Key Discussion: Kemendag rangkum potensi transaksi 135 juta dolar AS dari “business matching “
Kemendag Rangkum Potensi Transaksi 135 Juta Dolar AS dari “Business Matching”
Key Discussion – Jakarta, Minggu – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan bahwa kegiatan pitching dan business matching secara daring selama 2025 telah menciptakan peluang transaksi dan penjualan ekspor hampir 135 juta dolar Amerika Serikat (USD). Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag, Ari Satria, menyebutkan bahwa penggunaan platform digital menjadi strategi utama untuk membuka akses pasar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Kita sering mengadakan kegiatan secara online, di mana para pelaku UMKM memperkenalkan produk mereka kepada perwakilan perdagangan di luar negeri, lalu kita evaluasi apakah barang tersebut sudah memenuhi standar negara tujuan,” jelas Ari dalam diskusi di Jakarta Kreatif Festival.
Pertemuan Digital untuk Meningkatkan Kesiapan Produk
Ari menjelaskan bahwa Kemendag memiliki 46 perwakilan perdagangan yang tersebar di 33 negara. Perwakilan-perwakilan ini tidak hanya memberikan masukan mengenai kesiapan produk, tetapi juga memfasilitasi pertemuan antara pelaku UMKM dengan calon pembeli internasional melalui business matching. “Perwakilan-perwakilan tersebut akan membimbing proses, misalnya menyarankan sertifikasi tambahan seperti A atau B. Setelah semua persyaratan lengkap, kita lakukan business matching dengan pembeli yang potensial,” ujarnya.
“Kita mempertemukan pelaku UMKM secara online lagi dengan para pembeli yang memang bernilai tinggi,” kata Ari.
Sepanjang 2025, Kemendag telah menyelenggarakan 662 kegiatan pitching dan business matching secara daring. Hasilnya, program ini berhasil menghasilkan potensi transaksi sebesar hampir 135 juta USD atau sekitar Rp2,4 triliun. Hingga periode Januari-April tahun ini, nilai transaksi yang tercapai mencapai sekitar 107,34 juta USD (Rp1,9 triliun). Ari menyatakan bahwa pencapaian tersebut membuktikan bahwa promosi digital dapat menjadi alternatif efektif untuk membuka pasar ekspor, tanpa harus bergantung pada pameran dagang fisik di luar negeri.
Program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor
Business matching menjadi bagian dari program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) yang diinisiasi Kemendag sejak Januari 2025. Program ini dirancang untuk membantu UMKM yang terbatas dalam anggaran promosi tetap dapat memperluas jangkauan pasar internasional. Ari mengungkapkan bahwa kegiatan online ini memudahkan pelaku usaha dalam berkomunikasi langsung dengan pembeli potensial, sehingga mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi.
Menurut Ari, business matching tidak hanya memfasilitasi pertemuan, tetapi juga membantu UMKM memahami kebutuhan pasar global. “Dengan metode ini, pelaku usaha bisa menyesuaikan produk mereka sesuai dengan preferensi pembeli luar negeri,” terang Ari. Ia menambahkan bahwa program ini juga menjadi sarana untuk memperkuat kompetensi UMKM dalam memasuki jalur ekspor. “Kita tidak hanya membantu mereka mengenalkan produk, tetapi juga memastikan kesiapan berbagai aspek seperti sertifikasi, kemasan, dan kualitas,” jelasnya.
Strategi Digital untuk Mengakses Pasar Global
Ari menekankan bahwa pemanfaatan teknologi digital menjadi kunci utama dalam menjangkau pasar internasional. “Dengan platform online, UMKM dapat berinteraksi langsung dengan pembeli dari berbagai negara, bahkan yang terletak di lokasi jauh,” katanya. Dalam konteks ini, business matching bertindak sebagai jembatan antara produsen dan konsumen global, mengurangi hambatan tradisional yang sering menghalangi pertumbuhan ekspor.
Program UMKM BISA Ekspor juga memberikan pelatihan dan bimbingan terstruktur kepada pelaku usaha. Ari menyebutkan bahwa selain business matching, Kemendag menyediakan fasilitas seperti pendaftaran, konsultasi, dan pendampingan teknis untuk memastikan produk dapat dipasarkan secara efektif. “Seluruh proses diatur agar UMKM tidak merasa kewalahan, karena mereka bisa memulai dari langkah-langkah kecil seperti memahami standar negara tujuan,” ujarnya.
“Kita bertujuan memperkuat kepercayaan para pembeli internasional terhadap kualitas produk UMKM, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas,” tambah Ari.
Dalam beberapa bulan pertama pelaksanaan program, hasilnya cukup signifikan. Pada Januari-April 2025, nilai transaksi yang tercapai telah mencapai sekitar 107,34 juta USD. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang baik, terutama dibandingkan dengan metode tradisional yang biasanya memakan waktu dan biaya lebih tinggi. Ari menyoroti bahwa kegiatan online ini memungkinkan UMKM dari berbagai daerah ikut serta dalam perluasan pasar, tanpa terbatas oleh lokasi geografis.
Menurut Ari, digitalisasi proses ekspor bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang perubahan mindset pelaku usaha. “UMKM harus siap adaptasi, baik dalam bentuk produk maupun cara promosi,” katanya. Ia menambahkan bahwa program ini juga memperkuat hubungan antara Kemendag dengan pihak-pihak terkait, seperti perusahaan asuransi, konsulat dagang, dan lembaga pendidikan. “Kolaborasi ini sangat penting untuk menjamin kelancaran proses ekspor dan meminimalkan risiko,” ujarnya.
Adapun, potensi transaksi hingga akhir tahun 2025 diperkirakan akan terus meningkat. Ari yakin bahwa dengan terus mendorong penggunaan platform digital, Kemendag dapat mempercepat pertumbuhan ekspor Indonesia. “Kita ingin UMKM tidak hanya berpartisipasi, tetapi juga menjadi bagian dari rantai nilai global,” pungkas Ari. Ia berharap program ini menjadi pemicu perubahan dalam pola kerja UMKM, sehingga mereka lebih siap menghadapi tantangan dan peluang pasar internasional.
Tantangan dan Peluang di Tengah Globalisasi
Kemendag juga menyadari bahwa tantangan utama dalam proses ekspor adalah ketidaksempurnaan produk dan kurangnya pemahaman tentang standar luar negeri. Ari menjelaskan bahwa business matching bertujuan mengatasi masalah ini dengan cara memberikan masukan langsung dari perwakilan perdagangan di berbagai negara. “Dengan begitu, UMKM bisa memahami apa yang dibutuhkan pasar dan bagaimana menyesuaikan produknya,” katanya.
Program ini juga memperkenalkan inovasi dalam metode promosi. Ari menyoroti bahwa UMKM kini memiliki akses lebih mudah untuk memperkenalkan produk mereka kepada pembeli internasional, terutama melalui media sosial dan platform e-commerce. “Dengan cara ini, UMKM bisa menjangkau konsumen dari berbagai belahan dunia,” ujarnya. Selain itu, kegiatan online ini mengurangi risiko seperti biaya perjalanan dan waktu yang dihabiskan untuk menghadiri pameran fisik.
Ari menambahkan bahwa Kemendag terus memperluas jaringan perwakilan perdagangan di luar negeri untuk memastikan program ini mencapai tujuannya. “Kita ingin setiap UMKM memiliki peluang yang sama untuk berpartisipasi dalam pasar global,” katanya. Ia juga menekankan bahwa business matching bukan sekadar pertemuan, tetapi proses yang terstruktur dan didukung oleh berbagai fasilitas pemerintah.
