperkuat kinerja ekonomi hingga akhir tahun,” imbuh Catur.
Di tengah situasi ekonomi global yang berfluktuasi, Kalsel berhasil menjaga kinerja eksternal yang sehat. Hal ini menunjukkan adaptasi yang baik dari sektor ekonomi daerah terhadap perubahan kondisi pasar. Peningkatan ekspor dan impor juga menjadi indikator bahwa integrasi ekonomi dengan pihak luar masih berjalan efektif.
Kinerja perdagangan yang positif berdampak signifikan pada pendapatan daerah. Surplus neraca dagang menciptakan aliran dana yang berkelanjutan, sehingga memperkuat daya tahan fiskal provinsi. Dengan nilai surplus mencapai Rp16,48 triliun, Kalsel mampu memastikan bahwa pendapatan dari sektor eksternal tetap menjadi penopang utama pembangunan.
Kontribusi Batu Bara dan Perkembangan Industri
Batu bara tetap menjadi komoditas unggulan Kalimantan Selatan, mengingat kontribusinya yang dominan terhadap ekspor. Peningkatan volume pengiriman komoditas ini menggambarkan peningkatan kapasitas produksi dan akses ke pasar internasional. Selain itu, sektor industri lokal juga menunjukkan keberhasilan dalam menyerap kebutuhan bahan baku dari luar negeri, terutama minyak petroleum.
Ekspansi sektor industri dan pertanian menjadi faktor pendukung utama surplus perdagangan. Kinerja industri yang stabil, serta ketersediaan komoditas pertanian seperti karet, kelapa sawit, dan bahan mentah lainnya, membantu meningkatkan daya saing produk lokal. Selain itu, aktivitas pariwisata dan perdagangan jasa juga berkontribusi pada pendapatan daerah.
Strategi Pemulihan dan Pertumbuhan
Kinerja ekonomi Kalsel yang positif mencerminkan strategi yang berhasil dijalankan pemerintah daerah. Fokus pada pengembangan sektor primer, seperti pertambangan dan perkebunan, serta diversifikasi sektor sekunder dan tersier, membantu menjaga stabilitas perekonomian. Dengan surplus APBD dan neraca dagang yang terjaga, Kalimantan Selatan diberi peluang untuk mengakselerasi investasi dan proyek infrastruktur.
Catur Ariyanto Widodo menegaskan bahwa surplus ini menjadi momentum penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026. Ia berharap kinerja yang positif ini dapat dijaga dengan baik, sehingga Kalimantan Selatan tetap menjadi provinsi yang memiliki daya tahan ekonomi tinggi. Konsistensi dalam pengelolaan keuangan dan kebijakan perdagangan akan menjadi kunci utama keberhasilan perekonomian daerah di masa depan.
